Ilustrasi thrift shop. (Image by Olivia Gonzalez from Pixabay)

Lagu berjudul “Thrift Shop” memang dipenuhi kata-kata vulgar dan kalimat sarkasme. Namun, sejarah mencatat, lagu itulah yang pernah menyorong nama penyanyi hip hop Amerika, Macklemore & Ryan Lewis, menuju aras tertinggi kariernya; penjualan yang melewati dua juta kopi, menduduki tangga teratas Billboard selama enam pekan – tanpa sokongan label raksasa – dan menjadi intaian paparazi.

Lagu itu sebetulnya sederhana. Tentang kisah seorang manusia yang ingin tampil necis, tapi meragukan dompetnya yang hanya menyimpan lipatan duit dua puluh dolar. Alternatif yang kemudian ditempuh adalah mengunjungi toko barang bekas yang menjajakan ‘pakaian para pendahulu yang berselera tinggi’.

Bagian provokatifnya, yang mungkin membuat lagu ini bernasib mujur, adalah kampanye untuk mencopot label dan menyudahi tipu daya barisan merek yang mematok harga tak masuk akal – dan jelas tak masuk di kantong.

Tiga tahun setelah pertama kali mendengar lagu “Thrift Shop” di sudut warnet kecamatan kecil di Pandeglang, yang jaraknya hanya beberapa jam dari tempat penangkaran badak bercula satu, akhirnya saya berkesempatan melakoni – secara harfiah – apa-apa yang ditembangkan oleh Macklemore & Ryan Lewis.

Baca juga: Jangan-jangan, Ini yang Terjadi di Balik Baju Mahalmu

Pada 2017, awal-awal masa kuliah, berkat bujuk rayu seorang kawan, saya menyusuri lorong-lorong Pasar Senen, Jakarta, dan bersilaturahmi dengan para pengepul yang menjajakan pakaian ‘loak-impor’ (yap, istilah itu yang digunakan oleh kebanyakan dari mereka). Untuk kemudian pulang dengan membawa dua setel jeans, yang ditebus dengan uang seharga ‘hanya’ empat kali makan siang.

Meski sang penjual berusaha meyakinkan bahwa barang dagangannya telah dibersihkan secara teliti, sepanjang jalan pulang seorang kawan terus mengingatkan – secara sporadis – agar mencucinya dengan rendaman air panas guna merontokkan barisan kuman dan bakteri. Barang bekas, meski menyorotkan kilau keemasan sekalipun, tetaplah barang bekas dan kita patut menaruh waspada.

Alih-alih menuruti saran, saya malah menghibahkan pakaian tersebut kepada sepupu di kampung. Disadari atau tidak, saya telah murtad dari konsep thrift shop, karena laku demikian lebih dekat pada mubazir ketimbang berhemat.

Baca juga: Hidup Minimalis tapi Ujung-ujungnya Tetap Kapitalis

Beberapa tahun kemudian, perilaku memburu pakaian-pakaian bekas ternyata menjadi tren mutakhir di kalangan anak muda. Bedanya, jika dulu pangsa pasar yang dituju adalah kelompok orang berdompet cekak, kini segalanya lebih spesifik; anak-anak muda yang hendak tampil kekinian, dengan preferensi beragam, namun kebanyakan masih belum mampu berdamai dengan urusan finansial.

Dan, yang tak kalah menarik, perburuan – atau dikenal dengan istilah ‘thrifting‘ – tidak saja ditujukan untuk pemakaian pribadi, tapi untuk mendulang pundi-pundi rupiah. Mereka menjual ulang di loka pasar atau kanal-kanal media sosial. Ini bisnis yang sangat menjanjikan, jujur saja. Coba ketik “Thrift Shop” di kolom pencarian Instagram, jumlahnya tak kalah banyak dengan akun-akun jual beli followers.

Sebagai sesama anak muda pemilik saldo rekening yang menyedihkan, saya takjub dan menjura dengan siasat semacam itu. Tren demikian membuat kita punya lebih banyak alternatif, meski saya pribadi lebih memprioritaskan produk-produk lokal yang sama terjangkaunya.

Baca juga: ‘Hypebeast’ yang Katanya Bikin Anak Muda Jadi Eksis

Namun, sebagaimana karedok yang tiba-tiba harganya melejit empat kali lipat hanya karena berubah nama menjadi ‘vegetables salad with peanut sauce’, pakaian bekas ini pun bernasib serupa. “Thrift”, setelah menjajaki proses rebranding sedemikian rupa, memang terdengar lebih elegan ketimbang “murah”, “irit”, “hemat”, atau “loak”.

Baru-baru ini menyeruak di media sosial, fakta bahwa ada sejumlah pengepul yang bermain-main dengan harga. Meski nyaman dengan label “Thrift Shop”, mereka malah memasang harga yang mencekik. Dalam beberapa kasus dibeberkan bahwa harganya bisa setara dengan satu set produk pakaian lokal yang masih gres.

Melihat kelakuan demikian, barangkali Macklemore & Ryan Lewis bakal menyesal telah menciptakan hits bertajuk “Thrift Shop”, yang menjabarkan peristiwa belanja dengan pertimbangan ekonomis. Dan yang jelas, perangai demikian berlawanan dengan konsep ‘thrifting‘ yang dipraktikkan oleh kelompok hippies era 60-90-an yang dominan ideologis.

Roh thrift shop pada era itu adalah kehendak untuk mengangkangi mode arus utama, keinginan untuk mencoret katalog-katalog brand nomor wahid. Semacam semangat yang bisa dirangkum dalam kalimat; semua orang berhak menawan, setiap orang berhak melawan.

Artikel populer: Meski Tampak Progresif, Hipster Bisa juga Dilihat sebagai Penjajah Modern

Dalam kasus yang belakangan marak, nilai yang mereka jual adalah ‘vintage/rare item‘, dan berusaha membenamkan pemahaman bahwa thrift shop tak sama artinya dengan ‘terjangkau’. Agak ganjil, memang, itu sama seperti mengatakan bahwa air laut tak selalu asin, atau kangen tak selamanya Dewa 19.

Selain bisa bikin kesal para ahli bahasa, sebenarnya upaya itu lebih mirip karakter para hipster menjelang akil baligh – semoga kalian bisa membedakan antara hipster dan hippies – yang kadang-kadang bikin gondok.

Ujung-ujungnya, ketika thrift shop direcoki hipster, kita yang mau bergaya tapi berhemat ini malah jadi ‘sekarat’. Hipster kok gitu amat?!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini