Ilustrasi (Photo by Mathieu Bigard on Unsplash)

Satu per tiga dari populasi orang dewasa di Amerika, menurut Pew Internet and American Life Project, cenderung menyukai bertukar pesan teks ketimbang panggilan telepon. Data yang dihimpun pada 2011 itu terus berkembang hingga kita sampai di suatu kondisi dimana generasi milenial punya nama lain: generasi mute.

Anak-anak generasi milenial – yang lahir pada 1980-an hingga 1997 – tercatat lebih sering menghindari panggilan telepon. Bentuk komunikasi yang template jauh lebih disukai, yaitu melalui teks atau bahkan yang lebih ekstrem: sindir-sindiran lewat update-an Instagram Story.

Munculnya layanan Short Message Service alias SMS (atau yang dulu pernah juga ditulis dengan “CMZ” agar lebih Lo3chUe) menjadi standar komunikasi yang dipegang teguh pengguna ponsel. Munculnya aplikasi berbasis teks, mulai dari masa-masa kejayaan Mig33 hingga WhatsApp dan LINE hari ini, mendorong kecintaan milenial pada komunikasi menggunakan teks di ponsel.

Mematikan suara ponsel

Gini, gini. Jangan bahas telepon-teleponan dulu, deh. Lah wong nyatanya kebanyakan generasi milenial benar-benar mengaktifkan mode silent alias mute-in hapenya sendiri, kok. Coba cek ponselmu, apakah kamu perlu mematikan suara hape saat masuk ke studio di bioskop? Kayaknya banyak yang nggak deh. Sebab, pada dasarnya, hapemu juga udah introvert nggak dinyalain suaranya.

Baca juga: Saran untuk Milenial yang Instagramnya Kurang Bergengsi

Suara hape (dan getarannya) bagi sebagian orang cukup menyebalkan. Lebih menyebalkan lagi, suara ini berulang terus tanpa henti, apalagi kalau grup chat di WhatsApp lagi ramai-ramainya. Yah, mana tahan sih dengar suara ting-ting-ting yang bisa sampai 10 kali dalam 1 menit? Minimal grup chat-nya dibisukan.

Ada alasan lain kenapa suara di hape bukanlah favorit saya atau mungkin kamu juga. Waktu kita lagi seru-serunya main game, dengerin lagu, atau nonton video di YouTube, rasanya bakal super ganggu kalau bunyi chat atau SMS masuk terus-terusan terdengar, apalagi kalau ada telepon, ngagetin!

Hal berbeda bakal terasa kalau hape di-silent total. Meski sama-sama memotong keseruan main game, dengerin lagu, atau nonton video, setidaknya nggak bakal membuat kita kelojotan saking kagetnya dengerin suara keras tiba-tiba.

Dengan mematikan suara hape (yang sudah berlangsung sejak… selamanya?), kamu juga punya kemungkinan untuk bersikap tenang-tenang saja saat harus rapat mendadak atau datang ke acara manapun yang mensyaratkan ketenangan. Kamu juga nggak bakal jadi orang yang dipelototin kalau tiba-tiba hapemu berdering keras setelah salat Jumat selesai. Pokoknya, semakin mingkem suara hape, semakin damai hidup ini.

Baca juga: Nggak Langsung Balas Chatting, Kasar Nggak sih?

Bisa nggak sih, nggak usah telepon?

Mode silent inilah yang kemudian menjadi alasan paling populer kenapa seorang milenial – atau salah satu dari kita – memutuskan untuk nggak mengangkat telepon. Menurut data yang pernah dikumpulkan oleh BankMyCell.com, sebanyak 63% pengguna ponsel lebih suka bilang, “Sorry, sorry, gue nggak denger telepon masuk tadi.”

Sementara, sisanya punya alasan bervariasi. Sinyal telepon lagi jelek lah, lagi rapat, lagi nyetir, nggak nemu-nemu hapenya di mana, hape lagi error, hingga nomor telepon nggak di-save dan si penerima jadi ragu-ragu buat angkat telepon.

Sebagai orang yang kadang kelewat pemalu dan nggak berani ngomong di depan banyak orang, saya nggak terlalu nyaman berkomunikasi melalui telepon dan lebih memilih membalas pesan pakai email. SMS dan WhatsApp juga boleh, asal bukan telepon yang datang tiba-tiba!

Eh, memang kenapa?

Sama nyebelinnya kayak orang yang kebiasaan nge-chat manggil nama kita dulu, lalu bilang, “Boleh nanya nggak?” Alih-alih langsung nanya, kegiatan menelepon punya kemungkinan bakal menjebak kita pada pembicaraan basa-basi pada menit-menit pertama. “Lagi apa?”, “Sibuk apa?”, “Aku ganggu, nggak?”, dan lain-lain adalah awalan yang mengarah ke – mungkin saja – obrolan panjang sekian belas menit sebelum kalian masuk ke topik inti. Padahal, daripada bertele-tele, mending langsung kirim aja pesan pakai email atau WhatsApp. Duh.

Baca juga: Membayangkan Isi Percakapan Grup WhatsApp Charlie’s Angels

Lagi pula, telepon bisa jadi sangat menyebalkan, apalagi kalau kita lagi berdebat dengan seseorang via teks. Bayangin deh, lagi adu ngotot berantem sama pacar di WhatsApp, eh tiba-tiba dia telepon. Niatnya sih biar masalahnya clear, ta-ta-tapi, kan…

…tapi kan, kita belum siap mau ngomong apa!!!11!!!1!!!

Membalas pesan seseorang selalu bisa dilakukan kapan pun ketika kita sudah siap membalasnya. Nggak bakal ada seorang pun yang tahu apa yang bakal kita jawab lewat pesan teks, kecuali kita sendiri. Kita bisa dengan maksimal mempersiapkan jawaban terbaik: mau pesan yang kuat argumennya, menyentuh hati, atau bahkan pesan secuek apa pun.

Bayangkan, kalau segala persiapan itu mendadak ‘bergoyang’ gara-gara telepon masuk dari si lawan bicara. Kita bakal ‘diserang’ untuk berpikir dan bicara langsung dalam waktu yang singkat, dan – ya ampun – itu kan susah!!!!1!!1!!!!

Lagian, menelepon itu kan bersuara. Saya ulangi lagi: bersuara. Masih mending kalau ditelepon pas kita sudah masuk rumah. Lah, kalau ditelepon pas lagi nunggu KRL di peron atau pas kita lagi jalan-jalan di trotoar Jakarta, kan males banget harus ngobrol sambil dikupingin orang-orang?!

Artikel populer: Pleidoi Mahasiswa untuk Dosen yang Tergila-gila dengan Etika saat ‘Chatting’

Yang nggak kalah unik dari survei tadi adalah, sebanyak 81% kalangan generasi mute milenial ini mengaku perlu mengumpulkan keberanian kalau ‘terpaksa’ harus menelepon seseorang. Yah, kayak ada anxiety-nya gitu. Deg-degan.

Meski sekilas terkesan absurd dan cemen, kegiatan telepon-teleponan memang nggak melulu jadi favorit semua orang. Nggak sedikit orang nyuekin telepon dari teman-teman, keluarga, dan rekan kerja karena alasan-alasan di atas, apalagi kalau teleponnya mendadak.

Jadi, kalau memang mau telepon, setidaknya bisa kan kamu WhatsApp dulu – dan bilang “aku telepon 5 menit lagi, ya!” – daripada dicuekin? Bukan apa-apa, gaya hidup juga sudah berubah. Pola komunikasi ikut berbenah. Generasi mute sedunia, bersatulah!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini