Sekolah Lima Langkah; Mereka yang Resah dengan Zonasi Sekolah

Sekolah Lima Langkah; Mereka yang Resah dengan Zonasi Sekolah

Ilustrasi (Image by Igor Ovsyannykov from Pixabay)

Dear para orangtua di seantero negeri. Semoga segala urusan dilancarkan oleh Tuhan ya, bisa menyekolahkan anak di sekolah favorit. Favorit orang satu kelurahan.

Ini memang berkat Pak Mendikbud Muhadjir Effendy lewat kebijakan sistem zonasi sekolah dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Kebijakan yang bikin resah orangtua, juga calon siswa. Gimana nggak resah coba, sekolah kok dibatasi jarak.

Katanya tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, bahkan hingga setinggi langit! Kalau begini kan anak-anak mainnya sekolahnya jadi kurang jauh. Sebab tuntutlah ilmu sampai ke satu zonasi.

Sebetulnya sistem zonasi sekolah negeri ini sudah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu. Salah satu tujuannya adalah pemerataan kualitas pendidikan. Ya memang sih, secara teori benar. Tapi praktiknya?

Presiden Jokowi mengaku sudah memerintahkan Pak Mendikbud untuk mengevaluasi sistem ini. Beliau pun mengakui bahwa kebijakan bisa berbeda dengan penerapannya di lapangan.

Baca juga: Atta Halilintar Masuk Soal Ujian Anak SD? Ashiaaap!

Mungkin bapak-ibu di sini banyak yang kecewa rada senewen dengan sistem ini. Sudah protes, tapi nggak ada hasil. Seorang ibu di Malang, Niken Novianti Kadiputri, misalnya. Bersama puluhan wali murid, ia menggeruduk kantor DPRD Kota Malang. “Kita yang seharusnya lebih dekat malah jauh, lha yang jauh malah dekat lokasinya,” kata dia.

Belum lagi bicara soal pemerataan kualitas guru, fasilitas pendidikan, dan lain-lain. Ibarat iklan minyak kayu putih, ini coba-coba. Buat anak kok coba-coba, Pak Mendikbud?

Tapi, tenang bapak-ibu sekalian. Ingat, selalu ada hikmah di balik setiap kejadian. Mungkin, Pak Mendikbud luput memikirkan beberapa dampak dari kebijakannya. Atau, bisa jadi beliau sengaja bermaksud agar anak-anak sekaligus menjalani pola hidup sehat. Misalnya, dengan berjalan kaki menuju atau pulang sekolah.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Jika demikian, anak-anak juga nggak perlu bawa sepeda motor ke sekolah. Lalu lintas menjadi lancar jaya. Lagipula, sekarang banyak siswa yang belum 17 tahun atau belum punya SIM, tapi sudah bawa kendaraan. Yang bawa motor, nggak pakai helm pula.

Sungguh, kebijakan yang sebetulnya brilian, kan?! Hitung-hitung membantu pekerjaan Menteri Perhubungan, Menteri Pemuda dan Olahraga, Menteri Kesehatan, serta para pejabat di daerah.

Eh tapi, walau namanya ‘sekolah terdekat’, jaraknya lumayan jauh lho bagian sebagian siswa untuk berjalan kaki? Yah, palingan bercucuran air mata keringat, panas cuy! Bukannya tambah semangat, malah kendor. Hayati lelah.

Tetapi, percayalah, Pak Mendikbud bermaksud baik kok. Segala sesuatunya tentu mengarah ke hal positif. Karena jarak ke sekolah lebih dekat bagi sebagian siswa, kan jadinya nggak buang-buang waktu untuk perjalanan. Anak-anak bisa mengisi waktu luang dengan membaca buku.

Baca juga: Bedah Status Lebih Penting daripada Bedah Buku

Kapan lagi ada waktu untuk membaca buku yang benar? Kalau di sekolah, anak-anak sibuk menghafal, menyalin, dan selfie. Di rumah, orangtua anak sibuk bikin PR. Itulah mengapa tingkat literasi di negara kita jeblok.

Selama ini, kurang sekali perhatian terhadap tingkat literasi kita. Ya jelas, yang penting sekarang itu zonasi, zonasi, zonasi, donasi, eh? Padahal ya, pemerataan kualitas pendidikan berbanding lurus dengan tingkat literasi. Nggak cuma sekadar berapa nilai ujian atau kelulusan anak.

Kalaupun kebijakan sistem zonasi sekolah bikin orangtua kecewa dan resah, itu wajar saja. Bapak-ibu sekalian, sudah menjadi sejarah negeri ini bahwa kebijakan pemerintah tak bisa memuaskan banyak orang.

Karena itu, kalau ada kebijakan yang salah, bukan kebijakannya yang perlu diubah, melainkan pejabatnya yang harus diganti. Paham?

Artikel populer: Delapan Buku Fiksi Wajib Baca sebelum Usia 30

Oh ya, satu lagi dampak positifnya dari sistem zonasi sekolah. Karena mainnya sekolahnya kurang jauh alias masih satu kelurahan, ya ketemunya dia lagi-dia lagi. Kalau nggak si Ani, ya Munaroh. Kalau nggak Bambang, ya Tukidi.

Makanya, tidak mustahil, siswa yang sudah puber dapat gebetan pacar yang rumahnya nggak jauh pula. Mungkin ini tanda-tanda zaman berakhirnya hubungan jarak jauh alias Long Distance Rela dikibulinship Relationship (LDR). Terima kasih, Pak Mendikbud!

Saya pun jadi teringat penggalan lirik lagu yang dipopulerkan oleh Uut Permatasari. Judulnya: “Pacar Lima Langkah”.

Pacarku memang dekat.

Lima langkah dari rumah.

Nah, terinspirasi dari sistem zonasi sekolah, perlu dibuatkan satu lagu baru berjudul: “Sekolah Lima Langkah”.

Sekolahku memang dekat.

Lima langkah dari rumah.

Pasti bakal hits!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.