Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Ilustrasi (Tony Rojas via Unsplash)

Friedrich Nietzsche memang sudah mati, tapi pemikiran-pemikirannya masih hidup sampai hari ini. Ia seorang filsuf besar sekaligus filolog hebat dengan pengetahuan mitologi Yunani yang sangat lekat. Ia dianugerahi gelar profesor di Universitas Basel pada usia yang masih sangat muda, yaitu 24 tahun.

Namun, pada usianya yang ke-56, Nietzsche menghembuskan nafasnya yang terakhir, tepatnya pada 25 Agustus 1900. Ia pun dikenal sebagai seorang tokoh eksistensialisme modern. Pemikiran maupun karya-karyanya terus dipelajari oleh para mahasiswa, dosen, di seantero dunia hingga kini. Termasuk, di Indonesia.

Saya pun membayangkan, seumpama sosok Nietzsche hidup lagi saat ini dan menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Indonesia, apa yang akan terjadi?!

Sebagai dosen yang masih muda dan brilian, Nietzsche tentu rajin sekali menulis dan meneliti dengan antusiasme yang meledak-ledak. Namun, tulisan maupun penelitiannya sulit rampung, karena menjadi dosen di Indonesia sangatlah sibuk.

Apa yang menjadi kesibukannya? Ia tak hanya menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Lebih dari itu, Nietzsche juga harus mengisi presensi, membimbing minimal tiga orang mahasiswa per hari, dan melakukan perwalian. Itu belum termasuk rapat rutin prodi dan rapat kepanitiaan acara lainnya, seperti konferensi ataupun seminar.

Baca juga: Maka Tertawalah Nietzsche di Alam Baka

Nietzsche kelelahan. Ia lebih banyak memanfaatkan waktunya pada malam hari untuk tidur saja, tidak seperti masa lalunya dimana ia bisa menulis hingga pagi.

Suatu hari, Nietzsche dipanggil oleh ketua program studi, karena ia tampak selalu gelisah dan kurang hepi. Kata si ketua program studi, “Nietzsche, saya lihat kamu lebih ke arah penelitian, ya. Boleh coba tuliskan beberapa penelitian yang kamu suka, lalu masukkan ke jurnal-jurnal bereputasi internasional terindeks Scopus.”

“Scopus? Makhluk apa itu?” tanya Nietzsche pada dirinya sendiri. Namun, ia mengabaikan pertanyaan tersebut dan berusaha keras untuk bisa fokus menulis saja.

Di tengah keterbatasan waktu, ia tetap menulis. Ajaibnya, tulisan-tulisannya tetap dahsyat dan mantap, begitu filosofis dan sastrawi seperti masa lalu. Ia menulis banyak sekali, yang isinya tak kalah hebat dari “Metamorfosis Roh”, “Karakteristik Apollonian and Dionysian”, “Mentalitas Tuan dan Budak”, serta tesis yang begitu masyhur tentang “Matinya Tuhan”.

Kemudian, dikirimkannya tulisan-tulisan yang ia banggakan – hasil penelitian dan pemikirannya dalam beberapa tahun terakhir – tersebut ke jurnal-jurnal yang dimaksud, setelah bertanya pada koleganya yang sangat ahli tentang publikasi terindeks Scopus.

Baca juga: Obsesi Dosen dan Praktik Tercela Menuju Universitas Kelas Dunia

Temannya itu bilang, “Kalau tulisanmu bisa dimuat, kamu akan sangat berguna bagi negeri ini. Peringkat kampus kita akan naik, gengsi Indonesia akan lebih tinggi dari negara tetangga, dan kamu sendiri akan diberi uang oleh institusi.” Tampak hebat, batin Nietzsche, tapi tentu ini tidak ada di kehidupannya pada masa lampau.

Tiga bulan setelah penelitiannya dikirimkan, Nietzsche mendapatkan respons melalui surel. Isinya adalah ulasan dari pakar-pakar lain tentang tulisannya. Ragam komentar tersebut umumnya negatif.

Ada yang mengatakan bahwa paparannya terlalu sastrawi (harusnya bahasanya lebih ketat dan ilmiah), ada yang bilang bahwa objek penelitiannya tidak jelas (bagaimana bisa meneliti roh?), ada pula yang menilai bahwa metodologinya tidak jelas (iya, karena tulisannya tampak sangat instingtif tanpa teori-teori yang mendasari), bahkan ada yang terus terang bilang, “Sampah!”

Nietzsche terdiam. Ia merasa sangat kesepian. Bagaimana mungkin, tulisan-tulisannya yang bisa dibilang selevel dengan karyanya dulu sebagai ‘literatur paling mengguncang peradaban Barat abad ke-20’ ternyata tidak diterima dunia pendidikan pada abad ke-21? Di sebuah negara yang tidak pernah ia dengar ketika dirinya hidup seratus tahun silam?

Baca juga: Ada Pemikiran Besar dalam Lirik Lagu Via Vallen, dari Camus Hingga Sartre

Untuk menyalurkan segala sepi, ia akhirnya bertekad untuk fokus mengajar saja. Pada masa lalunya, ia adalah dosen yang disegani, meski agak aneh. Nietzsche dijuluki sebagai ‘orang yang mampu mengingat mitologi Yunani seperti pernah hidup pada masa itu’.

Suatu waktu, pada semester baru, ia mendapat tugas mengajar mata kuliah yang menarik, yaitu sosiologi. “Wah, ini keahlian saya,” batinnya, selalu pada diri sendiri.

Namun, dalam rapat prodi menjelang mulainya semester, sang ketua program studi berkata, “Mahasiswa adalah customer kita. Pelanggan kita. Kita harus memperlakukan sebaik-baiknya.” Lalu, pernyataan itu disambut tepuk tangan meriah oleh para dosen yang lain.

“Ingat pula arahan Kemenristek Dikti bahwa universitas harus bisa memenuhi kebutuhan industri, jangan sampai mencetak sarjana humaniora dan sosial terlalu banyak. Jadi, mahasiswa harus diajarkan untuk siap kerja,” kata ketua program studi.

Nietzsche berjalan lunglai ke ruang kelas. Di hadapannya, terdapat puluhan mahasiswa yang beberapa di antaranya menguap dan memainkan ponsel. Lalu, Nietzsche memperkenalkan diri di depan kelas.

“Nama saya, Nietzsche. Saya pernah dikenal sebagai filsuf ‘Pembunuh Tuhan’. Saya menulis banyak sekali tulisan yang sering dijuluki para kritikus sebagai ‘Filsafat Martil’. Siapkah kalian belajar pada saya?”

Hening. Menguap.

Artikel populer: Nggak Apa-apa Alay, yang Penting Kayak Filsuf

Hingga akhirnya, seorang mahasiswa memecah keheningan: “Kalau saya belajar pada Anda, nanti saya bisa kerja apa?

Nietzsche terdiam. Ia merasa dihantam oleh Tuhan yang pernah ia ‘singkirkan’ pada ratusan tahun silam. Perutnya mendadak mual. Rasanya ia ingin berteriak, “Saya mengajarkan pada kalian agar berontak terhadap aturan yang ada. Saya mengajarkan pada kalian agar menjadi tuan atas segala situasi yang terlalu membosankan. Saya mengajarkan pada kalian untuk hidup dalam bahaya dan membakar dermaga di belakang.”

Tapi, apa daya. Tenggorokannya tercekat. Ia hanya bisa melangkah tanpa berkata sepatah pun keluar kelas. Di lorong kampus, koleganya menyapa dengan ramah dan mengajaknya untuk ke kantin, minum kopi.

Tak lama setelah duduk dan memesan, koleganya membuka pembicaraan tanpa memberi ia kesempatan, “Hey, Nietzsche, tahu tidak, kita ini nanti ada sertifikasi dosen lho. Lumayan ada tambahan uang. Terus, sertifikat kamu jadi pembicara itu kumpulkan saja. Nanti jadi kum, kamu bisa naik pangkat, gajimu naik. Asyik lah jadi dosen di Indonesia. Tidak usah pinter-pinter banget, yang penting rajin.”

Kepala Nietzsche makin pusing. Ia hendak rubuh. Rasanya ingin mati lagi saja. Tapi, ia harus meminta kepada siapa? Tuhan?

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.