Soal Kelakuan Aneh Penumpang MRT, Tolong, Jangan Dipermalukan di Media Sosial

Soal Kelakuan Aneh Penumpang MRT, Tolong, Jangan Dipermalukan di Media Sosial

MRT Jakarta (jakartamrt.co.id)

Kita sudah terlanjur menjadi budak likes dan retweet, begitulah yang saya pahami dari ribut-ribut soal kelakuan penumpang mass rapid transit (MRT) Jakarta beberapa hari silam. Alih-alih menegur langsung, sebagian orang memilih mengunggahnya di media sosial, kemudian membiarkan masyarakat menjadi hakim sekaligus eksekutor.

Memang harus diakui bahwa menggunakan gantungan kereta sebagai medium untuk bergelantungan sangat tidak etis. Apalagi, meninggalkan sampah kertas dan plastik di kursi kereta. Namun, itu bukan berarti bisa menjadi pembenaran untuk mem-posting kelakuan aneh mereka di media sosial.

Mari apungkan sebuah pertanyaan di kepala kita. Jika kemudian posting-an tersebut viral, memang apa yang kelak akan berubah?

Renungan ini tak muncul begitu saja. Ketika memikirkan reaksi masyarakat terhadap perilaku beberapa pengguna MRT Jakarta, ingatan menuntun saya kembali ke tahun 2014. Tepatnya di Singapura, saya menemukan sebuah poster yang tak disangka mengganggu pikiran saya sampai hari ini.

Baca juga: Dua Sisi Ghibah Berjamaah di Media Sosial

Di poster tersebut, seseorang yang tertidur di transportasi umum menguasai hampir seluruh bagian poster. Di pinggir kanan bawahnya, ada sebuah tulisan yang kurang lebih begini, “Anda bisa bangunkan orang ini dan menegurnya, atau mempermalukannya di media sosial. Pilihlah yang bijak.”

Poster tersebut kemudian menyadarkan satu hal. Harus diakui bahwa media sosial merupakan tools dengan daya jangkau yang luar biasa. Ia bisa menjangkau sebuah tempat yang begitu asing di telinga kita. Namun, media sosial juga bisa membangun ilusi seakan kita tengah melakukan perubahan besar.

Bayangkan saja begini. Suatu waktu, kamu tengah berselancar di media sosial demi membunuh kejenuhan. Kemudian, kamu melihat ada posting-an yang viral, dimana ada kamu sedang melakukan tindakan yang tidak tepat. Orang yang mem-posting ini tak kamu kenal dan tak pernah menegur kamu secara langsung.

Baca juga: Kelahi di Internet Memang Paling Enak

Kemudian, kamu melihat orang-orang mengomentari tindakan kamu itu dengan bahasa yang kasar. Kamu hanya punya dua pilihan. Membuat postingan tandingan atau mendiamkannya saja. Jika memilih yang pertama, bisa saja kamu juga mendapatkan atensi lebih. Lantas, apakah hal tersebut menjadi jaminan bahwa akan ada perubahan besar? Belum tentu.

Perlu diingat, engagement besar di media sosial bukan berarti berujung pada aksi yang besar juga di dunia nyata. Terlebih, itu adalah pesan yang disampaikan dengan cara tak elok, seperti menggurui atau mencaci-maki.

Menjadi masalah ketika banyak orang yang tak menyadari itu. Padahal, ada langkah yang sederhana ketika kita menemukan kesalahan. Seperti di awal tadi, menegur langsung merupakan langkah tepat. Sebab, ada hal-hal dari pertemuan langsung yang tak bisa digantikan dari media sosial.

Ketika bertemu langsung, kita bisa melihat mimik wajah lawan bicara, mendengar intonasi bicaranya, hingga melihat bahasa tubuhnya. Dari situ, kita merasakan bagaimana emosi lawan bicara ketika berkomunikasi dengan kita.

Baca juga: Baik dan Santun di Dunia Nyata, tapi Jahat di Dunia Maya

Bisa saja kemudian kita menyadari bahwa, terlepas kenal atau tidak, lawan bicara kita ternyata orang yang peduli. Dengan begitu, kesempatan kita untuk mengubah atau diubah lawan bicara ke arah yang lebih baik menjadi besar. Percakapan di dunia nyata juga membuat kita lebih berhati-hati dalam bertutur kata.

Sementara, ketika membaca teks di media sosial, kita menggunakan isi kepala untuk membayangkan segala aspek tersebut. Dan, penilaian kita terhadap orang lain bisa saja salah. Jika mood kamu sedang jelek, kamu bisa membayangkan lawan bicara tengah marah.

Dengan demikian, kamu bisa saja gagal menangkap maksud baik lawan bicara. Apalagi, karakteristik anonim internet yang bisa membuat kamu bicara apa saja tanpa memikirkan konsekuensinya kepada lawan bicara dan kamu sendiri.

Ya, terlihat jelas kan perbedaannya? Sebagai makhluk yang juga memiliki media sosial, saya pun harus mengakui bahwa ada perasaan menyenangkan ketika mendapatkan likes. The Telegraph bahkan pernah merilis riset bahwa bagian sosial dalam otak kita aktif bekerja ketika mendapatkan likes di media sosial.

Artikel populer: Tim Syahrini atau Luna Maya? Tidak Keduanya

Namun, likes dan retweet juga bisa menjadi candu, dan dari situlah perasaan mahabenar merasuki seseorang. Ketika melihat ada kesalahan, kita buru-buru mengambil ponsel, memotretnya tanpa permisi, dan bikin caption dengan amarah berapi-api.

Kemudian, kita lupa bahwa sebenarnya cuma ingin sesuatu yang sederhana: Bukan likes dan retweet, melainkan dampak positif terhadap kehidupan orang lain. Sebab dalam lubuk hati, kita sadar bahwa mengubah dunia merupakan misi yang hampir mustahil bagi seorang manusia.

Yang bisa kita lakukan adalah melakukan perubahan kecil dan berharap perubahan tersebut menular kepada orang lain. Jadi, kalau ada orang yang menurut kamu bertindak aneh-aneh di dalam MRT atau transportasi umum lainnya, tolong, jangan dipermalukan di media sosial, ya?

1 COMMENT

  1. Ya saya sepakat, walau kadang ketika kita mengingatkan/menegur orang yang berperilaku kurang tepat di sarana umum, bisa jadi malah galakan dia (tipikal orang Indonesia khususnya di kota besar seperti Jakarta). Ya tidak apa-apalah, darisitu akhirnya saya juga belajar (komunikasi praktis) bagaimana cara menegur orang yang efektif, tanpa membuat orang yang ditegur tersinggung.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.