Selamat Datang! Barisan Pelamar Kerja yang Tak Punya Akses dan Peluang

Selamat Datang! Barisan Pelamar Kerja yang Tak Punya Akses dan Peluang

Ilustrasi (Image by Clker-Free-Vector-Images from Pixabay)

Muda, alumni kampus ternama di luar negeri, dan kini menjadi rektor termuda di Indonesia. Gerangan mana yang tidak ingin memiliki karier cemerlang, lurus, dan tanpa hambatan seperti sosok Risa Santoso, anak dari Tanadi Santoso yang tak lain adalah salah satu pemilik Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang?

Semua yang lahir di antara kemarau lapangan pekerjaan dan sikut menyikut mencari posisi jabatan sudah pasti ingin ada di posisi terbaik dan beruntung.

Di tengah fakta bahwa pengangguran dari kalangan jebolan perguruan tinggi meningkat, siapa yang ketar ketir menghadapi kondisi ini? Badan Pusat Statistik (BPS) pernah merilis data pengangguran yang menurun per Februari 2019, tapi pengangguran yang merupakan lulusan universitas naik drastis hingga 25% menjadi 6,2% dari 5%.

Kata isi data itu sih ada tiga sebab kenapa pengangguran meningkat. Pertama, keterampilan tidak dibutuhkan. Kedua, ekspektasi penghasilan dan status lebih tinggi. Ketiga, penyediaan lapangan kerja yang terbatas.

Baca juga: Halo Bos, Ini Alasan Mengapa Usia Pelamar Kerja Tak Perlu Lagi Dibatasi

Fakta itu menjadi tsunami kecemasan bagi mahasiswa yang punya preferensi untuk bekerja selepas masa kuliah, sementara di belakang mereka tidak ada sosok yang bisa diandalkan.

Anda boleh cemas dan itu sah saja. Sebab anak dari ketua partai politik bisa dengan mudah bertengger di parlemen atau menjadi wakil menteri, atau anak dari seorang pemilik perguruan tinggi bisa bercokol menjadi rektor.

Orang awam tentu terkejut dan terheran-heran sambil berharap, “Apakah mungkin nasib baik itu bisa terjadi pada keturunan saya?”

Di era saling berebut ruang dan berebut makan seperti sekarang, hal apa saja yang berkaitan dengan kepemilikan atas akses bisa saja terjadi dan itu menjadi wajar jika orang awam terheran-heran, sebab nol akses dan nol peluang.

Soal seberapa muda atau bahkan seberapa dini jam terbang itu soal belakangan. Sebab, tak sedikit fakta yang menunjukkan bahwa anak cerdas jenius di usia dini bisa bersaing dengan kemampuan orang dewasa.

Baca juga: Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Ya, ini soal keresahan. Keresahan setiap orang yang berusaha mati-matian untuk berpendidikan tinggi dan hasilnya hanya menjadi bagian dari barisan pelamar kerja. Keresahan setiap orang yang berusaha bertahan hidup dengan bekal ijazah, lalu berbondong-bondong mengantre di job fair bahkan sampai rela terinjak-injak.

Betul, Anda dan saya ada dalam wahana persaingan. Sebagaimana orang-orang seusia Risa Santoso lainnya yang bersaing dan berlomba-lomba menjadi ‘orang’ untuk bertahan hidup.

Meski kenyataan hidup di era kapitalisme global semenyakitkan itu, namun satu hal yang tidak boleh kita hilangkan, yakni rasionalitas dalam memilih.

Era kapitalisme global bukan saja menghendaki orang-orang terdekat untuk menjabat menjadi apa saja yang menguntungkan, melainkan menghendaki terbatasnya akses dan kesempatan yang sama untuk hadir di setiap orang. Mengapa demikian? Sebab, hal-hal yang dianggap sebagai keberuntungan bisa saja melekat pada siapa saja yang memiliki kapital alias modal.

Ini bukan ujaran kegelisahan. Tapi, kondisi ini bukanlah fase yang baik untuk bayi yang sedang dalam kandungan.

Baca juga: Kenali Tiga Akar Feodalisme di Tempat Kerjamu

Generasi yang kalah secara akses berpotensi dicetak oleh para orangtua untuk menjadi pribadi yang mampu mengepul uang atau kekayaan dalam waktu singkat. Bahkan kalau perlu, jika ada seminar menjadi kaya raya dalam waktu seminggu, kemungkinan juga akan disarankan untuk terlibat aktif.

Kemiskinan akut memang terkadang menjadi sumber kecurigaan itu. Namun, sadarkah kita dari mana hulu kemiskinan akut itu? Akarnya ada pada ketimpangan.

Wajar saja ujaran atas kebencian meningkat, dan nyinyiran terhadap kelompok yang lebih kaya akan terus ada dan berlipat ganda. Sebab, ketimpangan itu benar-benar nyata.

Ketimpangan ekonomi dan sektor pendapatan mengisyaratkan tingginya angka keterbukaan terhadap akses. Sementara, ketimpangan sosial akan memengaruhi keadaban masyarakat kita. Kemudian, ketimpangan akses di dunia politik berpotensi menghambat sosok-sosok terbaik dalam partai untuk bisa memimpin, lantaran wacana demokratis di tubuh partai politik sendiri mandek.

Mungkin, beberapa di antara kita ada yang tidak sependapat soal “lantaran kebesaran orangtua, maka kesuksesan itu ada di depan mata”. Ya, sah saja. Pendapat itu tak sepenuhnya bisa disalahkan, namun fakta itu tidak sepenuhnya juga bisa disangkal.

Artikel populer: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Sepertinya memang sudah saatnya memilih cermin yang pas untuk berkaca. Artinya, jika indikator yang diletakkan pada kesuksesan adalah sepaket jabatan, berhentilah melihat kedudukan dari keuletan dan kegigihan bekerja. Sebab, jika demikian, apakah tukang sayur bangun tidurnya kurang pagi dan pulangnya kurang larut malam dibanding seorang anggota dewan?

Ini juga bukan soal “kita kembalikan pada pribadi masing-masing lah ya”, bukan! Ini soal sempitnya akses dan ketimpangan yang membuat kita tidak punya banyak pilihan selain bertahan hidup dengan menjadi seorang (calon) pekerja.

Jika Anda bertanya kepada saya soal cita-cita, dengan tegas dan tanpa ragu saya katakan, “Menganggur.” Sambil manyadur kata-kata Sapardi Djoko Damono, “Aku ingin menganggur dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan sarjana kepada tuan pemilik modal yang menjadikannya buruh.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.