Ilustrasi. (Cocoparisienne/Pixabay)

Pasti kita pernah dengar tokoh publik lelaki yang bilang bahwa ia mendukung kesetaraan karena ia punya anak perempuan dan ingin yang terbaik untuk mereka. Tapi, kenapa baru mendukung kesetaraan dan membicarakannya setelah memiliki anak perempuan?

Hal ini mengingatkan saya pada Donald Trump, presiden Amerika Serikat ke-45. Ia sangat mendukung karier anak perempuannya, Ivanka Trump, bahkan sempat ada rumor untuk menjadikan Ivanka Trump sebagai presiden. Namun, Donald Trump tampaknya bukanlah ayah yang hadir untuk anak-anaknya. Belum lagi, ia sering kali diberitakan tidak menghormati perempuan, termasuk istrinya.

Begitu pula dengan aktor Mark Wahlberg yang mengatakan bahwa memiliki anak perempuan membuatnya makin menghormati perempuan. Setelah memiliki anak perempuan, Mark sering menegur teman lelaki yang sering melecehkan perempuan, “Itu anak orang, hormatilah.” Lah, selama ini Mark ke mana saja?

Baca juga: Daddy Issues, Salah Siapa?

Ada pula tokoh publik yang memiliki anak perempuan semua. Ya, butuh memiliki 4 anak perempuan ketika mereka tahu tak bisa memiliki anak lelaki untuk menjunjung kesetaraan gender. Anehnya, kenapa lelaki menghargai perempuan setelah memiliki anak perempuan? Apakah selama ini ia tidak menghormati ibu yang melahirkannya? Jangan-jangan, mereka memperlakukan istri seenaknya saja.

Lantas, kenapa status perempuan sebagai seorang individu harus pula diikat dengan relasinya sebagai anak, istri, dan ibu? Apakah kalau perempuan yang hidup sebatang kara tanpa menyandang relasi tersebut layak dilecehkan? Tak bisakah kita menghormati perempuan karena ia seorang manusia yang otonom?

Penelitian dari Harvard pun menunjukkan bahwa hakim yang memiliki anak perempuan akan cenderung lebih simpatik terhadap permasalahan gender. Penelitian di Inggris pada tahun 2009 juga menyebutkan bahwa orangtua dengan anak perempuan tunggal akan condong mendukung kebijakan untuk menjawab masalah kesenjangan gender.

Baca juga: Perempuan juga Bisa Memberi Nafkah, Kenapa Banyak yang Nggak Suka?

Begitu pula dengan temuan seorang ekonomis Yale pada tahun 2006, yakni para legislator yang memiliki anak perempuan lebih cenderung mendukung hak-hak reproduksi. Mengapa membutuhkan anak perempuan terlebih dahulu baru bicara tentang kesetaraan?

Perihal hak-hak reproduksi, saya pernah mendengar seorang peneliti mengatakan dalam sebuah kelompok diskusi bahwa lelaki sebagai ayah tak masalah, jika anak perempuannya harus menggugurkan kandungannya apabila putrinya mengalami kehamilan tak direncanakan.

Tentunya ada lelaki yang mengusung kesetaraan dengan mendukung istrinya bekerja dan ikut ke luar negeri demi mengurus anak saat istrinya sekolah lagi. Hal ini dilakukan oleh para suami dari perempuan yang tergabung dalam MamaPHDIndonesia. Begitu pula dengan para lelaki yang mengurus anak dan rumah tangga dan istri mereka yang bekerja.

Namun, suara lelaki yang mendukung pasangan mereka kurang terdengar, seolah-olah masyarakat kita malu membicarakannya. Padahal, banyak lelaki yang bangga mengurus rumah tangga dan anak, lho!

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Namun, media masih mengkultuskan lelaki yang mendukung kesetaraan gender dan mengapresiasi secara berlebihan pada mereka karena memiliki anak perempuan. Padahal, tidak ada yang istimewa. Sudah seharusnya dan sewajarnya sesama manusia mendukung hak asasi.

Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih melihat perempuan sebagai kepemilikan ayahnya, hingga akhirnya kepemilikan itu pindah ke lelaki lain yang menjadi suaminya. Bahkan seorang suami baru mendengarkan apa kata ayah dari istrinya setelah istrinya mengeluh kepada ayahnya, bukan suara istrinya sendiri.

Dalam tatanan masyarakat patriarkal, perempuan masih dilihat sebagai properti lelaki. Lelaki menginginkan yang terbaik untuk anak perempuannya tapi tidak untuk perempuan yang menjadi istrinya. Karena lelaki masih membutuhkan istri untuk melakukan pekerjaan perawatan dan reproduksi sosial secara cuma-cuma agar ia bisa menjalani hidupnya dengan mudah.

Coba siapa yang memasak dan menyiapkan baju kerja untuk para lelaki ini, jika tak ada perempuan yang melakukannya? Sebab itu, bagi lelaki seperti ini tidak masuk akal untuk mendukung perempuan yang menjadi istrinya untuk bekerja dan sekolah lagi.

Artikel populer: Cinta Bisa Mengubah Laki-laki? Itu Hanya Dongeng

Namun, menjadi masuk akal bagi lelaki untuk mendukung anak perempuannya dengan pendidikan dan pekerjaan yang layak, karena ia tahu sebagian dari dirinya ada pada anak perempuannya. Dan, jika ada yang melakukan hal buruk kepada anak perempuannya, maka egonya akan terluka.

Beda halnya dengan perlakuan kepada istrinya, ia akan tega menyakiti istrinya dengan poligami, selingkuh, serta membuat keputusan besar terkait keluarga tanpa berkonsultasi dengan istri. Mirip dengan ayah saya yang mendukung saya untuk sekolah tinggi, tapi melakukan poligami dan selingkuh dari ibu saya.

Mengapa kita menaruh standar kemanusiaan yang begitu rendah terhadap lelaki? Sebab sudah seharusnya pasangan saling mendukung dalam bentuk aksi nyata menjadi syarat dalam menjalin sebuah relasi, bukan cuma dari omongan saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini