Ilustrasi pekerja. (Photo by Mimi Thian on Unsplash)

Tiap kali menstruasi, tanpa kram dan rasa nyeri berlebihan serta masih bisa bekerja seperti biasa, saya dianggap beruntung oleh beberapa teman perempuan. Jika yang dimaksud bahwa keberuntungan itu adalah tak perlu berurusan dengan drama saat pengajuan cuti menstruasi, ya, memang beruntung.

Lagi pula, bisa mengusahakan menstruasi tanpa kram dan rasa nyeri berlebihan dengan menjaga pola makan, jam tidur, mengelola stres, dan konsumsi obat pereda nyeri adalah privilese bagi perempuan.

Ngomong-ngomong soal cuti menstruasi, perusahaan wajib menyediakan cuti menstruasi bagi pekerja perempuan. Kewajiban itu diatur dalam UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. UU tersebut menjelaskan tentang hak cuti selama menstruasi dimiliki pekerja perempuan setiap bulannya selama satu sampai dua hari.

Namun, masalah mulai muncul di pasal 81 ayat 1: “Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.”

Menjelaskan bahwa dirinya mengalami pusing dan nyeri yang hebat karena kontraksi otot-otot rahim yang kuat saat menstruasi kepada superior di pekerjaan bukanlah urusan sepele bagi pekerja perempuan. Tak jarang malah harus terlibat drama yang tak perlu dan bikin frustrasi. “Harus gimana jelasinnya ke bos gue? Laki mana paham dysmenorrhea?” kata seorang teman yang berkantor di Jakarta.

Baca juga: Sebut Saja Menstruasi, Kenapa Merasa Risih?

Dia lebih memilih menahan rasa sakit saat bekerja ketimbang harus menjelaskan banyak hal untuk mendapatkan cuti satu sampai dua hari saja. “Nggak worth it banget gue ribut soal beginian,” ucapnya.

Bahkan pada pekerjaan tertentu, pekerja perempuan di pabrik misalnya, mengeluh sakit saat menstruasi sering kali dianggap sebagai usaha untuk mangkir dari pekerjaan. Padahal, supervisor atau mandor yang menjadi pihak superior juga sesama perempuan.

Jika menengok ke belakang, di masa-masa masih sekolah – saat ada absen untuk melakukan sholat berjamaah – siswi yang beralasan menstruasi sering diminta membuktikannya dengan cara cek pembalut yang dilakukan oleh sesama siswi (dari divisi rohis). Kekonyolan dan kurangnya sensitivitas semacam ini justru diprakarsai oleh guru perempuan.

Stereotip negatif juga muncul dalam berbagai kesempatan di lingkungan kantor. “Supervisor sebelah kayaknya lagi mens, marah-marah dari pagi,” ujar seorang office boy. Padahal, supervisor itu bisa saja sedang ada jadwal evaluasi kinerja tim dan kebetulan hasilnya buruk.

Baca juga: Kenapa Harus Malu ketika Sedang Menstruasi?

Atau, stigma yang mengaitkan persoalan menstruasi dengan produktivitas kerja yang menurun. “Kalau bisa jumlah kandidat laki-laki lebih banyak, Mbak. Posisi ini riskan dan kurang efisien, jika dipegang perempuan (karena menstruasi dan hamil),” pinta klien.

Satu kata yang menjadi top of mind saat menyebut menstruasi adalah “malu”. Stigma, prasangka, penghakiman, stereotip, atau apapun yang muncul akibat kultur patriarki di lingkungan pekerjaan, yang membuat pekerja perempuan cenderung mengurungkan niat menuntut haknya saat menstruasi, adalah persoalan pertama saat ini. Apalagi, jika superior di pekerjaan atau pihak yang berwenang memberikan izin cuti menstruasi berbeda jenis kelamin, seperti pengalaman teman saya tadi. Drama banget, cyiiin.

Persoalan kedua adalah anggapan bahwa perempuan yang sedang menstruasi sulit untuk tetap produktif, sehingga bisa merugikan perusahaan. Anggapan seperti ini tidak hanya ada di Indonesia, Rachel Levitt dan Jessica Barnack-Tavlaris (2020) menjelaskan bahwa di China, pekerja perempuan enggan memakai hak cuti menstruasi karena ada stereotip bahwa perempuan lemah dan tidak produktif.

Baca juga: Pengalaman Pertama Pakai Menstrual Cup, Melawan Stigma Bikin Kendor Vagina

Perempuan membutuhkan support system ketika menstruasi, terutama di lingkungan pekerjaan. Sebab pekerja perempuan adalah aset, bukan beban.

Lara Owen, peneliti di Monash Business School, mengatakan bahwa idealnya pekerja perempuan yang menstruasi diberi keleluasaan di tempatnya bekerja. Keleluasaan yang dimaksud adalah bekerja dari rumah, jam kerja yang fleksibel, ruangan yang tenang di tempat kerja, menyediakan kompres panas untuk meredakan nyeri, dan diberi pilihan untuk bisa melepaskan beban kerja tertentu.

Dalam risetnya, Lara Owen juga menemukan bahwa pekerja perempuan yang diberi keleluasaan untuk membicarakan menstruasi mengalami peningkatan self-esteem dan rasa percaya diri.

Di sisi lain, keterbukaan mengenai pengalaman menstruasi di lingkungan pekerjaan juga akan berpengaruh positif kepada pekerja laki-laki. Secara langsung atau tidak, mengambil cuti menstruasi akan berdampak pada rekan kerja. Beban pekerjaan didistribusikan, rotasi pekerjaan, dan membuat perencanaan (ulang) jadwal kerja adalah contoh kompromi yang harus dilakukan.

Artikel populer: Bacaan untuk Laki-laki yang Beli Pembalut

Memahami situasi dan kondisi rekan kerja yang sedang menstruasi bukan hanya meningkatkan kekompakan tim, tapi juga membuat pekerja laki-laki lebih perhatian dengan kondisi kesehatannya sendiri. Habitus tersebut bisa meningkatkan kualitas hidup dan tentu saja produktivitas di pekerjaan.

Keterbukaan mengenai rasa sakit dan ketidaknyamanan saat menstruasi di kalangan sesama pekerja, baik laki-laki maupun perempuan, secara tak langsung bisa meredam maskulinitas toksik akibat kultur patriarki yang memberi label tak masuk akal soal maskulinitas dan feminitas.

Karena itu, saat pekerja perempuan mengajukan cuti menstruasi sebagai bagian dari haknya, tolong jangan dipersulit dengan drama-drama yang tak perlu ya Pak, Bu? Apalagi, menganggap menstruasi sebagai kelemahan atau beban, itu sudah tidak relevan dengan zaman alias… kuno!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini