Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Selain Cinta Bertepuk Sebelah Tangan, Kerja Bertepuk Sebelah ‘Passion’ adalah Kesengsaraan

Ilustrasi (Photo by Niklas Hamann on Unsplash)

Waktu kecil, saya membayangkan ketika besar menjadi biduanita yang mahir menggoyangkan bambu angklung. Setelah besar, keinginan itu tidak disambut baik oleh orangtua. Bagaimanapun, restu orangtua adalah koentji.

Cita-cita saya kemudian berubah menjadi seorang penyair, lalu mendaftar SNMPTN (sekarang SBMPTN) Sastra Inggris di UGM. Tapi lolosnya malah di kampus negeri yang lain (bukan UI, kok) dengan jurusan Ilmu Komunikasi, yang akhirnya juga saya tinggalkan.

Sejak itu, saya melupakan ranah kepenyairan, sampai suatu hari mengalami patah hati dan mulai meraba-raba ranah itu lagi. Sayang sekali, kini hanya bisa menulis syair ketika patah hati. Tidak mungkin harus hidup dalam penderitaan itu sepanjang waktu demi bisa berkarya. Itu dungu.

Lulus S1, malah terjebak di dunia akademisi sebagai pembantu tenaga ajar. Demi Tuhan, seumur-umur tidak pernah mencita-citakan bidang ini. Tapi kan, restu orangtua adalah koentji. Terbukti, belasan cover letter telah saya layangkan, hanya satu panggilan wawancara yang datang. Itupun terlewatkan karena bangun kesiangan.

Aduh, belagu amat saya.

Baca juga: Mending Mana sih, Budak Cinta atau Budak Korporat?

Padahal, untuk sampai ke meja wawancara, sulitnya setengah mati. Terlebih, dengan portofolio hidup yang tidak berbobot. Hobi saya jatuh cinta, keterampilan saya mencintai, pengalaman profesional saya patah hati. Hanya satu pekerjaan yang sesuai dengan kriteria itu, konsultan asmara. Sayangnya, belum ada start-up di bidang itu.

Akhirnya, kini menjalani karier yang tidak sesuai passion. Mau gimana lagi? Kecuali, berhenti jadi pecundang yang menakar-nakar peluang di masa depan, lalu nekat mengambil keputusan di luar pilihan yang ada sekarang.

Tapi ternyata, saya tidak sendiri. Banyak kawan yang mengalami hal serupa. Mungkin kamu juga merasakannya. Seorang kawan bercerita, “Pengennya sih jadi wirausaha, punya toko kue, coba-coba resep aneka kue. Tapi ya, sekarang ngumpulin modal dulu.”

Kawan itu bekerja sebagai customer service di salah satu bank dengan UMK Kota Yogyakarta. Dengan UMK segitu, bisa dibayangkan berapa ratus purnama harus ia lewati sampai tabungannya cukup untuk membuka toko bakery. Akhirnya, ia cuma bisa bertepuk jidat untuk sebuah cita-cita yang bertepuk sebelah tangan.

Baca juga: Pekerja Lajang Pasti Mengalami Ini, Bos-bos Harus Tahu

Saya sempat bertanya, “Kenapa tidak resign saja dan kerja di toko bakery?” Sebuah pertanyaan maha goblok.

“Pengen banget resign, tapi belum habis masa kontrak, sayang gajinya. Kalaupun selesai masa kontrak terus resign, belum tentu juga dapat kerjaan lain. Dengan begini paling nggak ada yang ditabung,” sambatnya.

Begitulah kita, memiliki masing-masing prinsip dalam bekerja. Ada yang bekerja demi batu lompatan ke cita-cita yang masih tertunda, ada yang menganggapnya sebagai sarana mengembangkan minat, bakat, dan karya, serta ada yang bekerja demi beramal bakti.

Lalu, ada pula yang bekerja demi upah tinggi. Prinsip ini yang bikin orang bekerja mati-matian dengan motto “Teruslah bekerja sampai tetangga menganggapmu punya pesugihan”.

Orang-orang dengan prinsip kerja upah tinggi – dan tunjangan maksimal – ini mungkin siklus hidupnya hanyalah kerja-gajian-belanja, begitu terus sampai tua bangka.

Mereka adalah relawan pendongkrak PDB (Produk Domestik Bruto) paling militan. Semakin besar upahnya, semakin banyak tagihan kartu kreditnya dan semakin merasa bahagia. Memang ya, canggih betul si kapitalisme itu, mencipta kebahagiaan dalam ragam komoditas.

Baca juga: Kenali Tiga Akar Feodalisme di Tempat Kerjamu

Atas jasa belanjanya, pertumbuhan ekonomi negara terus meningkat dan dengan bangga dipamerkan oleh para pejabat di forum-forum ekonomi dunia. Capaian pertumbuhan ekonomi yang berbanding terbalik dengan angka kesenjangan, berbanding terbalik pula dengan kelestarian lingkungan.

Tapi, menjadi karyawan berupah tinggi itu asyik sih. Bisa belanja produk skincare jutaan, mengakses tempat kebugaran dan komunitas yoga setiap pekan, memenuhi kebutuhan kalori dan gizinya secara seimbang, mengoleksi busana branded lebih banyak, semua untuk mengidentifikasi di golongan kelas manakah dirinya.

Untuk alasan itu, orang tidak lagi peduli sebangsat apa perusahaan tempatnya menafkahkan tenaga. Apakah perusahaan itu menggunduli hutan, mencemari lingkungan, atau mencuri debit air irigasi? Tak jadi perkara. Ia tak akan ambil pusing kalaupun gaji yang bertambah besar berbanding lurus dengan dosa sosial yang diciptakan.

Artikel populer: Nego Gaji mah Bebas, Langsung Jadi Bos juga Bisa

Saya jadi membayangkan ada sarjana pamit undur diri selesai wawancara di perusahaan, semisal perusahaan garmen. Sarjana itu juga katakanlah seorang fresh graduate, ia pun ditawari gaji Rp 8 juta per bulan. Ia murka dan membagikannya di IG Story. Mungkin, tulisannya akan sepanjang di bawah ini:

“Tadi gue diundang interview kerja di perusahaan garmen dan nawarin gaji kisaran 8 juta. Hello, meskipun gue fresh graduate, gue alumni pergerakan. Gue tau perusahaan itu perusahaan besar, capital flownya hampir sebanding dengan perusahaan multinasional, eksploitasinya gila-gilaan, limbahnya berceceran, CSRnya diabaikan. Lantas, berani menggaji fresh graduate yang masih nihil pengalaman sebesar 8 juta, tapi kenapa nggak berani menaikkan upah buruh-buruh di lapangan yang punya risiko kerja lebih tinggi? Sori ya, kurang cucok.

Kalau bekerja sekadar untuk dapat uang belanja, kita bisa langsung kawin saja, cari pasangan yang gajinya lebih besar daripada cintanya. Sama-sama dapat uang belanja, kan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.