Sepak Bola Perempuan Melawan Stigma, Ayo Tendang, Jeung!

Sepak Bola Perempuan Melawan Stigma, Ayo Tendang, Jeung!

Ilustrasi (Manchester Evening News)

Tak akan ada yang cukup gila menukar hidupnya demi sebuah permainan. Sekalipun ada sosok yang mendaku diri sebagai pencinta sepak bola yang khusyuk, menyimpan segenap nama pemain, serta taktik tim-tim Eropa di kepalanya, tetap saja, kehidupan jauh lebih genting ketimbang permainan 22 orang tersebut.

Tetapi realitas kadang memunculkan kisah yang sulit diterka. Untuk menendang bola, Khalida Popal mesti melawan segala bentuk friksi menyangkut keamanan. Bahkan, bukan hanya dia, men-dribbel bola berarti juga mengantar ayah dan ibunya dalam bahaya. Kesalahannya? Karena ia perempuan.

Di Afghanistan, sepak bola menjadi barang haram untuk perempuan. Kelompok Taliban menjadi otoritas moral yang merasa berhak mengatur segala tindak-tanduk masyarakat. Bila kedapatan seorang perempuan ikut dalam permainan sepak bola, nyawa bisa menjadi taruhannya.

Bertahun-tahun, timnas sepak bola perempuan Afghanistan mesti melewati berbagai ancaman. Mereka bahkan tak pernah bermain dengan jumlah yang tetap dalam beberapa tahun terakhir. “Mereka diludahi, mereka dilempari batu, sering terjadi ancaman pengeboman terhadap mereka,” kata Kelly Lindsey, pelatih timnas tersebut.

Lindsey bahkan mengaku tak pernah menginjakkan kaki di Afghanistan. Ia terpaksa meninggalkan keluarganya tanpa pamitan untuk lari dari kejaran dan ancaman Taliban. Ia adalah pesepakbola yang keras kepala dan menolak tunduk pada dikte moral kelompok radikal tersebut.

Kisah timnas sepak bola perempuan Afghanistan bagi saya pas untuk menjadi pembuka bagaimana perempuan dan sepak bola menjadi dua hal yang saling membutuhkan, namun tak kunjung menyatu.

***

Ada yang menarik dari cuitan Jacqui Oatley, presenter olahraga BBC, beberapa waktu lalu. Bunyinya: “Chelsea Fans: your women’s team needs your support this Weds in Kingston.”

Sepintas cuitan tersebut tampak normal, Jacqui hanya menginfokan laga Chelsea Ladies kontra Montpellier di leg kedua babak perempat final Liga Champions. Namun, bagi pencinta sepak bola tentu akan menemukan suatu keganjilan.

Begini, info atau ajakan seperti itu tak akan ditemukan kala yang berlaga bukan Chelsea Ladies, melainkan Chelsea yang diisi pemain macam Hazard dkk. Para true blue – julukan pendukung Chelsea – secara otomatis akan mendukungnya, atau mungkin mereka sudah menyetel alarm di gawai.

Lalu siapa yang kenal dengan Fran Kirby, Eniola Aluko, atau Ji So-yun? Siapa pula yang mencatat jadwal pertandingan mereka?

Menyaksikan cuplikan pertandingan Chelsea Ladies vs Montpellier Ladies tak ubahnya menonton sebuah pertandingan persahabatan tim-tim semenjana. Bagaimana tidak, suasana stadion yang sepi senyap begitu menyedihkan. Bahkan bisa dibilang orang-orang lebih menunggu laga Chelsea U-17 ketimbang menyaksikan Fran Kirby mengolah bola.

Darmanto Simaepa dalam bukunya, Tamasya Bola, menyebutkan, walaupun setiap pekan pertandingan sepak bola mengisi ruang-ruang keluarga, tetapi olahraga ini tak pernah menjadi olahraga kaum perempuan.

Alih-alih menjadi aktor utama, kehadiran perempuan di tengah tayangan sepak bola lebih sebagai pemanis. Setiap akhir pekan, di ruang keluarga, para suami menatap layar penuh seksama, sementara perempuan berkutat di dapur menyeduh kopi atau menggoreng pisang.

Begitu juga di lokasi nobar. Banyak perempuan menyukai sebuah tim lebih karena sang kekasih menyukainya. Terlebih dibuatkan jersey couple, senangnya bukan kepalang. Padahal, sepak bola tidak memiliki alat kelamin, tapi kenapa kesan misoginis menempel erat di setiap sendinya?

Salah satu yang paling mudah ditunjuk adalah chant-chant yang sering berkumandang di stadion. Nyanyian berlirik seksis kerap terdengar di stadion-stadion tim Liga Inggris. Yang sering terdengar adalah “Your boyfriend is waiting at home for his tea” atau “back to your kitchen”.

Suporter di Inggris memang terkenal bebal, mereka sinis terhadap apa saja. Hal itu melekat pada beberapa kelompok suporter. Sentimen seksis, anti-semit, hingga rasisme menjadi persoalan genting sepak bola di Inggris.

Eva Carneiro, mantan tim medis skuat Chelsea, pernah menjadi korban. Anehnya itu dilakukan oleh pendukung tim yang mempekerjakan dia. Setiap kali Eva berlari ke arah lapangan, terdengar umpatan “get your tits out for lads”.

Women in Football, lembaga yang menaruh perhatian bagi nasib pekerja perempuan di industri sepak bola pernah merilis data tentang perlakuan berbeda yang dialami mereka. Sekitar 70% pekerja perempuan di industri tersebut menghadapi ‘lelucon’ seksis.

Pada 2012, mantan pemain Queens Park Rangers Ladies, Alexandra Nord, membuat pengakuan mengejutkan. Ia pernah menjadi percobaan perkosaan oleh seorang pemain top Liga Inggris. Sayangnya, Alexandra menolak menyebut nama pemain tersebut.

Logika Bisnis

Sepak bola memang tak memiliki alat kelamin, ia boleh dimainkan oleh siapa saja. Bahkan, jika mau, Lucinta Luna juga bisa memainkannya. Tapi logika bisnis mengenal segmentasi pasar. Dan, tampaknya, kapital dalam sepak bola lebih memilih kaum lelaki sebagai target konsumen.

Hal ini tampak dari bagaimana porsi pemberitaan media terhadap sepak bola perempuan. Ada banyak sekali media yang berfokus pada tema olahraga, bahkan yang wabil khusus menjadikan sepak bola sebagai fokus utama. Tapi jarang sekali menemukan pemberitaan ihwal sepak bola perempuan.

Maka, sebagai sebuah industri yang menjadikan pria sebagai target, tak heran peran perempuan di sini hanya sebagai pemanis belaka. Memang ada nama-nama seperti Watanya Wongopasi di Thailand atau Ratu Tisha Destria di Indonesia. Tapi rasanya sulit untuk mengatakan keterlibatan perempuan sudah mumpuni.

Beberapa tahun lalu, ada sebuah gerakan di Inggris yang mengkampanyekan tagar #ThisGirlCan. Gerakan yang diinisiasi oleh England Sport itu bermaksud agar lebih banyak perempuan yang berani terlibat dalam bidang olahraga, yang menurut mereka selama ini masih minim.

“The number of women regulary participating in sport was 6,91 million.” Begitu menurut data yang dihimpun oleh Active People Survey pada  2015.

Tak heran, jika kemudian kita menemukan peran perempuan dalam industri sepak bola hanya sebagai pemanis atau sebagai salah satu faktor penarik konsumen, yang dalam hal ini adalah kaum lelaki.

Kita bahkan lebih mengenal WAGs (wives and girlfriends) pesepakbola macam Cristiano Ronaldo ketimbang Marta Vieira da Silva, pesepakbola asal Brasil yang meraih predikat pemain terbaik dunia selama lima tahun berturut-turut, kan? Syedih…

Ayo tendang, Jeung!

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN