‘Sexy Killers’, Apa yang Seksi?

‘Sexy Killers’, Apa yang Seksi?

Ilustrasi dalam film Sexy Killers (Watchdoc Image)

Sekitar seminggu menjelang pemilu, linimasa media sosial ramai oleh postingan screening film Sexy Killers. Buntutnya, netijen ramai-ramai mengunggah gambar poster #SayaGolput disertai review-review singkat tentang film itu.

Tapi kini, pemilihan telah usai. Yah, meskipun perolehan suara dan ributnya belum selesai. Lalu, untuk apa membahas Sexy Killers kalau ternyata film ini dianggap sekadar mengajak golput?

Eh, tunggu sebentar. Itu kan kata media-media massa yang menganggap film ini adalah ajakan untuk golput. Bahwa ia menjadi semboyan untuk gerakan #SayaGolput, memang iya. Tapi, dengan ada atau tidaknya film ini, golput tetap eksis toh? Lha, golput itu kan pilihan politik.

Di beberapa negara, salah satunya India, golput itu diperhitungkan sebagai suara politik, dalam artian memilih untuk menolak semua capres dan caleg yang tersedia. Caranya? Dengan menyediakan opsi None of the Above (NOTA) di kertas suara.

Baiqla, kembali ke yang seksi-seksi. Mari kita bedah keseksian Sexy Killers tanpa embel-embel pemilu.

Baca juga: Apa yang Penting dan Dipertaruhkan dalam Pemilu 2019?

Dalam film ini, jagal-jagal alias Killers yang dimaksud adalah perusahaan tambang batu bara dan PLTU. Lalu, apa maksudnya adjektiva ‘Sexy? Seandainya itu dimaknai being erotically attractive to another, ya jelas nggak ada unsur erotis di film ini. Jadi, mohon jangan seporno itu. ‘Sexy di sini semakna dengan provokatif.

Gimana nggak provokatif? Kita dibikin mewek menyaksikan realitas kelamnya industri tambang batu bara. Tentang anak-anak yang meregang nyawa di lubang tambang, kesaksian petani-petani yang lahannya dirampas untuk PLTU, hingga harus menahan derita kanker sebelum masuk ke liang kubur.

Begitu besar ongkos sosial yang mesti dibayar untuk kemewahan energi ini. Mengapa pemerintah tetap mengembangkan PLTU sebagai basis utama energi di negeri ini?

“Ooh… ternyata itu jawabannya. Bahwa saham-saham di perusahaan batu bara itu dimiliki orang-orang yang punya kendali kebijakan,” batin saya usai menonton film tersebut.

Baca juga: Mamak-mamak Penyelamat Bumi

Film ini juga gamblang memaparkan siapa-siapa komisaris di sejumlah perusahaan batu bara, lengkap dengan konsensi bisnisnya. Selain eks tentara dan pejabat, ada sih satu-dua sipil di luar itu yang masuk jajaran komisaris. Tapi, bicara soal kepemilikan saham, apapun statusnya sama-sama elit bisnis, kan?

Analisis lebih jauh bisa dikaitkan dengan jatuhnya harga batu bara dunia. Efeknya bikin bisnis tambang terancam bangkrut. Peabody Energy, produsen batu bara terbesar di Amerika Serikat, bahkan dinyatakan gulung tikar pada April 2016, setelah perusahaan-perusahaan batu bara lainnya bangkrut lebih dulu. Di Indonesia, kabarnya 125 perusahaan batu bara bangkrut pada 2015.

Dalam situasi ini, elit-elit bisnis batu bara yang berpengaruh di pemerintahan bisa diuntungkan. Mereka sadar bahwa pertambangan adalah industri sunset, yang bakal menemui ajal ketika sumber daya alam habis.

Maka, untuk bisa survive ke depannya, mereka mulai menguasai rantai produksi dengan membangun anak usaha atau mengakuisisi perusahaan di bidang logistik. Di industri hilir, mereka ikut membangun PLTU dengan skema public private partnership (PPP) alias kerja sama pemerintah dan swasta. Belakangan juga mengembangkan sumber energi lainnya.

Baca juga: Belajar dari Aktivis Muda Lingkungan Greta Thunberg

Bisa jadi, saat perusahaan-perusahaan batu bara di Indonesia telah siap berbisnis dengan sumber energi baru, saat itu juga wacana peralihan sumber energi bakal disemarakkan pemerintah. Tunggu batu bara habis dikeruk dulu.

Pada intinya, film Sexy Killers mempertontonkan oligarki politik di negeri kita, dimana para elit politik adalah kelompok elit bisnis juga. Keseksian inilah yang mengundang gairah, tepatnya gairah protes ke elit politik kita atas kondisi tersebut.

Jadi, Sexy Killers tampaknya punya agenda lebih besar dari sekadar isu golput, yaitu merangsang penontonnya untuk terlibat dalam gerakan sosial. Gerakan sosial yang dimaksud adalah kerja-kerja berbasis keberpihakan pada kelas sosial.

Dalam Sexy Killers, keberpihakan kelas ini bukan ditujukan ke kelas menengah (yang diperlihatkan dalam film – sedang berbulan madu), melainkan pada kelas masyarakat lapis bawah yang nggak punya ruang politik untuk menyuarakan ketertindasan.

Artikel populer: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Namun, gerakan sosial juga bisa sesekali dimanfaatkan elit bisnis lainnya. Siapa yang diuntungkan dari kampanye NGO asing menentang PLTU di Indonesia? Selain rakyat di sekitar PLTU, mungkin juga perusahaan asing yang berbisnis energi terbarukan.

Semakin banyak perlawanan terhadap PLTU, semakin banyak desakan masyarakat sipil untuk berpindah ke energi terbarukan. Perusahaan energi terbarukan dari negara lain bisa lebih luas merambah pasar di Indonesia. Elit bisnis batu bara dan energi di Indonesia belum siap akan hal ini.

Agenda politik gerakan sosial bersama para NGO tersebut sebetulnya bagus untuk mengingatkan elit-elit bisnis kita terhadap perampasan ruang hidup masyarakat. Tapi, apapun sumber energinya nanti, kita tetap menikmati kreativitas para elit bisnis jika hanya berpangku tangan.

Potret Kasepuhan Ciptagelar – desa adat yang tayang pada akhir film Sexy Killers – adalah pukulan telak film ini. Warga Ciptagelar memang nggak pernah ikut dalam riuhnya gerakan sosial, kampanye soal lingkungan, apalagi menuntut harga energi dan pangan.

Namun, masyarakat Ciptagelar terlampau revolusioner. Mereka mempraktikkan kemandirian energi dan pangan dengan berbekal pengetahuan leluhur. Tanpa ada sarjana teknik maupun pertanian.

Melalui sosok seniman Yoyo Yogasmana, kini Kasepuhan Ciptagelar sering diundang ke seminar-seminar di dalam maupun luar negeri untuk berbagi pengetahuan. Kita, masyarakat yang mendaku modern dan berpengetahuan, sejauh mana praktiknya?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.