Siapa Sebetulnya yang Bikin Kita Jadi Baper?

Siapa Sebetulnya yang Bikin Kita Jadi Baper?

Ilustrasi (Pixabay via Pexels)

Di beberapa media populer, kerap kita jumpai artikel dengan judul-judul “7 Alasan Cewek Lebih Sering Baper“, “Hati-hati Membuat Cewek Baper”, dan semacamnya.

Banyak dari teman perempuan saya (dan mungkin ribuan perempuan muda Indonesia lainnya) mengamini konten dari artikel tersebut dengan membeturkannya pada pengalaman pribadi.

Mereka pun membagikan artikel itu sebagai kode ke doi. Seolah menyampaikan pesan “tuh, jangan suka nge-gitu-in cewek kalau emang nggak serius.”

Selanjutnya, kisah seorang adik kelas saya ini kiranya relevan. Ia berbagi cerita soal doi yang sering ngajak nonton karnaval, nanyain skripsian, memberi sanjungan, hingga membelikan cilok malam-malam dan mengantarkannya ke kos. “Padahal kan bisa aja via gojek yaa,” ujar si adik kelas.

Dan, beberapa bulan kemudian, kepergoklah di feed Instagram kalau si doi sedang ke pantai bareng… ((pacar)).

Begitulah tabiat sebagian lelaki, nggak cuma melimpahkan perhatiannya ke satu hati. Ibarat pemancing, mereka melempar mata pancing ke mana-mana. Akan ada proses sortir hingga akhirnya satu ikan yang paling menarik yang dimakan di tempat, eh, dibawa pulang.

Para gadis lugu yang interaksinya dengan lawan jenis cukup terbatas ini pun jadi korbannya, lantas dituding baperan.

Parahnya lagi, wacana perempuan lebih baper ini mendominasi publik. Padahal, sepanjang pengalaman saya bergaul dengan teman laki-laki, banyak juga lho mereka yang terjebak prasangka perasaan. Akhirnya nangis di pojokan, lalu menulis puisi yang mengoyak-ngoyak hati. Ciyee…

Dan, tahukah klean?

Bahwa nggak sedikit juga perempuan-perempuan yang gemar mengoleksi penggemar. Jadi, kalau ada lelaki yang suka pedekate ke banyak gebetan, perempuan suka mengoleksi banyak gebetan.

Seorang kawan lelaki pernah berujar, “Lelaki itu lemahnya di mata, sementara perempuan itu lemahnya di telinga.” Maksud hati ingin menyampaikan bahwa lelaki lebih sering luluh karena paras ayu, anggun, tergantung bayangannya soal idealitas rupawan. Sementara perempuan lebih sering luluh karena rayuan.

Semua anggapan di atas memang tidak sepenuhnya rapuh, tapi kok juga banyak mudharat-nya untuk relasi sosial kita sehari-hari. Menyulitkan kita-kita yang tulus menjalin relasi sosial antar spesies demi pertemanan, teman kerja, ataupun teman nongkrong ceria.

Baca juga: Saran untuk Kamu Agar Berhati-hati Memuji Tubuh Seseorang

Niatan kita memang sekadar menambah jejaring pertemanan demi membuka wawasan, mengenal berbagai sudut pandang, bertukar pikiran, berbagi pengalaman, dan jika memungkinkan melakukan hal sesuai minat bersama. Sayangnya, kadang-kadang kita dicurigai sedang menjalankan misi pedekate.

Dalam budaya masyarakat kita yang hetero, hubungan dua lawan jenis yang akrab cenderung selalu dipersepsikan dengan perasaan dalam konteks asmara. Apa gerangan yang melatarbelakangi anak-anak muda ini mudah kebawa emosi atau berprasangka segalanya urusan hati?

Saya menduga produk-produk budaya semacam film, buku, dan musik populer punya banyak kontribusi. Ditambah lagi dogma agama.

Tontonan Disney generasi kita di masa kecil, misalnya, penuh intrik kisah pangeran yang memperjuangkan sosok putri atau sebaliknya. Beranjak remaja, drama-drama ini dilanjutkan secara lebih kontekstual oleh menjamurnya serial-serial TV remaja. Kisah Cinderella pun paling banyak diadopsi baik oleh serial TV maupun drama live action layar lebar.

Serial drama Asia degan tema-tema serupa yang dulunya hanya kita kenal beberapa semisal Meteor Garden, kini nggak terhitung jumlahnya. Nggak hanya mengkonstruksi pemahaman mengenai hubungan dua lawan jenis, lebih-lebih juga mengkonstruksi idealitas tubuh.

Sewaktu saya masih remaja, novel-novel bertema cinta-cintaan juga cukup banyak, yang dikenal sebagai genre Teenlit. Ini semacam bentuk karya sastranya FTV. Membacanya bikin menangyss… Uhuk.

Saya pun termasuk yang melalui masa-masa membaca teenlit dan metropop, merasakan sendiri berlembar-lembar tisu ludes, bahkan ketika usai menutup halaman terakhir. Novel-novel tipe beginilah yang kemudian diadaptasi oleh sineas Indonesia.

Jadi, nggak heran kalau kisah Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer nantinya jadi film remaja picisan. Sesuai pernyataan sutradara yang menggarapnya beberapa waktu lalu, film tersebut akan menyesuaikan konteks anak muda sekarang.

Pengalaman saya membaca karya-karya Pram baru dimulai ketika menginjak kampus dan bergabung dalam gerakan mahasiswa. Untungnya, saya tersesat di jalur aktivisme, meskipun administrasi sedikit terkorbankan. Saya terselamatkan dari budaya pop yang jahiliyah. Waktu itu memang cukup riskan, apalagi Dwitasari dan Tere Liye sedang kondang.

Sementara di ranah seni musik, hampir seluruh lagu-lagu populer mengangkat tema serupa. Membuat kita yang secara hormonal mengalami gejolak perasaan ketika mendengarnya.

Artikel populer: Obrolan dengan Ukhti-ukhti Penikmat Musik Punk

Jadi, permainan siapa semua ini? Industri budaya.

Alam bawah sadar kita diam-diam terkonstruksi secara perlahan melalui wacana-wacana budaya pop yang diproduksi industri. Mau gimana lagi, sebagai remaja dan anak muda, generasi kita atau juga sekarang nggak cukup referensi untuk hiburan-hiburan bermutu.

Dari segi wacana moral pun banyak pihak hadir bukannya membekali dengan pengetahuan, justru memberi anjuran preskriptif yang terkesan preaching. Misalnya dengan dogma agama mengenai halal-haram hubungan dua lawan jenis.

Buku-buku semacam itu yang justru jadi best seller, meskipun latar ideologi dan keilmuan si penulis tak diketahui asal-usulnya.

Dekade berganti, industri masih saja ramai dengan karya-karya bermuatan serupa. Film-film produksi sineas dalam negeri hari ini, misalnya, hanya meliputi dua tema, yakni horor dan percintaan. Bahkan, di musim-musim politik nasional yang memanas dan selebrasi tonggak awal kemerdekaan bangsa kita.

Mari bandingkan dengan film-film Bollywood dan Hollywood. Industri film Bollywood sarat mengangkat persoalan sosial-politik dalam konteks masyarakatnya. Dangal, Lipstick Under My Burkha, Pink, dan Newton adalah segelintirnya.

Sedangkan Hollywood, selain film-film yang menonjolkan efek CGI, beberapa dari film-filmnya juga mengangkat isu sosial sehari-hari sebagaimana daftar film-film yang masuk nominasi Oscar.

20th Century Women, misalnya, begitu kaya akan perspektif. Melalui plotnya yang sederhana, ia menyampaikan agar anak-anak remaja semestinya mendapat pengetahuan dan mengeksplorasi perihal cinta dan bercinta melalui bacaan, alih-alih sekadar menikmatinya atau mengekangnya.

Ajang penghargaan Oscar pun dikait-kaitkan dengan desas-desus ideologi dan perkembangan isu serta corak aktivisme masyarakat di dunia barat.

Di saat sineas luar menggarap tema asmara hanya sebagai penyedap untuk isu-isu kemanusiaan dan marjinal, sineas dalam negeri masih saja sekadar meneguplek-uplek hasrat dan emosi anak-anak mudanya.

Sekuel dari film-film percintaan remaja lawas yang dibuat hari ini menjadi potret bahwa dunia hiburan kita tak mengalami pergeseran cara pandang.

Bagaimanapun, produk budaya adalah kendali besar peradaban, dimana orang banyak terpapar olehnya. Sementara perihal hasrat juga menjadi komoditas yang tak bosan-bosannya dieksploitasi oleh industri budaya.

Betapa cupetnya jika setiap hubungan pertemanan kita dengan lawan jenis harus dipersepsikan dengan perkara cinta. Ngasih permen Kiss aja dikira modus operandi. Tetew!

1 COMMENT

  1. Quote: “Betapa cupetnya jika setiap hubungan pertemanan kita dengan lawan jenis harus dipersepsikan dengan perkara cinta. Ngasih permen Kiss aja dikira modus operandi. Tetew!”

    Setuju. Ampe sesama perempuan pun nyinyir, pernah ada yang bilang kalo penyebab saya susah punya pacar gara-gara temen cowok banyak. Padahal ganjen ama mereka juga kagak. Alamak! -_-

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.