Fast & Furious 9. (Universal Pictures)

Belakangan, beredar meme Vin Diesel sebagai Dominic Toretto di saga Fast & Furious tentang keluarga. Contohnya, Dom yang bisa terbang menaiki mobil ke luar angkasa karena dia memiliki keluarga, walaupun tak ada logika. Atau, Dom bisa mengalahkan musuh-musuh dari waralaba film lain seperti Thanos dan T-Rex, karena dibekingi kekuatan keluarga alias ‘the power of family‘.

Namun, tidak semua orang seberuntung Dom yang memiliki keluarga suportif sampai mampu melakukan tindakan mustahil. Referensi sebaliknya terkait keluarga adalah film Ali & Ratu Ratu Queens. Iqbaal Ramadhan sebagai Ali adalah anak yang ditinggalkan oleh ibunya mengejar American Dream.

Ketika Ali dewasa dan menyusul ke Negeri Paman Sam, ibunya justru menyuruhnya balik ke Indonesia. Sebab sang ibu telah memiliki keluarga baru. Kehadiran Ali dianggap bisa mengancam kehidupan barunya tersebut.

Baca juga: Seandainya Fast & Furious adalah Sinetron Indonesia

Untunglah, makna keluarga tak melulu tentang hubungan sedarah. Ali menemukan makna keluarga dari Ratu Ratu Queens yang notabene masih setumpah darah. Dibandingkan Fast & Furious, film Ali & Ratu Ratu Queens memang lebih realistis menggambarkan kehidupan berkeluarga yang bisa saja tak sesempurna di buku paket Bahasa Indonesia.

Selain ceramah tentang keluarga yang digunakan secara berlebihan (overused), Fast & Furious juga bermasalah dengan konsekuensi dari rentetan aksi dalam cerita. Bagaimana bisa manusia biasa seperti Dom tidak terluka sedikit pun setelah melalui rentetan tabrakan dan kecelakaan lainnya? Dibandingkan adegan balapan tak masuk akal di waralaba ini, insiden di film Unhinged adalah yang paling mungkin dialami oleh pengguna jalan raya di kota manapun.

Bertema keluarga dengan latar aspal jalanan, Unhinged mengawali cerita dengan seorang ibu yang sedang terburu-buru mengantar anaknya ke sekolah. Lalu, sang ibu mendapati mobil di depan yang tak kunjung jalan saat lampu hijau. Kesal, ia pun membunyikan klakson sebising mungkin, membuat yang ditegur jadi tersinggung berat.

Baca juga: Membayangkan Hobbs dan Shaw ‘Fast & Furious’ Jalankan Misi di Jakarta

Tokoh protagonis di film ini tidak tahu jika orang yang dimarahinya di jalan itu adalah lelaki yang baru saja membakar sebuah rumah. Alhasil, keributan sepele itu berubah menjadi adegan kejar-kejaran mobil dan berujung kepada pembunuhan berantai yang menewaskan anggota keluarganya.

Inilah sisi kelam dari aktivitas berlalu-lintas. Kita bisa saja berbagi jalan dengan psikopat atau pelaku kriminal yang sedang dalam pelarian. Sedikit saja suara klakson, serempetan, lecet, atau sekadar senggolan spion, mampu menyalakan api pertikaian.

Berita tentang sopir truk kontainer yang dianiaya oleh pengendara abusif gara-gara membunyikan klakson adalah contoh yang dekat. Sebab risiko bahaya di jalanan tak melulu pakai alasan filmis, misalnya ancaman penjahat yang ingin menguasai dunia. Sesama pengendara biasa pun bisa saling mencelakai.

Kehidupan di jalanan bisa memberi pengaruh terhadap kelangsungan sebuah keluarga. “Hati-hati di jalan, keluarga menanti di rumah!” bukanlah formalitas semata. Itu pesan yang tidak main-main.

Baca juga: Belajar dari Kegagalan Son Goku sebagai Suami, Bukan dari Perceraian Selebriti

Ingatlah, Batman. Vigilante asal Gotham City itu terlahir akibat kerasnya kehidupan jalanan. Menurut film Joker, Pemkot Gotham memangkas anggaran untuk kesehatan mental masyarakat rentan. Orang terkaya di kota itu pun tak banyak membantu, padahal bisa saja menyalurkan dana CSR ke fasilitas kesehatan setempat.

Setelah Arthur Fleck menjadi korban kekerasan di jalanan dan tak mendapatkan layanan konseling yang memadai, lahirlah Joker yang menginspirasi huru-hara. Salah satu korbannya adalah Bruce Wayne yang harus kehilangan orang tuanya di malam kerusuhan itu. Titik balik Bruce menjadi penegak keadilan yang bergerilya di jalanan malam hari dengan kendaraan canggih hasil memanfaatkan warisan.

Yang mau saya bilang, urusan badut di-PHK saja bisa berujung kematian konglomerat di satu kota yang sama. Lantas, bagaimana dengan nasib warga sipil di jalanan yang diacak-acak oleh geng Dom saat kejar-kejaran dengan kelompok penjahat? Berapa banyak kerugian materiil yang ditimbulkan dari mobil-mobil yang ditabrak dan fasilitas umum yang dirusak? Adakah korban luka atau korban jiwa?

Artikel populer: Seandainya Falcon dan Batman Gelar Hajatan di Masa Pandemi

Berbeda dengan film Fast & Furious yang menyabung nyawa dengan balapan liar, film Nomadland justru memperlihatkan sesosok lansia bernama Fern yang menyambung nyawa dengan mengendarai mobil secara santai, bahkan banyak parkirnya.

Ia berhenti di lahan kosong untuk istirahat, seperti tidur, masak, makan, dan mencuci. Sebab mobil van yang dikendarainya telah dimodifikasi sebagai ‘rumah’. Lengkap dengan tempat tidur, wastafel, dan kompor portabel.

Bisa saja Nomadland adalah gambaran hari tua mereka yang bukan berasal dari keluarga kaya raya berprivilese: tak punya tempat tinggal tetap dan masih harus bekerja serabutan di masa pensiun karena jaminan pensiun sama sekali tidak menjamin. Maka, mobil RV dijadikan simbol perlawanan untuk harga properti yang tak masuk akal.

Antagonis di sini bukanlah lansia lain yang mengajak balapan dengan taruhan mobil van, melainkan rasa kesepian karena hidup tanpa keluarga, kondisi yang mungkin membuat seorang Dominic Toretto pun menjadi lemah. Ditambah, satu per satu teman pergi melanjutkan perjalanannya ke tempat lain dan ‘dunia lain’. Tanpa adegan perpisahan di persimpangan jalan ala Vin Diesel dan Paul Walker.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini