‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

‘Self-partnering’ yang Katanya Pacaran dengan Diri Sendiri, eh Gimana?

Ilustrasi (Photo by Allef Vinicius on Unsplash)

Dulu sempat ada jargon jojoba (jomblo-jomblo bahagia) alias single and happy. Dulu juga ada istilah single fighter, meskipun menurut saya yang satu ini agak salah kaprah. Maklum, banyak yang menyamakan istilah single fighter dengan ‘jomblo-jomblo yang tengah berjuang menemukan tambatan hati’ (atau pasangan kekasih atau apalah namanya itu).

Nah, sekarang ada istilah self-partnering yang baru-baru ini dipopulerkan aktris film Harry Potter dan Beauty and the Beast, Emma Watson. Penyanyi Lizzo juga ikutan lewat sing in single-nya. Beda tipis sama istilah sebelumnya, self-partnering ini katanya ibarat pacaran dengan diri sendiri.

Eh… gimana gimana?? Bukan, maksudnya lebih fokus untuk mencintai diri sendiri dulu. Ya entah ngikutin hobi, ngembangin karier, kuliah lagi, sampai traveling ke luar negeri. Bahkan, ada juga yang memutuskan untuk lebih banyak berkegiatan sosial.

Baca juga: Pleidoi Cewek Lajang Indonesia

Intinya, bermitra dengan diri sendiri. Hmmm, sama kayak self-love dan self-care, sih. Lakukan yang bikin kamu bahagia, nggak perlu stres hanya karena belum punya pasangan.

Meskipun istilah self-partnering ini dipopulerkan oleh ‘si Belle’ Emma Watson, sebetulnya ini bukan cerita baru. Di tengah tuntutan sosial khas masyarakat patriarki bahwa perempuan harus segera menikah (apalagi kalau sudah usia 25 ke atas), sebenarnya sudah banyak perempuan yang tetap santuy meski kerap dinyinyirin ‘perawan tua’ atau ‘nggak laku’.

Cuma ya itu, mereka merasa nggak perlu ngomong ke mana-mana buat pembuktian. Santai aja, meskipun mungkin masih banyak rekan perempuan lain yang merasa jengah, risih, dan stres karena sudah di memasuki usia 30 dan sering banget ditanya “kapan kawin”.

Baca juga: Proklamasi, dengan Ini Kami Menyatakan Kemerdekaan Hati

Seperti yang diberitakan media, Emma Watson mengaku mendeklarasikan dirinya sebagai self-partnering karena nggak percaya lagi dengan istilah single and happy yang kesannya lebih seperti menghibur diri sendiri. Ya habis gimana? Selama ini, stigma perempuan jomblo masih lebih banyak yang negatif, sih. Kalau nggak dikira kesepian, nggak laku, atau dianggap punya isu kepribadian lain yang katanya bikin laki-laki pada ngeri.

Nah, untuk yang terakhir, populasi perempuan kadang terasa seperti terbelah: ada yang buntutnya ‘termakan’ dengan kepercayaan bahwa mereka harus mengubah diri plek-plek demi dicintai laki-laki. Pada akhirnya, mereka berhenti jadi diri sendiri, pura-pura setiap hari, sampai ikutan jadi misoginis dengan menyerang sesama perempuan lain yang lebih percaya diri meski tanpa laki-laki.

Baca juga: Bercinta dengan Tubuh Sendiri, Kenapa Tidak?

Nah, sebagian lain bisa dibilang ikutan arus self-partnering. Ada yang salah? Sama sekali nggak, kok. Nggak ada yang aneh pula. Toh, bukankah kebahagiaan harus dimulai dari diri sendiri dulu? Bila sama diri sendiri saja nggak happy, gimana kalau nanti hangout sama orang lain atau kalau tiba-tiba kepikiran ingin punya pacar lagi?

Hitung-hitung istilah kekinian ini bisa jadi tambahan dukungan moral buat para perempuan jomblo yang mungkin saat ini lagi merasa bak kisah “layangan putus” sesudah ditinggal pasangan. Apalagi yang lakinya semena-mena suka selingkuh.

Seperti biasa, reaksi netijen pasti beragam. Buat yang senasib (tapi belum tentu seperjuangan), pasti pada senang dan mendukung kehidupan self-partnering. Setidaknya masih bisa menjawab kalau ada orang yang meledek kejombloanmu. Tapi misoginis mana paham?

Artikel populer: Jika Klien Arini ‘Love for Sale’ Bikin Ulasan tentang Aplikasi Love Inc

Buat yang nggak sepaham, ah… nyinyir itu sepertinya sudah menjadi bagian permanen di otak kanan mereka. Mulai dari menyebut golongan ini sebagai perempuan yang sok nggak butuh laki-laki, in denial, sampai ada yang kepo: “Terus, lo mau ng*ue sama diri sendiri, gitu?”

Tuh, kan? Mikirnya pasti nggak jauh-jauh dari urusan kasur.

Self-partnering bukan berarti kamu total menutup diri dari kemungkinan menjalin hubungan dengan kekasih potensial di masa depan. Sama seperti pacaran-putus dan nikah-cerai, self-partnering bisa lanjut atau berakhir, tergantung keputusan si deklarator.

So, mau self-partnering dulu sebelum menemukan pasangan yang sesuai keinginanmu? Hayuk. Mau lanjut sendiri dulu juga hayuk. Ada masalah?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.