Ilustrasi (Trinhkien91/Pixabay)

Komedian Bintang Emon yang sempat geger karena melontarkan kritik berbalut lelucon tentang kasus Novel Baswedan, langsung diserang bahkan difitnah oleh pihak-pihak tertentu. Belum lagi, sederetan media perempuan, seperti Magdalene.co dan Konde.co, yang diserang oleh peretas. Ini menambah daftar panjang upaya pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Terlepas kita setuju atau tidak dengan Bintang Emon atau konten-konten Magdalene dan Konde, setidaknya mereka berani menyampaikan keresahan yang dirasakan banyak orang. Tentu ada pihak-pihak yang merasa terancam. Upaya pembungkaman semakin menunjukkan bahwa apa yang disampaikan Bintang Emon, Magdalene, Konde, dan lain-lain benar adanya.

Lama-lama, hidup di negeri ini kayak hidup dengan pasangan yang posesif. Ya gimana, segala ucapan kita hendak diatur-atur, sampai ke urusan pakaian yang kita kenakan. Mereka yang posesif juga rela melakukan apapun sampai memanipulasi pemikiran kita. Terus, kita dibuat merasa bersalah karena sudah berani bersikap atau berkomentar.

Baca juga: Pejabat Bebas Bercanda, Warga Biasa Kena Perkara

Saat masih kecil, saya pernah bertanya kepada almarhumah ibu, sebuah pertanyaan yang kritis. Tapi, ibu langsung bilang bahwa hal itu jangan ditanyakan ke orang lain. Bahaya. Kemudian, ketika besar, saya baru paham maksud ibu, terutama saat didekati oleh cowok yang posesif. Sukanya melarang-larang, nggak boleh ngomong ini-itu, apalagi mempertanyakan mengapa dia seposesif itu.

Sekarang kita lihat dampaknya. Seseorang yang posesif cenderung abusif, suka marah-marah. Ujung-ujungnya kekerasan, baik fisik maupun psikologis. Sama seperti yang dialami oleh Bintang Emon, Magdalene, Konde, dan orang-orang yang selama ini berani bersuara.

Sejarah mencatat, situasi seperti itu pernah berlangsung di negeri ini pada puluhan tahun silam, semisal zaman Orba alias orde babe. Bahkan, kala itu melibatkan aparat negara. Orang-orang yang protes, digebuk! Media-media kena sensor, ngeyel diberedel. Pokoknya, kehidupan masyarakat hendak dikontrol.

Ya mirip sama pasangan posesif yang maksa minta password Instagram kamu agar kamu bisa dikontrol. Ada postingan-mu yang dia nggak suka, langsung diberedel, eh dihapus. Termasuk, ingin tahu kamu bikin berita DM soal apa saja.

Baca juga: ‘Toxic Relationship’, Bagaimana Kalau Sudah Terlanjur Sayang?

Lalu, seperti yang tadi disinggung, orang-orang posesif suka memanipulasi. Dia yang bikin kesalahan, kamu yang dibuat bersalah. Jangan-jangan, sejarah percintaanmu juga dia manipulasi?

Tuh, kayak sejarah gerakan perempuan revolusioner di Indonesia yang dipelintir kala itu. Kita jadi tidak tahu peran perempuan dalam memberantas buta huruf hingga ke desa-desa, yang kita dengar hanya cerita segerombolan perempuan yang memotong alat kelamin para jenderal sambil menari-nari. Setelah itu, banyak orang yang dibuat bersalah.

Itu doeloe… Sekarang?

Jelas dong, sekarang era demokrasi! Kebebasan berekspresi dan berpendapat adalah hak setiap orang yang dijamin undang-undang. Ia adalah bagian dari hak asasi manusia (HAM), bersama dengan kebebasan berserikat dan berkumpul, serta hak memperoleh informasi.

Nah, makanya, segala hal yang anti-demokrasi harus enyah sekarang juga. Setuju? Jangan ada lagi teror terhadap figur-figur dan peretasan media-media yang kritis. Jangan ada kekerasan dan eksploitasi. Terimalah kritik sebagai ungkapan kasih sayang, wahai kamu-kamu yang posesif… Eh, gimana?

Baca juga: 5 Jebakan Kembali ke Mantan yang Abusif, Berkaca dari The World of The Married

Terlebih, di era yang katanya revolusi teknologi ini, kerap terjadi serangan siber. Bahkan, ada yang bilang, “Dulu, orang diculik. Sekarang, akun yang diculik.” Akun Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Instagram sempat diretas. Begitu juga dengan beberapa akun aktivis dan gerakan.

Melalui peretasan dan fitnah-fitnah, kita dibuat takut. Kita jadi tidak percaya diri dalam berpendapat. Akhirnya, merasa bersalah. Dan, yang paling menyebalkan, kita mensensor diri sendiri.

Self-censorship akhirnya membuat kita terpaksa diam. Ketika diam, kita semakin membiarkan anasir-anasir anti-demokrasi dan HAM merajalela. Lah, katanya kita hidup di negara demokratis?

Maka, diam dan memilih untuk netral bukanlah cara yang tepat. Tentu harus berstrategi, namun memilih untuk tidak berbuat apa-apa bukan pilihan untuk keluar dari hubungan situasi yang toksik.

Artikel populer: Tanda-tanda Relasi yang Sehat, Berkaca dari The King: Eternal Monarch yang Uwu-uwu

Perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil. Semisal, bagaimana menghadapi pasangan yang posesif tadi. Dia tuh merasa memiliki kamu, lalu berusaha mengatur-atur agar citranya baik. Padahal, kamu sakit hati banget dengan cara-cara dia mengaturmu. Demi pencitraan, dia mengeksploitasi kamu demi kepentingannya. Jadi, mulailah kritis terhadap pasanganmu, itu akan melatihmu berpikir kritis terhadap persoalan lainnya.

Akunmu adalah otoritasmu, bukan milik pasanganmu. Apalagi, orang-orang nggak jelas yang ingin meretas akunmu. Pahami pula perihal keamanan digital. Jangan lengah, terlebih perempuan yang lebih rentan mengalami kekerasan berbasis gender online (KBGO).

Mengerikan memang. Teknologi yang seharusnya membantu kerja-kerja kita, bisa berbalik menjadi alat yang bisa menyerang kita sendiri. Membungkam suara-suara yang menginginkan perubahan. Berhentilah membungkam, sebab kita tidak sedang hidup di zaman New Orba, kan??

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini