Soal Poligami Hari Ini, eh Poligami atau Poligini?

Soal Poligami Hari Ini, eh Poligami atau Poligini?

Ilustrasi perempuan (Rajnlove via Pixabay)

Ceritanya saya habis berdebat gara-gara dianggap membela pandangan Grace Natalie soal poligami. Eh, poligami atau poligini?

Sebelum debat, saya sempat baca pidato ketua umum PSI tersebut dan tidak menemukan adanya indikasi untuk mengkriminalisasi pelaku poligini. Maksudnya, mereka yang berpoligini akan dipenjara, padahal yang ada usaha pengetatan.

Selama ini sudah ada larangan poligini bagi PNS, yang kemudian diwacanakan agar juga berlaku bagi pejabat publik, mulai dari anggota DPR sampai pemerintah daerah.

Ribut-ribut soal poligini ini kembali mengingatkan kita tentang relasi perempuan dan laki-laki yang timpang. Kok yang boleh punya pasangan banyak cuma laki-laki? Lantas, seorang teman turut membahas tentang apa itu poliamori.

Baca juga: “Ciyee… Bangga Banget Bisa Poligami”

Apa yang membuat poligini (dalam Islam) dan poliamori berbeda? Dalam hubungan poligini yang boleh melakukan hubungan lebih dari satu partner hanya pihak laki-laki. Sedangkan poliamori, baik pihak perempuan dan laki-laki, berhak berhubungan dengan lebih dari satu orang.

Lho, kalau dalam poligini, perempuannya merasa bahwa ia memang ingin dan rela untuk dimadu, mengapa dianggap salah? Tentu tidak dianggap salah. Tapi, dalam pandangan relasi kuasa, satu pihak yang mendominasi, sehingga relasinya tidak setara. Satu pihak tidak memberikan alternatif pilihan untuk menjalin relasi lebih dari satu partner.

Dalam poliamori, laki-laki tidak perlu menggunakan ayat suci atau iming-iming pahala untuk memulai hubungan dengan lebih dari satu perempuan. Dan, pihak perempuan yang hendak memiliki hubungan lebih dari satu laki-laki tidak akan disebut jalang, sundal, atau diancam dosa hanya karena bisa memiliki banyak lelaki.

Baca juga: Untuk Kamu, Kamu, yang Suka Bicara soal Standar Calon Istri

Ini saya kira bukan soal “kalau zina dengan banyak orang dianggap urusan pribadi, kalau mau ibadah dengan banyak istri kok dihujat”.

Pada praktiknya, tafsir terhadap teks tak pernah monolitik. Tentang poligini, ayat dalam kitab suci tidak berhenti pada izin menikahi empat orang, tapi pada sikap adil. Jika tak bisa, satu saja.

Seperti yang disebutkan dalam surat An-Nisa: Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. Selama ini, banyak orang yang hanya selesai pada boleh menikahi empat istri, tapi tidak pada pernyataan bahwa kita mustahil adil.

Mutilasi teks, penanaman nilai, dan pengebirian makna hanya akan berujung pada represi satu pihak. Sikap adil sangat sulit dicapai, bagi saya, sebab siapapun yang mengklaim diri adil adalah orang yang sombong.

Baca juga: Semoga Kahiyang Nggak Kaget dari Pelaminan ke UU Perkawinan

Adil itu berlaku pada setiap gender, bukan hanya dinikmati oleh satu pihak saja. Lagipula, seperti yang diketahui, praktik poligini bukan merupakan tradisi Islam. Sebelum Islam ada, poligami sudah ada.

Dr Muhammad Fu’ad al-Hasyimi dalam bukunya Religions on The Scales menyebutkan bahwa gereja mengenal praktik poligami sampai abad ke-17. Saat Ghailan ats-Tsaqafi masuk Islam, ia memiliki 10 istri. Nabi kemudian meminta ia memilih empat saja dari golongan istrinya.

Sebelum Nabi Muhammad, beberapa nabi juga melakukan poligini. Misalnya, Nabi Ibrahim. Ia telah memiliki beberapa istri, di antaranya Sarah yang melahirkan Ishaq dan Hajar yang melahirkan Ismail. Nabi Yakub dalam tradisi Yahudi memiliki istri Liya dan Rahil yang merupakan kakak-adik, sebelum kemudian Nabi Muhammad melarang.

Konon, saat itu ada yang berkata bahwa poligami bisa mengurangi angka perceraian. Ini tentu sebuah klaim yang aduhai. Melalui Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Nasyarudin Umar, menolak klaim tersebut.

Artikel populer: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Poligami justru merupakan biang kerok perceraian di Indonesia. Data yang ada menunjukkan bahwa poligami justru menjadi salah satu penyebab utama perceraian.

Menurut catatan dari Pengadilan Agama di seluruh Indonesia, pada 2004, terjadi 813 perceraian akibat poligami. Pada 2005, angka itu naik menjadi 879 dan pada 2006 melonjak menjadi 983. Poligami juga menyebabkan terlantarnya perempuan dan anak-anak.

Syarat izin istri yang harus diperoleh seorang pria untuk berpoligami seperti yang diatur dalam UU Perkawinan, kata Nasyaruddin, dimaksudkan untuk menghindari dampak buruk akibat poligami.

Bagi saya, ada yang aneh dari obsesi kita terhadap poligini. Saya percaya bahwa pernikahan bukan cuma soal legalitas senggama, tapi juga bagaimana menjalani bersama.

Kalau kata Tolstoy, “What counts in making a happy marriage is not so much how compatible you are but how you deal with incompatibility.” Yang penting bukanlah seberapa cocok Anda, tetapi bagaimana Anda menghadapi ketidakcocokan.

Lha, ini mau punya istri empat, gimana nyocokin lima orang, coba? Emang Tinder?!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.