Serial Clickbait. (Netflix)

Serial terbatas Clickbait di Netflix memberikan clickbait untuk penonton sejak pembuka episode pertama. Dikisahkan di internet telah beredar sebuah video misterius yang menunjukkan seorang pria memegang plang bertuliskan “Saya akan mati pada lima juta tayangan”.

Sepintas mirip fenomena seorang sutradara yang sempat membuat tantangan di Twitter. Jika pengikutnya mencapai angka 3.000 dalam satu hari, ia akan bugil di minimarket. Saat itu, netizen kompak mengikuti akun sang sutradara sampai menembus target. Alhasil, ia menepati janjinya dan tak lupa didokumentasikan untuk jejak digital.

Bedanya, di serial Clickbait ini karakter bernama Nick Brewer dipaksa oleh penculik untuk membuat video tantangan tersebut. Bukannya mencegah agar videonya tidak ditonton sampai lima juta tayangan, netizen justru berbondong-bondong menontonnya dengan alasan penasaran. Termasuk, keluarga Brewer sendiri untuk memantau jumlah tayangan terkini.

Episode pertama pun ditutup dengan akhir yang bikin penasaran. Begitu pula dengan episode-episode selanjutnya yang mampu membolak-balikkan persepsi penonton.

Dipilihnya judul Clickbait bukan tanpa alasan. Sebab serial ini membicarakan tentang bagaimana kebiasaan awak media melempar clickbait kepada publik dengan judul-judul berita yang sering kali malah menyesatkan. Ditambah, komunitas internet yang terlalu cepat menghakimi seseorang hanya karena clickbait tadi. Biasanya dilanjutkan dengan cancel culture.

Baca juga: Influencer di Dunia Siber: Sedikit Blunder, Jatuhnya Abuse of Power

Padahal, seperti halnya podcast dan vlog beberapa top influencer, sebuah judul bisa sangat berbeda dengan kontennya. Namanya juga clickbait, dibuat agar penonton tertarik untuk menekan tombol klik. Urusan relevansi dengan kontennya biar algoritma yang menentukan.

Kita tidak bisa menyimpulkan sebuah isu hanya dengan membaca judul. Seyogianya menyimak dengan saksama dan mencari referensi lain agar berimbang. Kalau perlu sampai tabayyun dan menunggu klarifikasi pihak terkait.

Itulah yang ingin disampaikan oleh serial Clickbait. Selain itu, ada intisari pesan dari 8 episode Clickbait tentang protokol kesehatan di internet. Ingat disiplin 3M berikut ini!

Memakai password yang kuat di media sosial

Password untuk sebuah akun ibarat masker untuk mencegah virus. Semakin rumit kata sandinya, semakin ketat keamanannya, seperti pakai masker respirator. Dengan dibentengi password yang kuat, akun media sosial dapat terhindar dari aksi pembobolan pihak tak bertanggung jawab.

Namun, percuma saja pakai password yang sulit ditebak, kalau dikasih tahu ke orang lain. Walaupun kenal dengan orangnya, bukan jaminan dia tidak iseng-iseng masuk ke akun media sosial untuk kesenangan pribadi. Nah, itulah awal mula bencana di serial Clickbait. Ketika dapat kesempatan, bahkan orang yang tampak baik pun bisa melakukan perbuatan terburuk.

Baca juga: Jika Bukit Algoritma Jadi Latar Tayangan Komedi Situasi

Membocorkan password media sosial kepada seseorang sama dengan menyerahkan leher kita kepadanya. Sebab dia jadi bisa mengakses akun pribadi kita, mengontak teman kita, dan mencuri data-data pribadi kita. Kalau dia sampai memanfaatkan identitas kita untuk merugikan orang lain, yang tercemar ya nama baik kita.

Bisa saja besok-besok ada teman yang menagih utang, padahal kita tidak pernah berutang. Ternyata sebelumnya ada orang yang masuk ke akun kita dan pura-pura menjadi kita untuk pinjam uang ke semua kontak teman.

Menjaga jarak dengan orang asing di internet

Kalau pas awal pandemi ada istilah social distancing, seharusnya di internet ada istilah social media distancing. Yaitu, menjaga jarak aman dengan orang asing yang kita temui di media sosial. Jangan pernah mengumbar cerita pribadi yang sifatnya rahasia kepada seseorang tak dikenal di internet. Apalagi, foto dan video pribadi.

Seseorang memang bisa jatuh cinta via daring. Bahkan sebelum adanya pertemuan. Saat ini, mungkin bekerja bisa dilakukan secara jarak jauh, sekolah pun tak harus tatap muka. Namun, berbeda dengan urusan asmara. Inti dari sebuah hubungan percintaan adalah bersua.

Sebab seseorang yang memakai foto profil manis dengan kata-kata puitis di situs kencan, bisa saja di kehidupan nyata adalah predator yang tinggal di rubanah dan sedang mencari mangsa.

Baca juga: Privasi Anak di Media Sosial Itu Penting, Katanya Sayang?

Membersihkan tangan dari perbuatan yang bisa merugikan orang lain

Otak kejahatan di drama thriller Clickbait bukanlah seorang peretas andal yang mampu membobol sistem keamanan negara dalam waktu singkat. Dia sama seperti kita yang kemampuan IT-nya segitu-gitu aja. Namun, perbuatan isengnya lah yang berbahaya.

Kecepatan internet harusnya dibarengi dengan kedua tangan yang bersih. Demi keselamatan diri sendiri, jagalah jari-jari kita dari perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Misalnya, berkomentar jahat di konten berita tentang artis. Apalagi komen julid di akun medsos teman kita sendiri pakai akun palsu.

Selain pasal UU ITE bisa digunakan untuk menjerat perbuatan tak menyenangkan tersebut, yang perlu diingat juga adalah kondisi kesehatan mental setiap orang berbeda-beda. Bisa saja kata-kata yang kita anggap biasa saja malah bisa membuat seseorang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Pepatah “Kata-kata lebih tajam daripada mata pedang” nyatanya makin relevan di era informatika ini.

Artikel populer: Melihat AlRawabi Menangani KPI (Kasus Perundungan Internal)

Tingkat lanjutnya, menggunakan identitas palsu untuk menipu seseorang di aplikasi kencan. Modusnya, berpura-pura menjadi pria single & ready to mingle. Tebar pesona dengan kata-kata buaya. Terus, minta PAP (post a picture) dalam berbagai angle berbahaya. Ujung-ujungnya disebarluaskan atau malah diperjualbelikan.

Atau, pakai foto selebgram jelita untuk memancing korban, ujung-ujungnya minta ditransfer uang. Setelah dana masuk, langsung blokir, cari mangsa lain. Kegiatan manipulatif ini dikenal dengan istilah catfishing. Upaya penipuan yang dilakukan individu untuk menjerat korban di dunia maya, umumnya dalam relasi romantis. Kerugian yang diderita korban bisa berupa material maupun emosional (sudah merasa dekat, tapi hanya dikelabui).

Padahal, daripada catfishing, mending ternak lele.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini