Kenali Mereka, Setan-setan yang Santun dan Berlagak Moralis

Kenali Mereka, Setan-setan yang Santun dan Berlagak Moralis

Ilustrasi (Shane L Johnson)

Pada akhir Desember 2017, terjadi demonstrasi besar-besaran skala nasional di puluhan kota di Iran. Ribuan rakyat menuntut mundurnya pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ini merupakan protes terbesar di Iran sejak Gerakan Hijau pada 2009.

Semua ini terjadi bukan karena emosi sesaat, melainkan kulminasi dari krisis multisektor jangka panjang. Tingkat pengangguran jauh melampaui 24% di kalangan usia produktif. Harga makanan dan BBM naik. Ditambah ketidakpuasan terhadap mismanajemen ekonomi dan korupsi yang mendarah daging.

Demonstrasi ini adalah respon rakyat terhadap kerusakan sosial-ekonomi-politik selama bertahun-tahun, yang menghancurkan penghidupan mereka.

Ketika membaca berita itu, mungkin kita membaca sesaat, lalu sebentar kemudian melupakannya sembari berpikir, “Terus apa hubungannya sama Indonesia? Kan kejadiannya di Iran.”

Sangat berhubungan.

Kerusakan ekosospol bukanlah kejadian lokal melainkan fenomena global, walaupun bentuknya berbeda-beda di setiap negara. Namun, benang merahnya sama, yakni eksploitasi masyarakat secara masif dalam waktu lama demi keuntungan kapitalistik pihak-pihak tertentu.

Demi keserakahan, wong cilik jadi korban vampir-vampir fulus.

Dan, yang mengerikan adalah kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa hidup mereka dihisap. Kondisi eksploitatif dianggap suatu kewajaran yang tidak perlu dipertanyakan lebih mendalam kebenarannya.

Seiring waktu berlalu, kanker korupsi membesar tanpa disadari, hingga meluas dan mengkomplikasi berbagai sektor kehidupan.

Sedikit demi sedikit, ia mengumpulkan tekanan. Dan ketika titik kritisnya terlampaui, merapi kehancuran pun meletus. Negara tersentak. Sekonyong-konyong semua pihak tersadar ditampar realita.

Namun di titik ini, semua sudah terlambat. Yang paling menderita adalah kalangan rakyat yang rentan. Sementara para pelaku dan pihak oportunis justru selamat. Mereka bahkan makin berjaya, dengan semakin menunggangi kehancuran dan kemarahan massa.

Bajingan memang.

Coba kita lihat contoh konkretnya di Amerika. Di sana, biaya pendidikan sangat mahal. Untuk mengenyam pendidikan tinggi, banyak mahasiswa harus mengambil pinjaman pelajar berjumlah gila-gilaan.

Utang yang besar ini digunakan untuk biaya kuliah, yang kemudian pembayarannya dicicil selama bertahun-tahun setelah mereka lulus dan bekerja.

Skema ini sudah berlangsung bertahun-tahun, sehingga diterima sebagai kewajaran. Padahal, jumlah masif ini sebenarnya amat berpotensi ‘mencacatkan’ muda-mudi usia produktif Amerika secara finansial.

Sebab, dari semua sarjana, tidak semua bisa mendapat kerja. Kalaupun mendapat kerja, hanya segelintir yang gaji dari pekerjaan pertamanya cukup besar untuk hidup normal sembari mencicil pinjaman sampai lunas.

Sisanya tenggelam dalam utang yang terus menggentayangi seumur hidup. Mereka jadi sulit mapan, sulit memiliki rumah, dan lain-lain. Jangankan sejahtera, memikirkan biaya hidup sehari-hari saja bisa stres berat.

Dan yang lebih parah, banyak yang memanipulasi pinjaman pelajar demi kekayaan pribadi. Contohnya adalah penipuan universitas hukum berorientasi profit.

Normalnya, universitas hukum hanya menerima mahasiswa dengan nilai LSAT tertentu yang cukup tinggi, dan tidak menerima calon mahasiswa dengan skor LSAT rendah. Ini bukanlah diskriminasi, melainkan bentuk perhatian pada masa depan calon mahasiswa.

Skor LSAT berkorelasi sangat kuat dengan probabilitas kelulusan pada bar (ujian kelayakan praktik hukum). Ini kemudian menjadi faktor besar dalam prospek jenis pekerjaan dan besar gaji bagi si sarjana.

Universitas gadungan sengaja sangat merendahkan standar masuk mereka. Para mahasiswa yang terpancing lalu mengambil pinjaman untuk kuliah di sana. Ketika lulus, mereka sulit lulus ujian bar. Yang lulus pun amat sedikit yang menjadi praktisi hukum.

Yang menjadi korban adalah dana edukasi federal yang menjadi sumber pinjaman. Sarjana hukum pengangguran yang terlilit utang, sudah jelas. Yang untung hanyalah pemilik universitas standar rendah ini, yang merendahkan standar masuk dan memanipulasi statistik gaji sarjana mereka demi mengeruk pinjaman pelajar tadi.

Skandal ini kemudian diekspos oleh Paul Campos pada 2014, setelah berjalan bertahun-tahun. Bisa dibayangkan jumlah korbannya. Bisa dibayangkan ‘sumbangan’ kasus ini pada kehancuran sosial ekonomi di Amerika.

Lalu ketidakpuasan meluas. Menyebar bagai api di lahan kering. Dan, munculah oportunis sosiopatik semacam Donald Trump. Dia manfaatkan itu demi keuntungan elektoralnya. Trump pun resmi menjadi presiden Amerika pada Januari 2017.

Di Indonesia polanya sama. Berbagai kasus korupsi merajalela, memperkosa bangsa. Kasus Bank Century, korupsi dana haji, korupsi pengadaan Al Quran di Kementerian Agama, korupsi impor daging sapi, dan yang terbaru korupsi e-KTP.

Sengaja tidak saya tulis semua. Lebih gampang menghitung pasir di pantai daripada membuat daftar kasus korupsi di Indonesia.

Dan inilah inti semuanya, bahwa para koruptorlah kanker yang menghancurkan tubuh Nusantara. Kita marah karena ekonomi lesu. Kita marah karena kebutuhan hidup semakin naik dan hidup semakin berat. Kita marah karena susah dapat kerja.

Merekalah sumber kekacauan ini. Dana publik masuk kantong pribadi. Realisasi kebijakan jadi macet. Lapangan pekerjaan potensial jadi hilang. Perbaikan dan perkembangan infrastruktur tinggal mimpi.

Dulu, Islam bisa jaya dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak ilmuwan muslim terkenal dan rakyat kecil tidak terbengkalai. Selain iman, fondasinya adalah dana yang mengalir ke tempat yang tepat. Dana pembangunan perpustakaan dan untuk para ulama, zakat untuk yang berhak, dan sebagainya.

Bagaimana kenyataannya kini? Kejayaan Islam dihancurkan secara masif oleh para koruptor. Mereka bahkan merampok dana terkait Quran dan haji. Kalau bukan laknatullah, apa lagi namanya?

Dan, berapa banyak di antara koruptor yang berpenampilan dan berlagak Islami? Berapa banyak yang tutur katanya santun tapi kelakuannya iblis?

Saya tidak sedang mendiskreditkan Islam. Saya sendiri muslim. Poin saya adalah, kita harus teliti. Senantiasa mengecek. Benarkah dampak pekerjaannya sebaik penampilannya? Apakah nilai-nilai religius benar-benar dipraktekkannya, atau dia menyaru belaka?

Jika kita lengah, Indonesia dan Islam semakin hancur oleh mereka. Lalu mereka mengadu domba umat dengan musuh bikinan mereka.

Dibangkitkanlah hantu komunis. Dikaranglah penguasaan ekonomi Indonesia oleh etnis Tionghoa dan serbuan sepuluh juta pekerja asing dari Tiongkok. Semua yang melawan propaganda mereka akan dilabeli sebagai kafir, liberal, ateis, anarkis, dan lain-lain.

Berlagak kalau kerusakan moral adalah penghancur bangsa, padahal gemetar keringat dingin saat data pelanggan Alexis diancam dibuka. Memelintir narasi untuk mengadu domba, sementara semakin kaya dengan perusakan ekonomi yang nyata.

Benar-benar iblis sejati.

Dalam drama klasik Jerman berjudul Faust, ada tokoh iblis Mefistofeles, yang arti namanya adalah ‘penyerak, pemecah-belah’ dan ‘pembangun dusta-dusta solid’.

Kini, di panggung Indonesia kontemporer, iblisnya adalah para koruptor. Smiling shaitans, setan-setan yang tersenyum. Merekalah kanker parasit yang menghancurkan Indonesia dan Islam.

Menggerogoti dana publik yang menjadi unsur hara pembangunan dan kemajuan selama puluhan tahun, lalu memecah belah, dan mengadu berbagai golongan. Dengan devide et impera, taktik warisan Belanda saat menaklukkan Nusantara.

Koruptor mengadu domba mengatasnamakan SARA dan moralisme. Agama dan moralisme tidak salah. Yang salah adalah pemakan bangkai yang memelintir makna.

Ayat-ayat yang merupakan tuntunan suci telah diperkosa konteksnya oleh mereka. Mereka rendahkan petunjuk kehidupan menjadi propaganda politik.

Merekalah yang membuat AA Navis muntab, lalu menulis cerpen legendaris Robohnya Surau Kami. Spirit cerpen itu sama sekali tidak mendiskreditkan muslim ataupun Islam, namun menawarkan perspektif lain soal bahaya yang dihadapi Islam.

Salah satunya adalah keberadaan koruptor, yang dinyatakan dalam kalimat, “Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?”

Sudah saatnya kita berhenti saling cela.

Jika konflik salah sasaran ini terus berlanjut, saat debu-debu pertikaian kita sudah mengendap, saat tetes uang terakhir milik rakyat habis mereka hisap, tak ada yang menang. Kita semua hancur, sementara mereka semakin mapan.

Yang tertawa hanyalah para setan.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.