Cerita Shalahuddin tentang Film Lima, Mulai dari Keluarga Beda Agama Hingga Sensor

Cerita Shalahuddin tentang Film Lima, Mulai dari Keluarga Beda Agama Hingga Sensor

Film Lima (Book My Show)

“Lima” adalah film yang disutradarai secara guyub oleh Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo. Masing-masing bertanggung jawab mengangkat satu sila.

Konon, film bertemakan Pancasila ini hanya akan ditayangkan selama tiga hari. Nyatanya, setelah jangka waktu itu terlampaui, film ini masih bisa kita nikmati di bioskop.

Shalahuddin Siregar (Bang Udin) selama ini lebih aktif menggarap film-film dokumenter. Meskipun mengaku tidak siap terlibat dalam film fiksi sebesar “Lima”, sila pertama yang digarapnya terasa kuat dan realistis. Berikut wawancara saya dengan Bang Udin.

Ide bikin film ini awalnya dari siapa, Bang?

Idenya datang dari Lola Amaria sebagai produser. Dia cerita tentang perjalanannya ke Balkan, di mana dia melihat luka konflik yang sulit sembuh, meskipun sudah bertahun-tahun.

Melihat situasi di Indonesia saat ini yang terpecah dan banyak ujaran kebencian, dia tidak ingin Indonesia menjadi seperti Balkan. Dia merasa anak muda harus punya peranan supaya kebersamaan dan toleransi tidak menguap pelan-pelan dan menjadi kenangan.

Ini satu film utuh, tapi sutradaranya berlima. Rumit nggak, sih, bikinnya?

Awalnya (memang) kepingin membuat film omnibus, lima cerita berdiri sendiri yang disutradarai lima orang. Pada akhirnya diputuskan untuk bikin satu film tentang keluarga dengan lima karakter untuk mewakili lima sila.

Setelah itu masing-masing sutradara mengembangkan ceritanya sendiri berdasarkan sila yang dipilih, lalu treatment-nya ditulis menjadi script oleh dua penulis skenario, yaitu Sinar Ayu Massie dan Titien Watimena.

Nah, Abang kan milih sila pertama. Cerita dong, Bang, proses kreatifnya…

Sila pertama ini terinspirasi dari kisah nyata. Jadi aku dan Ayu (penulis skenario) ngobrol semacam brainstorming tentang apa itu agama dan spiritualitas. Ayu yang paling banyak pengalaman dalam hal ini.

Dia cerita tentang satu keluarga berbeda agama seperti keluarga Maryam di film “Lima”,  yang menghadapi tantangan ketika memakamkan ibu mereka. Seperti di film, ada soal gigi palsu harus dicopot dan larangan anaknya yang berbeda agama untuk memakamkan.

Dalam kenyataan, gigi palsu si ibu dicopot dan anak laki-lakinya dilarang ikut memasukkan ibunya ke liang lahat. Tetapi sejak mendengar cerita itu, aku percaya tidak ada larangan itu. Makanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan aturan agama Islam, kami punya konsultan seorang kyai. Hasilnya seperti yang ada di film.

Shalahuddin Siregar (Jakarta Globe)

Apa yang mau Abang highlight dari segmen sila pertama ini?

Aku akan kutip penjelasan DR Ichsan Malik, dosen UI yang membantu menyelesaikan konflik agama di Ambon. Beliau menjadi tim ahli kami di Lembaga Sensor Film (LSF) waktu mencoba mediasi.

Beliau bilang yang berkembang di Maluku (yang menurutku sama dengan wilayah lain di Indonesia) adalah formalisme agama, bukan fungsionalisme agama. Menurutnya, formalisme agama berbicara berbicara tentang ritual, tentang identitas, tentang ciri khas dari agama itu.

Kalau fungsionalisme agama berbicara tentang nilai, tentang keadilan, tentang bagaimana bertetangga yang baik, tentang berbeda dalam keragaman. Kecenderungan berkembangnya formalisme agama ini, menurut Pak Ichsan, sangat berbahaya untuk Indonesia, makanya diperlukan keseimbangan.

Nah, sila pertama itu mau mencoba membicarakan keseimbangan tadi. Kalau dalam Islam kan sudah ada konsep ‘hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan manusia’.

Dalam film, hal-hal itu dijabarkan melalui konflik gigi palsu, anak memasukkan jenazah ibu ke liang lahat, dan doa Kristen di pemakaman orang Islam. Bagaimana karakter-karakter di film ini mencoba bernegosiasi barangkali dianggap bertentangan dengan aturan agama bagi sebagian orang. Tetapi justru di situ tantangannya.

Berketuhanan itu harusnya berkemanusiaan. Dalam konteks film ini, yang dilakukan Fara sebagai kakak tertua bukan hanya melihat kemanusiaan itu, tetapi mencoba menjaga persatuan keluarganya.

Fara bermusyawarah dengan Ijah si pembantu tentang aturan Islam dan akhirnya mencoba adil untuk adiknya, Aryo, yang berbeda agama dengan dia.

Oh ya, film ini sempat ada mediasi dengan LSF. Gimana itu ceritanya?

Sebelum surat sensor keluar, pihak LSF mengundang  tim Lola Amaria Production untuk diskusi. Setelah melalui diskusi selama tiga jam yang melelahkan, akhirnya mereka mengeluarkan surat lulus sensor untuk 17 tahun ke atas.

Beberapa hari kemudian beberapa elemen masyarakat yang sudah berkesempatan menonton film ini berkirim surat ke Komisi I DPR yang membawahi LSF, meminta untuk mediasi dengan LSF supaya rating-nya bisa diturunkan menjadi 13 tahun.

Dalam mediasi ini, komunitas yang datang membawa ahli psikologi, hukum, dan ahli agama. Tetapi LSF tetap pada pendiriannya.

Para sutradara film Lima (Tagar News)

Jadi, apa alasan film ini rating-nya tetap 17 tahun ke atas?

Sayang sekali alasan LSF tidak bisa kami ungkapkan karena perjanjian semua hasil diskusi dan mediasi tidak menjadi konsumsi publik. Tetapi kami dari tim film “Lima” berprasangka baik terhadap LSF. Semoga pihak LSF juga begitu terhadap niat kami membuat film ini.

Kami ingin film ini bisa mengajak orang untuk menjauhkan kita dari prasangka terhadap agama yang menyebabkan benturan antar agama, pengabaian rasa kemanusiaan, prasangka rasial, otoritarianisme, dan harus berpihak pada keadilan. Hal-hal seperti ini harusnya ditanamkan untuk anak-anak sejak dini.

Terakhir, apa yang Abang harapkan dari film “Lima”?

Sebelum penayangan, kami melakukan preview dengan banyak kalangan. Kami menyaksikan antusiasme yang luar biasa dari mereka. Mereka sepertinya melihat film ini bisa membantu memberikan inspirasi indahnya kebersamaan dan menularkannya pada generasi muda.

Belakangan ini tampaknya membuat banyak kalangan khawatir dengan keadaan berbangsa dan bernegara. Respect antar kelompok dan golongan semakin tipis. Media massa dan media sosial seperti berlomba-lomba memberitakan betapa rapuhnya bangsa ini.

Tetapi yang lebih penting bagi kami adalah semoga film ini bisa memantik diskusi tentang nilai-nilai Pancasila yang sudah kita sepakati sebagai ideologi negara.

***

Sejak TK sampai SMU, setiap hari saya duduk berhadapan dengan Garuda Pancasila di dinding kelas. Saya juga wajib belajar PPKn. Namun, sejujurnya intensitas itu tak membuat saya merasa akrab dengan Pancasila. Ternyata saya malah luput mengenali sila dan nilainya yang hidup di tengah-tengah saya setiap hari.

Saya tiba-tiba teringat pada beberapa acara kumpul-kumpul yang hangat dan kekeluargaan. Semua yang datang biasanya duduk membentuk lingkaran.

Tanpa kursi. Bersila.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.