Ilustrasi (Pexels/Pixabay)

Pandemi virus Corona (Covid-19) di Indonesia kian genting. Imbauan swakarantina dan bekerja dari rumah (work from home/WFH) semakin digaungkan, meskipun para buruh manufaktur tetap saja harus menggenjot produksi di pabrik-pabrik.

Selama masa swakarantina, anggota keluarga yang biasanya beraktivitas di luar tiba-tiba harus di rumah aja. Alhasil, semua pekerjaan numpuk di rumah. Bagi yang punya anak, kesibukan kian menjadi-jadi karena sering kali harus mendampingi anaknya mengerjakan berbagai macam tugas dari sekolah.

Kondisi itu tentu sangat mempengaruhi situasi di rumah. Bayangkan, rumah plus kantor plus sekolah. Secara tidak langsung, itu menjadi semacam ‘beban baru’, terutama bagi ibu-ibu yang sebelum pandemi Covid-19 ini sudah work from at home.

Baca juga: Pembatasan Sosial, Buruh dengan Upah Harian Bisa Apa?

Belum lama ini, ada unggahan foto di Instagram dari mas Is, eks vokalis Payung Teduh, yang berusaha menyanjung istrinya karena sudah begitu sabar menemani belajar 3 anaknya yang masih SD, serta mengurusi 2 anaknya yang balita. Pun, masih mampu mengurus makanan untuk seluruh anggota keluarga, termasuk mas Is.

Dalam caption yang mas Is tulis, perannya sebagai suami yaitu menyediakan perut untuk dicubit ketika sang istri mulai lelah atau kehabisan rasa sabar.

Di sini, saya sama sekali tidak berniat untuk menyudutkan mas Is yang sekilas ‘hilang’ dalam narasi kesibukan istrinya. Mungkin, mas Is memang bermaksud ingin meringankan beban sang istri selama masa swakarantina, dan tidak ingin pencitraan dengan cara menunjukkan dirinya sedang mengambil peran untuk urusan rumah tangga.

Namun, belakangan ini, banyak para suami yang WFH justru menambah beban kerja istri di rumah. Prinsip berbagi peran seketika runtuh.

Baca juga: Cerita Orangtua, Guru, dan Anak selama Belajar dari Rumah

Jadi, wahai para suami, ketahuilah bahwa pada masa-masa yang sudah sulit ini, jangan menambah sulit lagi. Mereka yang sebelum masa pandemi ini sudah bekerja di rumah selama 7 hari dalam seminggu, jangan sampai menanggung beban yang berlipat-lipat. Ini sih bukan beban ganda lagi namanya.

Bayangkan, melihat suami bangun siang, lalu minta sarapan. Setelah itu, kerja buka laptop tanpa memikirkan pekerjaan rumah tangga sama sekali. Siangnya rebahan sambil nyekrol linimasa media sosial. Boro-boro mendampingi anak belajar dari rumah.

Itu contoh suami dengan selemah-lemahnya iman.

Ingatlah, wahai bapak-bapak sekalian, katanya anak-anak adalah buah cinta kalian, bikinnya dulu juga berdua, jadi ya tanggung jawab juga harus dipikul berdua. Temanilah anakmu belajar dan mengerjakan tugas selama di rumah aja.

Sudahlah, jangan berdalih “saya kan sudah bayar SPP”, sebab kalau para istri kalian mau, mereka tentunya masih mampu untuk mencari pundi-pundi rupiah sambil tetap mengurus rumah. Atau, coba deh posisinya dibalik. Bapak-bapak, sebagai manusia yang sama-sama punya akal dan tenaga, tentu juga mampu cari duit sambil tetap mengurus rumah. Tapi, masalahnya, bapak-bapak mau atau tidak?

Baca juga: Waktu Bikin Anak Bilang Enak, Setelah Lahir Nyalahin Istri Melulu

Lalu, untuk urusan makan, masyarakat kelas menengah terutama kaum urban memang semakin dimudahkan dengan kehadiran Ojol yang kapan pun siap mengantarkan makanan ke rumah. Tapi kan, tidak semua keluarga mampu untuk beli makanan via Ojol setiap hari selama masa swakarantina. Artinya, ya masak sendiri supaya hemat. Baiklah, semisal istri yang masak, suami mau ke pasar?

Nah, kalau bapak-bapak sekalian memang tidak bisa masak atau ke pasar, setidaknya bisa ambil peran lainnya. Cuci piring kek, masak nasi kek, nyuci baju, nyapu atau ngepel atau apalah. Jangan tunggu disuruh atau dimintai tolong istrimu. Sebab, kebanyakan dari mereka masih ‘terpenjara’ rasa bersalah untuk melibatkanmu dalam urusan domestik.

Tidak perlu juga kalian basa-basi untuk menawarkan bantuan. Kalau memang tahu lantai rumah kotor, segeralah ambil sapu dan kain pel untuk membersihkannya. Kalau tumpukan piring kotor sudah menumpuk, jangan tunggu nanti untuk segera mencucinya. Toh, kalau rumah bersih, kalian juga yang akan merasa nyaman, bukan? Aktivitas WFH-mu juga jadi menyenangkan.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Kalaupun bapak-bapak sekalian sudah melakukan itu, eitsss… jangan buru-buru pongah dan sok pahlawan bahwa hari itu kalian sudah mencuci piring bekas makanan orang serumah, atau sudah menyapu dan mengepel seluruh lantai di rumah. Sebab, itu baru sekian persen dari pekerjaan domestik yang dalam sehari terasa tidak ada habisnya.

Jadikanlah masa swakarantina ini sebagai momentum untuk berbagi kasih sayang. Istrimu juga berhak untuk duduk santai membaca novel sambil maskeran, atau rebahan cantik sambil nonton drama Korea.

Mereka tidak butuh sekadar diberi apresiasi berbumbu puja-puji di media sosial dan ucapan “semangat sayang”. Ketahuilah, dua hal tersebut tidak membuat pekerjaan rumah tangga menjadi beres dalam seketika.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini