Seks & Cinta Romantis: Sebetulnya Terpisah, tapi Pisahnya Nggak Jauh-jauh

Seks & Cinta Romantis: Sebetulnya Terpisah, tapi Pisahnya Nggak Jauh-jauh

Ilustrasi pasangan (Image by Sasin Tipchai from Pixabay)

Jean-Paul Sartre pernah mengatakan bahwa hasrat seksual adalah upaya untuk menjelma jadi orang lain.

Sebetulnya seks terpisah dari cinta. Kita tidak bisa membuat keduanya menjadi satu, sebab masing-masing punya kemandiriannya sendiri. Namun, seks sering digunakan sebagai ekspresi dari ‘mencintai’, juga diyakini mampu membangun hubungan yang berlandaskan rasa itu.

Nyatanya ikatan persahabatan yang hanya dilandasi rasa cinta sulit membawa tubuh untuk berinteraksi secara seksual. Sebab, pada dasarnya, cinta romantis berbeda cara dan tujuan dengan bentuk cinta yang lain. Yah, meskipun tidak semua seks dilandasi perasaan kasih sayang atau cinta.

Bagi sebagian orang, mengaitkan seks dengan cinta romantis akan menjadi buram, jika cenderung memasukkan unsur ‘cinta erotis’ atau ‘cinta seksual’. Erotisme sering kali digambarkan sebagai aktivitas seksual yang menjijikkan. Hal itu dianggap bisa mengotori pembahasan tentang hubungan romantis yang bermuasal dari cinta. Kecuali, kita tidak takut pada erotisme – yang hanya berupa bangkitnya nafsu berahi.

Baca juga: Kita Harus Berani Bicara soal Seks

Menurut Natasha McKeever dalam sebuah jurnal berjudul Love: What’s Sex Got To Do With It? yang diterbitkan oleh International Journal of Applied Philosophy, ada empat tujuan penting ketika menjalin cinta romantis: kesenangan, penyatuan, keintiman, serta kerentanan dan kepedulian. Ternyata keempatnya bisa ditemukan dalam hubungan seks.

Namun, tidak semua hubungan cinta romantis berhasrat untuk melakukan interaksi seksual. Sekali lagi, seks sebetulnya tidak sepaket dengan cinta, mereka terpisah satu sama lain. Tapi jangan pisah jauh-jauh, ntar cepet kangen. 🙂

Seks membuktikan bahwa kesenangan yang diperoleh saat interaksi atau gesekan antar tubuh menyebabkan kesenangan fisik, dan pada saat bersamaan juga memberikan kesenangan kognitif.

Maksudnya adalah kebahagiaan bisa diperoleh saat mampu memuaskan pasangan melalui sentuhan. Saat berhubungan seks, seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi berusaha pula untuk membuat pasangannya merasa senang atas perlakuannya.

Baca juga: Perempuan juga Berhak Blak-blakan soal Seks

Ternyata seks adalah latihan mengurangi ego untuk memahami satu sama lain. Benar kata Sartre bahwa hasrat seks adalah upaya menjelma jadi orang lain. Kita akan memamerkan tubuh sendiri dan pada saat bersamaan mencari kenikmatan di tubuh orang lain.

Sementara itu, keinginan dari hubungan cinta romantis adalah untuk menjadi ‘satu’. Penyatuan seperti itu tampak pada simbol-simbol yang digunakan oleh pasangan, seperti berpegangan tangan, memakai pakaian senada, menghadiri acara bersama, dan lain-lain. Dalam interaksi seksual yang lebih intim, hubungan antar tubuh berusaha menghilangkan batas di antara mereka, dimulai dari kain yang menutupi tubuh.

Hubungan cinta romantis melibatkan keintiman fisik dan emosional. Sedangkan seks memungkinkan tubuh seseorang memperoleh akses secara langsung ke tubuh orang lain, khususnya ke bagian tubuh yang paling sensitif dan pribadi. Tetapi, bukan berarti hal-hal yang dilakukan saat proses interaksi tersebut bisa dibagikan kepada orang lain selain pasangan, artinya seks bersifat eksklusif.

Baca juga: Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Ketelanjangan sebagai bagian dari eksklusivitas tersebut, menurut James Giles dalam A Theory of Love and Sexual Desire, adalah menciptakan keintiman dengan berbagi informasi tentang diri sendiri kepada orang lain melalui keterbukaan fisik. Berpakaian memungkinkan kita untuk mempertahankan persepsi orang lain atas tubuh kita sampai batas tertentu. Ketelanjangan saat berhubungan seks membiarkan orang lain menembus batas yang disimpan untuk diri sendiri.

Dan, kerentanan selalu ada dalam hubungan cinta romantis. Hal itu terjadi ketika kita dengan sengaja membutuhkan kasih sayang atau sentuhan orang lain. Dalam seks, menurut Giles, kita pun membuat fisik menjadi rentan atau rawan, dengan harapan dapat ditenangkan secara fisik pula. Begitu juga dengan kerentanan emosional, dengan harapan akan disentuh secara emosional.

Artikel populer: Karena Seks Memang Harus Bebas

Hubungan timbal balik antara kerentanan emosional dan kepedulian ‘untuk merawat’ ini menjadi sangat jelas, ketika cinta romantis berusaha untuk menukarkan diri dengan orang lain. Merawat orang lain tanpa menuntut adanya timbal balik adalah pembeda antara cinta romantis dengan cinta atau kepedulian yang lain.

Cinta romantis menuntut objek agar cinta itu kembali kepada subjek dengan adil. Seseorang yang mencintai orang lain akan merasa ia menanam harapan kepada seseorang dengan jumlah tertentu (tidak dapat dihitung), dan akan menjadi perhitungan bahwa cintanya harus kembali dengan jumlah yang sama.

Di situ lah hasrat seksual muncul, ketika seseorang berfantasi untuk memenuhi hasratnya pada orang lain dan berharap diperlakukan sama dengan objeknya. Meskipun, harapan seperti itu memunculkan seleksi, sehingga sangat rentan menyingkirkan pihak lain.

Banyak bercinta, banyak bekerja gaes…

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.