Semisal Warkop DKI Berkunjung ke Desa ‘Penari’ Midsommar

Semisal Warkop DKI Berkunjung ke Desa ‘Penari’ Midsommar

Warkop DKI Reborn (Falcon Pictures)

Warkop DKI adalah warisan perfilman Indonesia. Untuk melestarikannya, Indro Warkop menggandeng sutradara kenamaan untuk membuat versi reborn yang diperankan oleh aktor-aktor Tanah Air. Sebelumnya, ada Warkop DKI Reborn garapan Anggy Umbara, lalu dibuat lagi versi reborn di bawah arahan Rako Prijanto.

Untuk membedakan versi terbaru dengan edisi sebelumnya, mungkin kita harus menyebutnya Warkop DKI Reborn-nya Reborn.

Di film Warkop DKI Reborn terbaru, ada parodi film-film fenomenal dalam negeri. Sebut saja Dilan 1991, Ayat-ayat Cinta 2, dan AADC 2. Terus, Bumi Manusia diplesetkan menjadi “bunyi manusia”. Pengabdi Setan jadi “pengabdi besan”.

Di film ketiganya ini, Dono, Kasino, dan Indro melancong ke padang pasir di Maroko. Nah, saya membayangkan, bagaimana seandainya destinasi mereka meleset jauh ke film lain, yakni ke Desa Penari Harga di Swedia? Apakah bisa jadi parodi Midsommar?

Midsommar adalah film horor yang menceritakan perjalanan spiritual karakter utama bernama Dani. Dani dan rekan-rekannya berkunjung ke sebuah festival musim panas di Swedia. Di sana, mereka terjebak dalam sebuah sekte dengan ritual aneh.

Baca juga: Cek Seberapa Dononya Abimana di Film Gundala

Tak selamanya horor bersembunyi di balik kegelapan, teror Midsommar muncul terang-benderang. Pada siang bolong, penuh bunga-bunga, penonton disajikan adegan penuh kengerian.

Di Indonesia, filmnya kena sensor habis-habisan, setelah beberapa kali diundur-undur penayangannya. Kalau diparodikan dengan Warkop DKI Reborn, sepertinya tidak perlu ada sensor sama sekali. Cukup mengganti karakter Dani dengan Dono. Dono tentunya ditemani oleh Kasino dan Indro.

***

Dono, Kasino, dan Indro terbang ke Swedia untuk merayakan festival musim panas. Mereka diundang ke sana oleh teman kampus pertukaran pelajar bernama Maya.

“Kalian bisa melakukan tugas KKN di sini,” janji Maya.

Sesampainya di Desa Harga, Dono, Kasino, dan Indro disambut oleh penduduk desa.

“Selamat datang di Harga,” sambut teman-teman sekampung Maya.

Kemudian, mereka menari-nari di taman.

“Lihat orang nari, gue jadi pengen nyanyi,” cetus Kasino, lalu ambil ukulele dan mulai bernyanyi.

Tarian gadis-gadis itu pun diiringi “Nyanyian Kode” dari Kasino.

“Uwe wong bu, aruko

Namidana kodore nariyo

Omoidatsu natsunohi

Yang baju merah jangan sampai lolos.

Siawasiwa…”

Baca juga: Cara Mengalahkan Annabelle Selain dengan Agama

Indro menyela, “Lagunya baru, Om?”

“Cerewet!” sahut Kasino masih asyik nyanyi. “Owono uweni..”

“Kasetnya udah beredar, Om?” Dono gantian menyela.

“Gue tabok lu ye! Gue heran bener kok jadi lupa. Gara-gara Dono gue mesti masuk reff lagi.” Kasino nyanyinya makin belepotan. Mempengaruhi ritme tarian yang semakin tak beraturan.

“Katanya Desa Harga, tapi orang-orangnya pada suka nari. Harusnya dinamain Desa Penari,” komentar Indro.

Dono ikut-ikutan menari, tapi di tengah-tengah tarian harus melipir ke kebon karena celananya robek.

***

Baru sehari tinggal di desa itu, anggota Warkop sudah harus menyaksikan ritual aneh yang diselenggarakan anggota sekte. Sepasang lansia hendak terjun dari tebing dan disimak secara saksama oleh anggota sekte.

Melihat kejadian itu, Dono, Kasino, dan Indro tidak tinggal diam. Mereka bertiga ambil kasur untuk menyelamatkan kakek-nenek tersebut.

Kakek-nenek pun lompat, jatuh ke kasur dan selamat.

Ritual pun batal.

Baca juga: Mencari Alasan Mengapa Kerajaan Ubur-Ubur Memilih Ubur-Ubur sebagai Nama

Kasino hanya bisa komentar, “Ada orang tua meleng, bukannya ditolongin, malah pada nonton. Bocah ora ana pendidikane. Barbar pisan.”

Pemimpin sekte menjelaskan kepada Indro bahwa ritual tersebut adalah proses lingkaran kehidupan. Indro meneruskan penjelasan itu ke Kasino yang masih sewot sendiri.

“Kas, katanya kakek-nenek lompat dari tebing tadi itu adat istiadat di sini. Udah rutin diadain setiap 90 tahun sekali,” terang Indro.

“Gile lu, Ndro! Tradisi primitif begitu masih dipiara. Kambing dipiara bisa gemuk,” tukas Kasino.

Setelah itu, atas saran Kasino, ritual lingkaran kehidupan pun terputus dan diganti dengan ngangon kambing di Desa Harga.

***

Suatu hari, Kasino tak sadar telah mengencingi pohon leluhur yang dikeramatkan di sana. Setelah selesai buang hajat, Kasino dipergoki oleh salah satu anggota sekte.

“Ngapain kamu barusan?” tanya anggota sekte penuh curiga.

“Nyari jangkrik, Bos,” ucap Kasino.

“Oh.” Anggota sekte langsung percaya.

Berkat bakat ngeles, Kasino tidak jadi kena hukum adat yang bisa membahayakan nyawanya.

Yang ada anggota sekte jadi ikut-ikutan Kasino, sibuk mencari jangkrik di semak-semak. Siapa tahu ketemu.

Artikel populer: Membayangkan ‘Rangga dan Cinta’ Bertemu sebagai Aquanus dan Dewi Api

Setelah kejadian itu, setiap melihat anggota sekte wara-wiri di semak-semak, Kasino yang kebetulan lewat bakalan menyapa mereka, “Jangkrik, Bos!”

***

Ketika ritual perjamuan, semua orang berkumpul di tempat makan dan bersiap menyantap hidangan.

Indro kecewa melihat ayam goreng di hadapannya. “Yang dipajang ayam bangkok, yang keluar ayam cacingan,” komentarnya.

Diam-diam, Maya naksir dengan Kasino. Maya menyiapkan makanan yang sudah dicampur ramuan pemikat guna Kasino membalas cintanya dan mau diajak naik pelaminan. Makanan tersebut dihidangkan ke hadapan Kasino.

“Silakan,” ucap ibunya Maya mempersilakan Kasino menikmati masakannya.

“Iya, Tante.” Ketika melihat makanan yang disajikan, Kasino ragu untuk mencicipinya. “Makanan tante hangus. Gue makan, tetanus. Mendingan gue kantongin deh.”

Usai perjamuan, Kasino tidak menunjukkan tanda-tanda kesengsem dengan Maya. Kasino lolos dari jeratan pelet karena tidak memakannya. Anggota sekte pun mulai meragukan kesaktian ramuan leluhur. Ternyata, Kasino lebih sakti daripada warisan leluhur mereka.

Sejak kedatangan Dono, Kasino, dan Indro, Desa Harga meninggalkan ritual tidak manusiawi yang selama ini mereka lestarikan. Mereka ganti memajang ukiran wajah anggota Warkop DKI pada sebuah batu. Kini, Warkop DKI dianggap ‘dewa’ oleh warga Harga.

Setelahnya, setiap musim panas, warga Desa Harga mempersembahkan tumbal berupa monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus, kirik.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.