Selamat Datang Rezim ‘Influencer’! Kami Memang Tak Punya Kuasa, tapi Kami Menolak...

Selamat Datang Rezim ‘Influencer’! Kami Memang Tak Punya Kuasa, tapi Kami Menolak Derita

Ilustrasi (Image by Gerd Altmann from Pixabay)

Influencer memang profesi yang menggoda. Apapun bisa menghasilkan keuntungan berlipat ganda. Tak perlu banyak karya, tak perlu piala citra, cukup dengan algoritma.

Namun, kali ini, kita kembali diingatkan dengan potensi buruk rezim influencer di media sosial. Belum lama ini, ada seorang ilustrator yang menegur influencer ternama. Ilustrator ini mengingatkan kepada si influencer bahwa kalau ingin jadi aktivis mulailah dengan menghargai jerih payah orang lain.

Teguran itu kemudian ditanggapi lain. Sang influencer marah dan para pengikutnya mem-bully si ilustrator karena tegurannya dianggap terlalu kasar, halu, pansos, dan lain-lain.

Memang sih, teguran itu cukup keras karena beberapa tahun lalu pernah kasih teguran juga. Ketika itu, ia langsung diblokir oleh si influencer. Yah, wajar kalau teguran kedua lebih keras. Lagipula, siapa sih yang nggak baper diblokir tiba-tiba? Huhuhu…

Lalu, persoalannya menjadi pelik ketika peristiwa itu akan dibawa ke ranah hukum. Memang luar biasa, influencer cum aktivis yang tampak kritis nan humanis menggunakan segala kuasanya untuk melawan seorang pekerja kreatif, dengan cara-cara yang biasa dipakai untuk membungkam orang yang menentang penguasa.

Baca juga: Berbeda-beda Kelas Sosial, tapi Tetap Satu Derita

Sayangnya, influencer tak pernah datang sendiri, selalu ada penggemar di belakangnya yang militan karena terpapar flu fanatisme pada sang idola. Alhasil, si ilustrator tadi mendapatkan perundungan bertubi-tubi.

Ya begitulah influencer. Mereka bukan perangkat keras negara, bukan pejabat pemerintah, bukan pula pengusaha kelas kakap. Tapi mereka punya kuasa yang besar.

Lah, kuasa apakah itu? Kuasa atas seluruh fans yang mereka miliki. Penggemar influencer memiliki karakteristik yang berbeda dengan penggemar artis, aktris, atau aktor papan atas.

Begini, sebagian besar para influencer datang dari kalangan ‘orang biasa’. Mereka beruntung berkat algoritma media sosial, lantas menjadi idola baru. Sedangkan penggemarnya memiliki kelekatan dengan para influencer ini, karena merasa latar belakangnya sama-sama ‘orang biasa’.

Sesungguhnya perseteruan antara influencer dan ilustrator kali ini bukan yang pertama. Sudah ada banyak sekali kasus ‘orang biasa’ yang babak belur melawan para influencer.

Beberapa waktu lalu, seorang perempuan dirundung habis-habisan karena mengaku dilecehkan oleh seorang influencer tajir melintir. Ada pula follower yang mengungkapkan bahwa dirinya ditiduri influencer, yang mana di situ ada relasi kuasa yang bekerja. Si follower ini juga malah di-bully berhari-hari. Dan, masih banyak lagi.

Baca juga: Kenapa Kita Senang Melihat Orang Lain Susah?

Lantas, bagaimana nasib mereka semua? Tentu saja sama dengan si ilustrator tadi. Tumbang dihantam para fans garis keras. Mereka dikejar hingga ke masa lalu, diekspos semua data pribadinya, mulai dari latar belakang hingga cara berpakaian. Tak ketinggalan diintimidasi dengan kata-kata seksis.

Terus, bagaimana nasib para influencer? Ya tetap laris, kaya, dan bahagia.

Bahkan, ada fans yang intinya ngomong begini: “Mana mungkin idola kita yang alim dan sayang keluarga itu melecehkan mbak-mbak yang pakaiannya kayak l*nte.”

Yup, apapun yang bernada negatif bagi influencer, mereka nggak akan percaya. Framming apapun yang dibuat, meski tidak masuk nalar, tetap mampu membuat korban babak belur bahkan sebelum sampai ke pengadilan.

Sementara, sang influencer tinggal diam agar netizen cepat lupa. Ada juga influencer yang mengaku, tapi tetap saja para penggemar selalu memiliki stok maaf yang melimpah untuk idola mereka.

Ada juga korbannya datang dari pengusaha kecil yang ingin menggunakan jasa influencer. Ketika perjanjian bisnis tidak berjalan sesuai perjanjian, atau misalnya sang influencer meminta banyak barang gratis dan diganti dengan eksposur semata.

Baca juga: Bagaimana Melepaskan Diri dari Relasi Kuasa Hubungan Seksual

Tentu nasib pengusaha kecil ini akan sama kalau menegur sang influencer secara terbuka di media sosial. Cukup satu klarifikasi dari sang idola, maka pebisnis kecil ini akan kehilangan segalanya. Para fans selalu bisa melakukan apapun.

Apakah itu hanya terjadi di Indonesia? Tentu tidak. Rezim influencer menyebar ke mana-mana, dan mendapat sorotan yang cukup luas di dunia.

Media semacam The Guardian hingga Psychology Today sering mengupas betapa beracunnya rezim influencer. Mulai dari bagaimana rezim ini menegakkan standar kecantikan yang tak masuk akal hingga meningkatkan angka anxiety disorder di berbagai negara secara signifikan.

Pertikaian antara influencer dan si ilustrator tadi bukanlah pertikaian biasa. Pertikaian itu adalah contoh nyata bagaimana masyarakat patriarki memadukan cyber harassment, power abused, dan gaslighting.

Sementara, media sosial kini bukan ruang bebas nilai dan panggung free speech yang aman. Ada penguasa-penguasa yang terbentuk di panggung ini. Mereka selalu menang, bahkan terkadang tanpa perlawanan.

Artikel populer: Sulli adalah Perempuan Merdeka, tapi Dibully. Sesungguhnya Dia Tidak Bunuh Diri

Seperti yang diungkapkan oleh Kate Manne, seorang filsuf feminis, dalam bukunya Down Girl: The Logic of Misogyny bahwa cara kerja patriarki memang melalui kompetisi dan patronase tanpa nalar. Mereka membenturkan satu individu dengan individu lain untuk membuktikan siapa yang rentan dan siapa yang punya kuasa. Sangat halus dan tanpa cela.

Ya tentu saja, tak akan ada demo berjilid-jilid untuk para influencer, karena masyarakat masih menganggap persoalan ini tidak krusial bahkan receh. Padahal, ini berdampak besar terhadap kesehatan kolektif masyarakat.

Lihatlah malam itu ketika dua kubu berseteru, yang satu membela influencer, satunya lagi mendukung si ilustrator. Sedangkan netizen lain mungkin sudah lelah dan muak dengan segala pertikaian. Namun, di tengah situasi tersebut, ada yang tertawa sambil menyeruput kopi: patriarki.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.