Foto: Youtube Indonesian Idol.

Indonesian Idol Special Season sempat dikritik oleh warganet di Twitter. Lantaran foto latar belakang studio audisinya mirip dengan foto pemandangan gedung-gedung perkotaan di negara tetangga, yaitu Singapura. Jadi, penggunaan latar belakang itu dianggap tidak menggambarkan Indonesia yang sebenarnya.

Mengapa Indonesian Idol tidak pakai pemandangan perkotaan di Ibu Kota saja? Misalnya, rusunawa atau rumah DP 0 Rupiah gagasan kepala daerah. Lengkap dengan ornamen boneka Mampang dan manusia silver yang rutin memberi hormat di lampu merah. Kalau begitu kan mencirikan Indonesia banget.

Atau, kalau mau menuruti menteri yang ingin ‘menjual’ Pulau Komodo dengan alasan hanya ada satu-satunya di dunia, Indonesian Idol bisa pakai foto siluet ‘Jurassic Park‘ Komodo. Proyek kebanggaan pejabat yang katanya bisa bikin wisatawan merasa betah dan nyaman. Nggak tahu kalau komodo.

Lalu, semisal Indonesian Idol memakai format yang ‘Indonesia banget’, mungkin sistem antrean peserta audisi bakalan dihilangkan. Mengingat sebagian masyarakat negara ini masih memegang erat budaya tidak mau antre.

Baca juga: Bukan “Jurassic Park” Komodo, yang Kita Butuhkan “Night at the Museum” Koruptor

Kalau para peserta tidak pakai nomor antrean, nanti mereka bisa saling serobot untuk menunjukkan kualitas vokal di depan Mas Ari Lasso, Mas Anang, Bunda Maia, Teh Oca, dan Bang Judika. Wah, bisa pecah pala juri.

Ketika Daniel Mananta hengkang sebagai host Indonesian Idol, alih-alih digantikan Boy William, yang mengisi kekosongan seharusnya Opung Luhut Binsar Panjaitan. Mengingat Opung dijuluki sebagai ‘menteri segala urusan dengan wewenang seluas lautan‘.

Terus, Bunga Citra Lestari yang musim ini tidak duduk di meja juri, tidak perlu digantikan oleh Rossa “Kumenangis”. Sebab Opung Luhut juga bisa jadi juri.

Lalu, jika pejabat idola rakyat membangun dinasti politik dengan mendukung anak dan menantu menjadi kepala daerah, berarti Indonesian Idol bisa meneladani sikap yang juga ‘Indonesia banget’ tersebut. Nanti para juri bisa memberikan golden ticket kepada anaknya, titanium ticket untuk keponakannya, dan memasukkan kerabat dekat ke babak spektakuler show.

Bermodal nama besar dan kekuatan relasi, nantinya peserta titipan keluarga juri itu tidak kunjung dieliminasi walaupun skill nyanyinya biasa saja, cenderung bikin polusi suara. Yah, sama seperti beberapa pejabat yang kerjanya nggak sesuai keahlian, tapi penghasilannya besar, langgeng pula kekuasaannya. Lengser pun karena ketahuan korupsi.

Baca juga: Jika Elite Politik Jadi Peserta MasterChef Indonesia

Jangan salah, peserta yang tak disukai penonton tapi bertahan lama di kompetisi, justru menaikkan rating program. Contohnya, mantan anggota idol group yang mencoba peruntungan di dapur kompetisi masak. Peserta ini jadi polemik di media sosial. Alasannya, masakannya sering bikin juri muntab, tetapi hokinya nggak habis-habis.

Penonton pun jadi penasaran dan gemas sendiri. Lalu, bela-belain menonton setiap episodenya hanya untuk menunggu waktu eliminasinya. Eh, setelah yang bersangkutan akhirnya keluar, malah jadi nggak semangat nonton lagi.

Pemerintahan juga sering kali diisi oleh pejabat yang kontroversial, kemudian mendapat engagement yang tinggi dari rakyat.

Alhasil, beberapa kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan harapan rakyat. Saat pandemi, pemerintah berjanji memberikan insentif kepada mereka yang terdampak. Misalnya, subsidi listrik untuk rakyat kecil. Kenyataannya, banyak yang mengeluh karena tagihan yang membengkak bagai disengat tawon. Belum lagi, iuran BPJS Kesehatan yang dinaikkan di tengah bencana kesehatan.

Pemerintah seperti nge-prank rakyat. Eh, wakil rakyat pun tidak mau ketinggalan nge-prank rakyat. Ketika rakyat minta DPR segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, tahu-tahu yang kelar malah Omnibus Law Cipta Kerja.

Baca juga: The Queen’s Gambit dan Percaturan Politik Indonesia

Padahal, untuk urusan nge-prank, bisa dibilang Chef Juna di MasterChef Indonesia adalah jagonya. Ketika mengumumkan kontestan yang harus pulang, tak jarang dia melakukan tindakan ala bang jago.

Suatu waktu, Chef Juna pernah bertanya kepada seorang kontestan yang baru menyelesaikan babak pressure test, “Jika kamu harus pulang hari ini, apa yang mau kamu sampaikan?”

Lalu, kontestan mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Namun, ketika sang kontestan melepas celemek dan beranjak meninggalkan galeri, Chef Juna menahan dengan berkata, “Jadi, itulah contoh ucapan perpisahan yang baik, jika kalian keluar dan meninggalkan galeri MasterChef. Sayangnya, kamu belum dan masih bisa lanjut ke babak berikutnya.”

Kontestan pun berdecak kesal karena di-prank.

Namun, sepertinya gimik begini masih disukai penonton karena tetap dipakai Chef Juna sampai sekarang. Lumayan juga untuk memperpanjang durasi.

Nah, supaya Indonesian Idol terkesan ‘Indonesia banget’, Boy William bisa meniru gimik prank tingkat nasional ini. Nanti, Boy William berkata kepada kontestan di babak eliminasi, “Kamu harus pulang malam ini.”

Kemudian, kontestan pun nangis-nangis, pelukan dengan sesama kontestan, dan pulang angkat koper.

Artikel populer: Octopus Law dan Demo di Bikini Bottom

Ketika sudah sampai rumah, peserta langsung rebahan meratapi kegagalannya. Lalu, Boy William diam-diam menyusul sang target prank. Tahu-tahu dia sudah di depan rumah peserta, ketuk pintu, lalu memberi tahu, “Maaf, maksudnya kamu harus pulang malam ini karena studio mau tutup, sudah malam. Minggu depan kamu masih boleh datang di babak spektakuler show.”

“Syukurlah.” Sang peserta lega, dirinya tak jadi dieliminasi.

“Tapi sebagai penonton,” sambung Boy William. “Sebab mimpimu sebagai juara Indonesian Idol memang harus terhenti di sini.”

Prank, prank, prank

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini