Ilustrasi dunia kesehatan. (Photo by Hush Naidoo on Unsplash)

Saya selalu heran ketika dokter spesialis kandungan dipenuhi oleh lelaki, namun berusaha menyadari bahwa mungkin saja dulu lelaki yang paling mudah mengambil sekolah spesialis. Yah gimana, mereka punya waktu untuk belajar. Tak perlu ribet-ribet mengurus anak di rumah. Tak dipusingkan urusan rumah tangga ketika harus belajar dan jaga di rumah sakit.

Tetapi, seperti diketahui sebelumnya, Bapak Ginekologi Modern bernama J. Marion Sims saja melakukan kekerasan terhadap perempuan kulit hitam, yang ia jadikan bahan eksperimen untuk mempelajari anatomi tubuh perempuan. Ia tidak menggunakan anestesi saat bereksperimen, sehingga perempuan kulit hitam yang ia beli sebagai budak mengalami kesakitan. Ilmu pengetahuan tentang tubuh perempuan dilandasi kekerasan.

Bertahun-tahun lamanya dunia kedokteran, terutama berkaitan dengan perempuan, sering kali memperlakukan perempuan tidak adil. Misalnya, pada layanan kesehatan seksual dan reproduksi (kespro). Perempuan sulit untuk mengaksesnya.

Baca juga: Kalau Ketemu Dokter atau Perawat, Tanya Apakah Mereka Sehat?

Perempuan yang belum menikah dan berusaha mengakses layanan kespro kerap dihakimi dan mereka tidak mendapatkan pengobatan yang semestinya hanya harena statusnya belum menikah. Padahal, dia mengalami berbagai kelainan medis yang membuat tubuhnya kesakitan.

Saya pernah mendapatkan perlakuan tak menyenangkan saat memeriksakan diri ke dokter kandungan yang kebetulan lelaki. Dan, saya tidak sendiri. Banyak perempuan bercerita tentang pengalaman mereka mendapatkan perlakuan kasar ketika periksa ke dokter laki-laki spesialis kandungan, lantaran pasien perempuan itu belum menikah. Menyebalkan sekali.

Maka, tidak heran ada dokter membuat konten video yang merendahkan perempuan dan memperlakukan pasien perempuan sebagai objek seksual. Perempuan sering kali menjadi objek, bukan subjek atas tubuhnya. Belum lagi, ada dokter yang mengatakan bahwa menjadi perempuan itu takdirnya untuk sakit. Mengapa sampai ada pikiran dan tindakan seperti itu? Bertahun-tahun sistem pendidikan kita gagal mengajari bahwa pasien juga subjek.

Baca juga: Salahkah Perempuan Lajang ke Dokter Kandungan?

Semua perilaku yang menormalisasi perempuan sebagai objek sebagai akibat dari pendidikan dokter yang dibangun berlandaskan kekerasan. Bahkan saat koas dan residensi, peserta pendidikan dokter sering menjadi pelampiasan kemarahan para konsulen dan dosen yang jaga.

Kekerasan terhadap perempuan sebagai pasien juga terjadi pada perempuan sebagai tenaga medis. Kekerasan terhadap tenaga medis pun meningkat saat pandemi. Belum lama ini, kita menyaksikan bagaimana perawat perempuan mengalami kekerasan dari keluarga pasien.

Kita juga bisa temui perawat perempuan yang ikut menggunakan candaan seksual melalui video-video di TikTok untuk menggambarkan kondisi yang seksual. Tentunya ini sama sekali tidak etis.

Baca juga: Lelaki Harus Mau Pakai Kontrasepsi, Jangan Perempuan Melulu

Belum lagi, beberapa akun yang hendak mengedukasi tapi sering kali menghakimi para pasien. Penghakiman terhadap pasien kerap terjadi, karena dokter masih memiliki bias gender dan kelas. Akibatnya, karena pengetahuan tentang akses kesehatan minim, orang akan cenderung mencari perawatan yang murah meriah di dokter gadungan dan salon-salon kecantikan yang tidak dilakukan oleh tenaga medis.

Kekerasan dalam dunia kesehatan tak datang dari ruang hampa. Itu telah terjadi selama bertahun-tahun dalam ruang yang melanggengkan kekerasan.

Sementara, kita pun terpaksa kerja terlalu keras menjadi budak korporat dan pabrik dengan upah minim hingga tubuh tumbang. Pelayanan kesehatan yang tersedia untuk publik pun sering kali tidak memadai, sehingga pasien harus mengeluarkan banyak uang untuk bisa sehat. Sudah miskin, sakit, eh tenaga medisnya seksis.

Artikel populer: BPJS Kesehatan dan Sosok Misterius di Drakor Hospital Playlist

Struktur dan sistem kesehatan memudahkan terjadinya relasi kuasa yang timpang. Tak heran, jika ada yang bilang bahwa orang miskin tidak boleh sakit. Apalagi, iuran BPJS naik. Kesehatan makin sulit dijangkau oleh orang miskin, sehingga mendorong mereka mencari alternatif layanan yang tidak aman. Selain itu, minimnya tenaga kesehatan yang dipekerjakan membuat masyarakat kesulitan mendapatkan akses kesehatan.

Ini adalah siklus kekerasan dalam dunia kesehatan yang tidak kita sadari telah membentuk sebuah sistem. Sistem kesehatan kita.

Karena itu, menyerukan kepada para tenaga medis untuk mulai peka. Surat terbuka dan tuntutan sudah mulai terasa tidak cukup. Dibutuhkan perubahan dari dalam dan cara mendidik tenaga medis. Dengan menyasar kepada akar permasalahannya dan upaya menciptakan ruang aman untuk tenaga medis dan pasien, kita bisa bergerak untuk memperbaiki citra dunia kesehatan yang makin terpuruk.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini