Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Ilustrasi pasangan (Sifa Diratama via Unsplash)

Kita memang suka cerewet untuk urusan selangkangan orang lain. Ketika tindakan yang katanya amoral terjadi pada orang lain, kita akan berbusa-busa berteriak tentang moralitas. Sebaliknya, untuk urusan selangkangan sendiri, kita ringkus diam-diam dalam kotak kardus bernama aib.

Ketika video seksual yang kabarnya diperankan oleh seorang mahasiswi tersebar beberapa waktu lalu, saya sempat menulisnya di situs tercintahh ini. Artikelnya berjudul “Mesum Berdua, kok Perempuan yang Dihakimi?

Artikel tersebut mempertanyakan mengapa ketika kasus-kasus seksual menyeruak selalu saja perempuan yang menanggung beban paling besar. Belakangan, kesalahan yang senada kembali dirayakan.

Seorang kawan pernah berujar dengan bebal tentang kasus yang bernuansa seksual ini. Misalnya, kasus prostitusi.

Dia bilang, “Coba kau perhatikan. Ketika ada barang yang dijual dengan harga fantastis, katakanlah kue seharga puluhan juta, orang-orang akan terus membicarakan kue tersebut. Dari bahan apa ia dibikin atau teknik seperti apa ia dibuat. Seperti itu pula jika kasus prostitusi terbongkar.”

Baca juga: Karena Prostitusi Bukan Hanya tentang Perempuan

Begini ya…

Pertama, menyamakan perempuan dengan barang, misalnya makanan, adalah sebuah fallacy atau kekeliruan paling dangkal. Kedua, hanya orang sangean yang tidak mempersoalkan si pemesan jasa prostitusi. Ketiga, dengan mengekspos perempuan saja, hasrat patriarki masyarakat kita merasa telah terpenuhi.

Melihat reaksi masyarakat setiap kali kasus seksual merebak, saya kemudian berpikir bahwa kita seperti memposisikan seks layaknya kekerasan. Ia dianggap tabu, tapi diam-diam kita menikmatinya. Kenapa begitu?

Baiklah, sebelumnya saya ingin bertanya, “Pernahkah kamu menonton film Pintu Terlarang karya Joko Anwar?” Salah satu scene dalam film tersebut menggambarkan bagaimana kekerasan menjadi sesuatu yang kita hindari sekaligus kita nikmati.

Gambir, seorang pematung yang sedang berada di puncak kariernya tengah mengalami depresi. Ia seringkali melihat kata-kata yang berbunyi “tolong saya” di mana-mana. Karena tulisan tersebut, ia menemukan sebuah gedung bernama Herosase.

Ketika ia masuk ke gedung bernuansa Eropa itu, hanya ada seorang perempuan di belakang meja resepsionis. Perempuan tersebut lantas mengantarnya ke ruangan yang hanya berisi tempat duduk dan sebuah televisi. Gambir kebingungan, namun ia tak bisa mengobati rasa penasaran, karena ada satu syarat yang berlaku di dalam Herosase: tidak boleh bertanya.

Baca juga: Terkait Dugaan Prostitusi, Apa Perlu Minta Maaf ke Publik?

Singkat cerita, ternyata televisi tersebut menampilkan tayangan-tayangan kekerasan yang terjadi secara nyata. Semacam kamera tersembunyi yang dipasang di rumah-rumah yang kerap bertindak bengis.

Ada channel yang menampilkan seorang perempuan menjahit tangannya sendiri, ada pula channel yang menayangkan tindakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dalam scene tersebut, Joko Anwar seakan-akan ingin memberi gambaran yang kuat bahwa kekerasan, bagaimanapun sekuat tenaga berusaha kita hindari, tetap ia akan terus melekat dalam diri manusia.

Herosase adalah wadah bagi mereka yang ingin menikmati kekerasan itu, tempat bagi orang-orang yang kepingin memuaskan hasrat kebengisan di dalam dirinya. Tanpa berlumuran darah, tanpa merasa berdosa.

Herosase ternyata tidak hanya di film, di dunia nyata juga ada kok. Sebut saja situs-situs seperti bestgore atau deathgore. Kedua situs tersebut mempunyai konsep yang mirip dengan Herosase.

Erich Fromm dalam Akar Kekerasan meninjau kekerasan dengan perspektif Sigmund Freud dan Konrad Lorenz. Intinya, sikap agresi merupakan sifat alamiah dalam diri manusia, sejak terbunuhnya Habil di tangan Qobil.

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Sikap itu meletup jika adanya stimulan, yang menurut Freud berasal dari internal manusia. Sedangkan menurut Erich Fromm, faktor eksternal seperti kondisi dompet sosial juga berpengaruh.

Btw, jangan mengira saya mengafirmasi bentuk kekerasan, ya. Kekerasan terhadap perasaan saja saya lemah, apalagi kekerasan fisik. 🙂

Saya hanya ingin mendudukkan sebuah pertanyaan sederhana nan bodoh: jika kekerasan adalah sikap alamiah manusia, berarti melawannya adalah sebuah usaha hingga akhir zaman?

Kembali ke soal perselangkangan.

Dalam novel berjudul Para Pelacurku yang Sendu karya Gabriel Garcia Marquez, ada tokoh bernama Rosa Cabarcas. Rosa yang merupakan seorang mucikari langganan sang profesor, berujar, “Moralitas hanya soal waktu.”

Ia menyindir mereka yang sekuat tenaga menyembunyikan hasrat agar terlihat suci di depan umum. Bukankah yang beginian juga sering terjadi dalam masyarakat kita?

Artikel populer: Kita Harus Berani Bicara soal Seks

Di Twitter, misalnya. Seringkali kita temukan sebuah akun yang dengan bernasnya berdakwah tentang moralitas, tentang kesucian yang sakral, namun isi like-nya penuh dengan video atau gambar-gambar mesum.

Hal ini juga sejalan dengan fakta bahwa Indonesia merupakan negara pengakses situs bokep terbesar kedua di dunia. Kita kalah oleh India, yhaa… Data yang dirilis salah satu situs porno tersebut menyebutkan bahwa generasi muda yang paling banyak mengakses konten porno.

Jadi, beginilah situasinya. Tatkala video mesum beredar, kita ramai-ramai menghujat si pemeran. Sementara, ketika kasus prostitusi terbongkar, kita berbondong-bondong menjadikan perempuan sebagai bahan hinaan dan tertawaan.

Padahal, history browser kamu penuh dengan laman situs porno. Sehabis mengolok-olok, lalu minta link atau videonya.

Halahhh mbelll…

Kembali ke pertanyaan di atas: kenapa kita malah memposisikan seks layaknya kekerasan? Yah, walaupun seks memang butuh yang keras-keras, sih. Hee…

Apa? Melanggar moral?

Hhhmmm… Ada yang pernah bilang bahwa semua orang itu baik, sampai nanti ketahuan.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.