Foto: The White Tiger. (Netflix)

Film Thailand telah membeberkan rahasia menjadi orang kaya dengan berjualan keripik (The Billionaire) dan sontekan saat ujian (Bad Genius). Sementara, film bertajuk Slumdog Millionaire menunjukkan bahwa kekayaan di India hanya bisa diraih dengan keajaiban, seperti memenangi hadiah utama dari kuis semacam Who Wants to Be a Millionaire.

Kali ini, film berlatar India berjudul The White Tiger membicarakan isu yang sama seperti Slumdog Millionaire: kemiskinan struktural di negara overpopulasi. Film yang diangkat dari novel berjudul sama ini disebut-sebut sebagai Parasite versi India. Kesamaannya adalah tokoh utama yang berprofesi sebagai sopir untuk keluarga kaya raya.

Balram yang menjadi tokoh utama di film The White Tiger adalah fenomena rakyat miskin di negara berkembang yang sulit sekali untuk menggapai kemakmuran. Jangankan bermimpi punya gaji setara Rp 250 juta per bulan, sesuai UMK saja sudah sujud syukur.

Baca juga: Jika Belajar dari Rumah Jadi Latar Serial Bad Genius

Sewaktu kecil, Balram tampil cerdas dan trengginas di sekolah, seperti salah satu anggota Laskar Pelangi cabang India. Namun, nasib Balram tak jauh beda dengan Lintang si anak tercerdas di Laskar Pelangi. Selepas wafatnya sang ayah, keduanya sama-sama harus melepas pendidikan demi menjadi tulang punggung keluarga.

Pendidikan yang dijanjikan sebagai pemutus rantai kemiskinan terasa sangat muluk-muluk. Bangku sekolah seolah barang mewah bagi pantat anak orang miskin.

Padahal, Balram sudah dipastikan akan mendapat beasiswa sekolah di Delhi oleh gurunya. Dia juga digadang-gadang sebagai si macan putih. Makhluk langka yang hanya muncul sekali dalam satu generasi.

Ketika dewasa, Balram memang pergi ke Delhi. Namun, bukan sebagai pelajar beasiswa, melainkan sebagai sopir pribadi. Sekaligus, menjadi samsak untuk keluarga majikan. Sebab ia sering menjadi korban kekerasan fisik dan verbal.

Kalau di Indonesia, jamak ditemukan karyawan kontrak yang ijazahnya ditahan oleh perusahaan. Lah di India, dalam film The White Tiger, keluarga si karyawan yang menjadi jaminan. Kalau karyawan menyeleweng, seluruh anggota keluarganya bakal dihabisi oleh para centeng sang juragan.

Baca juga: Cek Seberapa Borjuis atau Proletarnya Kamu setelah Nonton Parasite

Namun, Balram malah membunuh sang majikan, seperti adegan klimaks di film Parasite. Bedanya, Balram kabur sambil membawa lari sekoper uang. Balram juga tidak perlu sembunyi di basement seperti Mr Kim. Sebab, dengan uang curian itu, Balram bisa menyuap aparat supaya tidak ditangkap.

Sisanya untuk modal membuka usaha rintisan yang bergerak di bidang transportasi. Balram pun menjadi bos para sopir dan memberlakukan sistem kerja yang manusiawi ketimbang majikannya dulu.

Mungkin cerita The White Tiger bakal sedikit berbeda, seandainya Balram mengadu nasib di Indonesia.

Balram yang sewaktu SD sangat berprestasi, tapi terpaksa putus sekolah karena harus menggantikan peran sang ayah, bisa menginspirasi teman sebangkunya untuk menulis buku. Semacam novel inspiratif ala Laskar Pelangi. Nanti temannya menjadi penulis terkenal dan dapat royalti, Balram dapat simpati.

Ketika menjadi kuli, Balram diajak oleh kakaknya untuk membuat konten TikTok. Balram pun viral dengan dialog, “Beri aku kopi, maka akan kubangun negeri ini.” Namun, ketenaran Balram di internet tidak sampai membuatnya menjadi artis seperti Mpok Alfa atau Keanu.

Baca juga: Kerja Sesuai Passion, Jurusan, dan Gaji yang Diharapkan? Itu Halu, Kawan

Lalu, santer terdengar gosip bahwa Balram akan dijadikan tumbal proyek. Dari situlah, Balram tergerak untuk meninggalkan profesinya yang berbahaya.

Dia memutuskan menjadi sopir di Ibu Kota setelah melihat di televisi ada seorang asisten artis yang ikutan menjadi artis terkenal. Kalau jadi sopir seorang artis, mungkin Balram bisa menjadi artis juga, sesuai cita-citanya.

Tetapi, Balram malah menjadi sopir pribadi seorang pengusaha. Setiap hari, Balram harus mengantar bosnya itu bertemu dengan beberapa birokrat. Belakangan diketahui, bosnya kerap menghindari kewajiban pajak.

Balram jadi tahu mengapa orang-orang sepertinya tetap miskin. Sebab, uangnya hanya berputar-putar di situ saja. Antara pengemplang pajak dan beberapa birokrat maupun politisi.

Jika bosnya dan pengemplang pajak lainnya mau membayar kewajibannya kepada negara sesuai aturan, mungkin Indonesia bisa lebih makmur. Dengan catatan, penyaluran dana hasil penerimaan pajak juga benar dan tepat.

Balram pun merasa berdosa karena punya andil mengantar seseorang untuk berbuat curang. Maka, dia terpikir untuk kabur dari pekerjaannya, sembari membawa uang bosnya yang hendak dipakai untuk menyuap.

Artikel populer: Pada Dasarnya, Umat Beragama Itu Sama Saja, yang Beda Hanya Kelas Sosialnya

Walaupun melarikan uang bosnya tersebut, Balram yakin keluarganya di kampung bakal baik-baik saja. Sebab, bosnya tidak bisa melacak keluarganya. Apalagi, Kartu Keluarga (KK) Balram masih belum jadi. Jangankan KK, KTP saja Balram tidak punya gara-gara proyek e-KTP dikorupsi oleh pejabat dan politisi.

“Uang yang aku curi dari bosku ini aslinya uang rakyat. Nah, aku kan juga rakyat,” pikir Balram cari pembenaran.

Dengan uang panas itu, Balram membeli mobil dan menjadi sopir taksi online. Hasil dari narik, ia tabung untuk beli mobil baru. Mobil barunya disewakan untuk sopir lain. Uang hasil sewa, ia belikan mobil lagi. Begitu seterusnya. Ending-nya, Balram jadi juragan taksi online.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini