Drama Law School (JTBC).

Seorang narapidana dengan riwayat pemerkosaan terhadap anak-anak dibebaskan dari penjara lebih cepat dari vonisnya. Kamera dan pertanyaan menyorotnya begitu pintu tahanan terbuka. Berita tersebar dengan cepat melalui jagat maya, menampilkan ketakutan para orang tua yang memiliki anak perempuan. Media menegaskan bahwa mantan narapidana itu bisa saja mengulang kejahatan yang sama.

Menariknya, episode pertama di drama Korea Law School ini sudah dibumbui dengan topik kekerasan seksual dan konsisten sampai ke episode-episode selanjutnya. Konsistensi ini memberi tahu kita bahwa kekerasan seksual adalah isu darurat yang berbahaya bagi siapa saja.

Pemberitaan mengenai kekerasan seksual di Indonesia tidak semasif itu. Hampir tidak ada yang mengekspos bebasnya tahanan riwayat pemerkosaan. Meskipun telah menerima hukuman penjara bertahun-tahun serta segala ritual yang berlaku di balik jeruji, tidak ada jaminan bahwa pelaku kekerasan seksual tidak akan mengulangi perbuatannya. Tetap saja, mereka adalah makhluk seksual yang kembali ke dalam masyarakat.

Agresif media di drama Law School membuat orang pasang badan dan mengatur rencana pertahanan akan tindak kekerasan seksual pada anak-anak. Media juga berkali-kali meliput aksi protes yang dilakukan oleh para orang tua. Secara sadar atau tidak, adegan-adegan tersebut membuat kita makin percaya bahwa mantan narapidana itu benar-benar berbahaya. Di sini, media berperan memberi peringatan kepada publik.

Baca juga: Pelaku Pelecehan Seksual Ditandai, Bisa Dipecat dan Susah Cari Kerja!

Lalu, pertanyaannya adalah apakah dengan cara itu, mantan narapidana tidak memperoleh hak kenyamanannya sebagai individu yang sudah menjalani hukuman berlandaskan pasal-pasal yang menjeratnya? Sejak lama, hal kontradiktif ini memicu diskursus yang cukup panjang dan pelik. Jika media melakukan hal seperti di drama Law School, media dengan sendirinya memperpanjang stereotip ‘jahat’ pada mantan narapidana. Mereka bukan manusia biasa yang bisa bertobat dan memperbaiki kesalahannya begitu saja.

Di sisi lain, media sadar akan kekuatannya untuk mengubah atau mempertegas perspektif masyarakat umum. Perjuangan sebagai mantan narapidana untuk memperoleh hak kenyamanan di drama ini tidak membuat kita turut prihatin. Alih-alih prihatin, sebagai penonton, kita juga ikut pada pemberitaan di media, “Waspadalah, waspadalah, predator seks kembali berkeliaran di lingkunganmu!”

Law School adalah drama garapan Kim Seok-yoon, sutradara beberapa drama menarik lainnya, seperti The Light in Your Eyes, Listen to Love, dan Living Among The Rich. Drama Law School ditayangkan perdana di JTBC pada 14 April 2021 dan tersedia di Netflix. Berkisah tentang kehidupan beberapa mahasiswa hukum di sebuah universitas dari latar belakang sosial yang berbeda. Dan seperti biasa, mahasiswa yang berasal dari latar belakang keluarga elit punya banyak privilese untuk belajar lebih dini tentang hukum, atau punya fasilitas dan akses ke sumber pengetahuan yang lebih mudah.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Setidaknya Law School juga memberi kita pendidikan yang baik tentang kekerasan seksual. Secara kebetulan, mahasiswa yang tergabung dalam satu kelompok belajar ini menghadapi konflik yang beririsan dengan pelanggaran hukum, yang bertitik pada satu kasus besar yaitu kematian seorang petinggi kampus. Mulai dari terduga pelaku pembunuhan, plagiarisme, peretasan, dan seorang di antaranya mengalami kekerasan seksual.

Kasus terakhir mengambil banyak bagian sepanjang sepuluh episode, dan proses pengadilan masih berlanjut ke episode berikutnya. Penanganannya sangat rumit atau dirumitkan, persis seperti di berita soal rumitnya memenjarakan anak pejabat yang memperkosa perempuan di bawah umur. Pelakunya punya kuasa berlapis: laki-laki, ayahnya seorang donatur di fakultas hukum, yang naasnya juga seorang anggota dewan berpengaruh dan paham hukum. Gender dan jabatan tinggi adalah persatuan maut yang makin melanggengkan ketimpangan relasi kuasa.

Baca juga: Soal Konsep Consent, Benarkah Mendorong Hubungan Seks di Luar Nikah?

Sementara, penyintas di drama itu adalah perempuan yang termanipulasi oleh pasangannya sendiri, ia merasa inferior dan melakukan apa saja yang diperintahkan padanya, atas nama cinta. Ia bahkan rela diinjak (kata injak di sini bukan secara harfiah), kakinya ditindih dengan keras jika permintaan sang pacar tidak dilaksanakan. Dengan hukuman itu, sang pacar menjaga superioritas, dominasinya di dalam relasi emosional. Pernah pula, ia masuk ke kelas dengan menggunakan kacamata hitam untuk melindungi mata lebamnya dari pandangan orang-orang di sekitarnya.

Apa yang terbaik dari drama Law School – yang tidak atau belum sepenuhnya dimiliki oleh kita – adalah bagaimana orang-orang di sekitar menciptakan support system bagi penyintas. Karakter utama bernama Kang Sol menyadari bahwa ada ketidakberesan di antara pasangan itu. Ia tidak serta-merta menyalahkan atau mencari tahu bagaimana hubungan seperti itu bisa terjadi. Ia fokus menyelamatkan sahabatnya dari hubungan tidak sehat. Tidak ada ruang penghakiman, apalagi sampai victim blaming.

“Ada yang ingin kamu ceritakan?” Sebuah pertanyaan sederhana ini adalah langkah awal untuk membuka pintu kepada teman atau siapa saja yang terjerat dalam hubungan tidak sehat. Kang Sol menawarkan pertolongan tanpa berusaha menembus batas privasi sebelum batas itu diperbolehkan oleh penyintas.

Artikel populer: Seandainya Nanno “Girl from Nowhere” Pindah ke Indonesia

Para mahasiswa di drama ini dilatih untuk mengupas tuntas kasus pelanggaran hukum. Seorang profesor yang berempati pada kasus kekerasan yang menimpa peserta didiknya bisa dibilang sebagai penasihat klinik hukum, penyedia jasa konsultasi hukum di fakultas itu. Profesor yang seorang perempuan paruh baya itu duduk berdua dengan penyintas, lalu dia menyarankan agar penyintas menjerat pelaku lewat pengadilan.

“Itu bukan pelecehan, kami saling mencintai, kami sepakat melakukannya,” tolak penyintas.

“Dia memasang kamera pengintai di kamarmu, dia merekam hubungan seks kalian diam-diam, tanpa persetujuanmu.” Pernyataan itu menegaskan bahwa masalah utamanya adalah merekam hubungan itu tanpa kesepakatan. Sebab, di kemudian hari, pelaku menggunakan rekaman itu untuk mengancam penyintas. Dia menjadi korban berlapis: kekerasan fisik, pelecehan seksual, dan revenge porn.

Kasus itu kemudian dibawa ke meja hijau, dengan memilih juri sidang dari masyarakat sipil. Di Korea Selatan, sidang juri adalah salah satu proses pengadilan yang melibatkan masyarakat sipil untuk menilai berdasarkan bukti yang ada, menegasikan perasaan subjektif. Sidang ini akan memperlihatkan bagaimana warga di drama itu menilai kekerasan dalam pacaran, apakah mereka juga merawat rape culture seperti masyarakat kita?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini