5 Hal Sederhana yang Bisa Kita Perbuat setelah 20 Tahun Reformasi

5 Hal Sederhana yang Bisa Kita Perbuat setelah 20 Tahun Reformasi

Ilustrasi (Alexandra via Pixabay)

Pada 20 tahun lalu, terjadi peristiwa besar: revolusi, eh reformasi. Ratusan ribu bahkan jutaan orang bergerak untuk menggulingkan Presiden Soeharto kala itu. Krisis ekonomi, politik, hingga krisis kepercayaan jadi pendorongnya.

Setelah didesak sana-sini, termasuk oleh para ‘penumpang gelap’ maupun pembajak reformasi, Soeharto akhirnya lengser. Namun, lihat kini, 20 tahun setelah reformasi berjalan, apa yang terjadi?

Soeharto boleh saja turun dari kursi presiden. Namun, sebagian dari kita, katanya, masih merindukan ‘sosok’ dan cara Soeharto menjalankan pemerintahan. “Penak jamanku tho.” Begitu katanya, sambil menyalah-nyalahkan pemerintah saat ini.

Padahal, faktanya, Orde Baru yang dulu dipimpin Soeharto tak seindah yang dibayangkan maupun yang dirasakan. Harga bisa murah karena subsidi. Subsidi dibiayai utang. Utang pun membengkak hingga nyaris kolaps akibat krisis ekonomi.

Tapi ya begitulah… Mungkin itu yang namanya mantan: setelah ditinggal, semua kenangan jadi terasa manis. Eeaaa…

Eh tapi, kata Pak SBY, “Jangan lupakan sejarah. Keledai tak tersandung batu yang sama.” Sebuah ungkapan yang sarat makna dari seorang jenderal yang mengalami masa kejayaan Orde Baru. Tentu beliau bisa menjelaskan maksudnya apa, tapi rasanya tak perlu dan tak baik di mata rakyat, ehm.

Tapi marilah kita belajar dari kesalahan di masa lampau. Berikut ini adalah lima hal sederhana yang bisa kita perbuat, termasuk bagi mahasiswa yang katanya sebagai agen perubahan, dalam mencermati kebangkitan Orba setelah 20 tahun repot nasi, eh reformasi. Ya ampun, lawas banget plesetannya.

Tentu ini bukan kiat yang spesial sih, tapi bukankah hal-hal besar selalu dimulai dari sesuatu yang sederhana?

1. Ingatlah malaikat Jibril!

Jangan anggap baca buku itu berat biar Dilan saja. Ingat, apa yang dikatakan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dalam surat pertama yang turun ke bumi, “Iqra.”

Iqra atau bacalah seharusnya tak hanya sekadar membaca. Saat membaca, tentulah seseorang harus bisa menganalisis secara cermat kenapa ini atau itu bisa terjadi. Bacalah dari beragam perspektif. Tapi, bagaimana mau iqra, kalau masih ada buku yang dilarang?

Sebab, meski sudah 20 tahun reformasi, banyak orang yang masih cinta buta sama Orba, menutup mata dan telinga mengenai begitu banyak kezaliman yang terjadi kala itu. Ya makanya jangan cuma baca buku-buku produk Orba.

Dulu, harga pangan, bahan bakar, dan barang-barang kebutuhan lain memang murah. Semurah nyawamu. Coba saja baca-baca literatur soal tragedi HAM di masa lampau. Belum soal praktik KKN dan lain-lain.

Kalau sudah membaca, sambung dengan diskusi, bisa kecil-kecilan, terus syukur-syukur aksi. Sebab membaca tanpa diskusi dan aksi itu onani.

Selanjutnya adalah refleksi. Bukan, ini bukan untuk menghilangkan penat dan pegal, tapi refleksi atas apa yang sudah dibaca dan yang sudah dilakukan. Bisa dengan menonton film. Semisal, film “Istirahatlah Kata-kata” yang dilarang tayang di beberapa kota booming itu.

Lha ini, yang ditonton film “Pengkhianatan G30S/PKI”.

2. Melek cuy…

Orang-orang yang kangen Orba terkadang rindu dengan kehadiran Departemen Penerangan. Mereka beranggapan, kalau ada lembaga semacam itu lagi, maka tidak ada yang namanya berita palsu (fake news) atau kabar bohong (hoax).

Padahal, memangnya siapa pembuat hoax terbesar saat itu dengan mengontrol sepenuhnya media massa sebagai corong? Ya makanya baca, cium nih…

Terlebih, saat ini, banyak media alternatif yang mencerahkan. Jangan sia-siakan kuota internetmu. Bisa baca artikel-artikel di Voxpop Indonesia yang kritis tapi asyik (honor cepetan turun, bosque…).

Jadi intinya, melek. Lagi-lagi bicara bagaimana memilih sumber informasi atau bacaan yang tepat sekaligus asyik. Mana media yang progresif, mana yang menggiring mundur kembali ke masa Orba.

Terus, bagaimana caranya menangkal hoax, terutama soal nostalgia masa Orba? Mudah saja: fact-check. Googling kenapa, kan mudah. Cek kabar tersebut, apa iya sesuai data dan fakta? Dari sumber yang kredibel atau grup WA?

3. Berpikir asyik sajalah

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak berseliweran berita bohong terkait etnis tertentu. Kemudian, masyarakat dilanda kepanikan massal. Mendadak jadi cepat mara-mara. Tapi, tak lama, kepanikan itu hilang dengan sendirinya.

Dari situ kita bisa belajar bagaimana isu rasialisme warisan Orba masih terawat hingga sekarang. Ilusi us versus them antara mereka yang mendaku sebagai ‘pribumi’ dengan ‘asing dan aseng’ masih begitu terasa. Padahal, di tanah ini, semuanya ‘pendatang’.

Kira-kira 20 ribu tahun yang lalu, ras Australoid datang ke wilayah yang saat ini bernama Indonesia. Mereka dari selatan India, Papua, Melanesia, dan Australia. Setelah berapa kali bercampur dengan ras lain, baru tercipta apa yang disebut-sebut sebagai ‘pribumi’.

Jadi, camkan baik-baik, sesama ‘pendatang’ sama-sama asyik sajalah.

Bahwa kita ini beragam, tak bisa dibantah. Ultra-fanatisme terhadap apapun bikin hidup nggak asyik. Saling curiga, berprasangka buruk, fitnah, menjadi benih kekacauan (chaos). Kondisi itu bisa melahirkan perilaku fasis. Jika ini terus dipelihara, pantesan Orba mau bangkit lagi.

4. Pakai otak dan hatimu, gratis kok

Tetaplah waras ketika menghadapi orang-orang yang masih merindukan Orba. Jangan menggunakan kekerasan atau mempersekusi, karena itu ciri khas mereka. Pakai otak dan hatimu, karena itu benteng terakhir segala ide dan semangat perubahan.

Kalaupun nggak mempan, ya sudah, mungkin kudu diterawang sama Roy Kiyoshi. Kali aja ada benda-benda aneh. Atau, sekalian panggil Thanos, minta dia menggerakkan jarinya yang penuh batu akik nan sakti mandraguna itu. Bebal kok lestari?

5. Tertawalah!

Sebagian orang yang hidup di zaman Orba sepertinya memang tidak dilatih untuk tertawa. Mereka terlatih untuk panik dan cemas setiap harinya. Padahal, ada dua hal yang bisa dilakukan dengan tertawa. Pertama, berpikir. Kedua, bahagia.

Gus Dur pernah bilang bahwa humor itu menjaga kehidupan waras dalam kehidupan yang pahit. Bukan suatu yang mustahil bahwa kesegaran humor mampu mengatasi situasi yang nggak asyik.

Sama halnya dengan Warkop DKI yang terkenal dengan slogan “Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang”. Slogan itu merupakan satire jenaka yang mengkritik totalitarianisme Orba.

Indro, salah satu personel Warkop DKI, pernah mengungkapkan bahwa pada pertengahan 1970-an saat Warkop DKI dibentuk, orang semakin hari semakin susah bikin ketawa.

“Ketika kita bikin ketawa orang, kita harus celingak-celinguk. Orang yang mau ketawa juga celingak-celinguk. Dari situ kita pikir, wah kita tertawa aja bakalan dilarang kayaknya. Ya sudah, tertawalah sekarang sebelum tertawa itu dilarang,” tutur Indro.

See…?!

Penak jamanku tho?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.