Billie Eilish (Instagram @billieeilish)

Tragedi kematian George Floyd memicu unjuk rasa besar-besaran menentang rasisme di Amerika Serikat. Tagar Black Lives Matter sempat menjadi trending berhari-hari. Floyd tewas akibat kebrutalan petugas kepolisian. Banyak orang bersuara mengutuk tragedi itu, termasuk dari kalangan pesohor atau selebritas yang punya pengaruh besar.

Misalnya, Taylor Swift dan Billie Eilish. Mereka coba meng-influence publik, terutama para followers-nya, melalui platform publik. Taylor Swift bahkan menyemprot Presiden AS Donald Trump dan menyerukan agar warga AS tidak memilih Trump pada pilpres selanjutnya.

Kalau Mbak Tay Tay tinggal di Indonesia, ia bisa dituding sebagai penghasut atau provokator.

Keputusan Taylor Swift untuk call-out dipicu oleh cuitan Trump di Twitter yang mengancam akan bertindak represif di lapangan. Cuitan Trump tersebut mendapat peringatan dari Twitter karena melanggar aturan perilaku. Twitter pun memberi label ‘glorifikasi kekerasan’. Sedangkan cuitan Taylor disukai lebih dari 2 juta pengguna.

Baca juga: Kita dan Tragedi di Amerika: Bukan Siapa Paling Menderita, tapi Kapan Berkaca

Sementara itu, Billie Eilish tak hanya mengkritik Trump, tapi juga menyentil para pengikutnya yang terus menerus menggunakan tagar tandingan, yakni All Lives Matter, yang menarasikan bahwa semua orang berhak hidup, apapun warna kulitnya. All Lives Matter bermasalah, karena gagal melihat narasi rasisme dan cenderung pada privilese kulit putih.

“Jika aku mendengar satu lagi orang kulit putih berkata ‘aLL liVeS maTtEr’ sekali lagi, aku bisa benar-benar tak habis pikir. Maukah kamu tutup mulut? Tidak ada yang bilang hidupmu tidak sulit. Tidak ada yang ngomong apa pun tentang dirimu. Yang kamu lakukan cuma seolah bikin semuanya tentang kamu,” tutur Billie.

Billie juga berkata, “Masyarakat kasih kamu hak. Oke kamu bisa miskin juga, dan kamu bisa berjuang. Tapi warna kulitmu masih kasih kamu lebih banyak privilese daripada yang kamu sadari. Itu hanya membuatmu menjalani hidup tanpa perlu khawatir bagaimana cara bertahan hidup hanya karena warna kulitmu! Kamu privilese!”

Baca juga: Bagaimana Kalau Keluarga Kita Sendiri yang Intoleran?

Sebelumnya, Billie Eilish mendapat body shaming bertubi-tubi, tapi dia masih memahami bahwa ada yang hidup dengan opresi lebih berat darinya. Billie menyadari betul bahwa dia memiliki dampak besar. Sebab itu, dia sempat sangat berhati-hati berbicara melalui platform. Namun, dia merasa sudah tidak tahan lagi tentang All Lives Matter.

Billie Eilish, Taylor Swift, dan seleb lainnya adalah mereka yang memiliki privilese berlimpah. Namun, mereka memahami bagaimana sesekali menggunakan platform untuk kepentingan banyak orang. Masa sih cuma buat urusan diri sendiri aja?

Lalu, apakah kita perlu mendorong para seleb atau influencer untuk berbicara mengenai masalah sosial, misalnya? Tentu perlu. Namun, dengan cara yang baik, tidak menghina atau malah merendahkan. Kita mau mengajak berbuat baik, masa begitu? Nggak lah. Kita juga bisa kok menstimulus idola kita untuk lebih perhatian.

Para seleb di Amrik sesungguhnya berkaca dari para fans mereka yang marginal. Mereka memilih untuk menggunakan platform tersebut dan menjadikan privilesenya lebih bernilai. Dalam konteks kematian George Floyd, mereka mengkalibrasi suara-suara kaum marginal. Lantas, apakah itu hanya sebatas simpati? Tidak.

Baca juga: Pacaran atau Kawin dengan ‘Bule’ Sama Aja, Nggak Usah Lebay, Keleus…

Menurut Aime Cesaire – seorang penyair, penulis, dan politikus asal Prancis – yang merupakan salah satu perintis gerakan Negritude, semua ini perihal jutaan manusia yang dicekoki rasa takut, rendah diri, keputusasaan, serta dilatih gemetar dan berlutut hingga bertingkah sebagai budak di hadapan koloni.

Billie Eilish dan Taylor Swift sebagai orang-orang berprivilese tidak sekadar mengungkapkan rasa simpati kepada kaum marginal. Penyanyi dan penulis lagu tersebut bersusah payah bahkan mengambil risiko untuk menyadarkan kita bahwa ada jutaan orang lain yang menderita. Selama ini, mereka dibuat merasa rendah diri, dibikin merasa putus asa, karena kita melabeli mereka dengan hal-hal yang tidak berdasar.

Seorang psikiater bernama Ibrahim Frantz Fanon pun menulis buku berjudul Black Skin, White Masks yang begitu menyentuh tentang perjuangan orang-orang berkulit hitam. Mereka harus melalui berbagai situasi yang melukai mental, karena dianggap tidak berarti dan diabaikan. Bukan sekadar diperlakukan berbeda oleh masyarakat.

Artikel populer: Nikah Usia 16 Tahun Dipamerin, ‘Influencer’ kok Gitu?

Sama halnya dengan Taylor Swift dan Billie Eilish, Fanon dan Cesaire juga berusaha meng-influence publik, termasuk mereka yang memiliki privilese berlimpah untuk ikut menyuarakan aspirasi kaum marginal. Sebab menjadi marginal itu menyakitkan.

Bayangkan, kita dicuekin doi aja udah ambyar dan anxiety, bagaimana jika kita dicuekin dan dianggap tidak berarti oleh satu bangsa atau negara?

Apakah ini hanya terjadi di Amerika atau Eropa? Tentu saja tidak. Di negara kita yang sama-sama memiliki kulit berwarna saja, masih banyak yang bertindak rasis. Itu karena masyarakat kita melanggengkan stereotip terhadap orang-orang tertentu.

Nggak perlu ngeles dengan bilang “saya nggak gitu”, karena kenyataannya banyak yang bersikap seperti itu. Contohnya apa yang dialami oleh kawan-kawan mahasiswa asal Papua. Beberapa dari mereka sering kali didiskriminasi. Mereka bahkan sampai kesulitan nyari tempat tinggal atau kos karena ditolak. Kalau bukan rasis, apa itu namanya? Terus, kapan kamu pakai platform-mu untuk menentang rasisme atau hal lainnya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini