Ilustrasi perempuan (Image by Engin_Akyurt from Pixabay)

Perempuan selalu dianggap salah, bahkan sejak ia lahir!!!

Mau bukti?

Pertama, ketika masih bayi, perempuan sudah dipandang sebagai makhluk yang tergila-gila dengan seks. Alhasil, klitoris yang cuma seuprit itu harus pula disunat. Konon, agar nanti bisa mengontrol nafsu birahinya.

Persis seperti laporan BBC bahwa perempuan di Indonesia harus menjalani sunat sejak kecil agar tidak genit terhadap laki-laki dan bisa menjaga perilakunya ketika dewasa. Kendati perwakilan khusus PBB sudah mengecam praktik sunat perempuan karena melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), tapi mau gimana lagi, perempuan selalu divonis sebagai sumber segala maksiat, bukan?

Kedua, ketika beranjak belia, perempuan dinilai tak elok pergi hingga larut malam. Lagi-lagi, katanya perempuan yang berkeliaran pada malam hari bisa membangkitkan hasrat laki-laki untuk melecehkannya. Sebab itu, perempuan yang melulu ‘ditertibkan’. Bahkan, ada aturan jam malam. Loh, nggak percaya?

Baca juga: Bahkan untuk Urusan Libido dan Orgasme Saja, Perempuan juga Diatur-atur

Coba sekali-kali nonton acara di televisi. Sudah tidak terhitung berapa episode bapak-bapak aparat memarahi perempuan yang malam-malam masih di jalan dan menghujaninya dengan pertanyaan: “Kamu mau jadi perempuan apa keluar malam-malam?”

Ketiga, setelah benar-benar dianggap sebagai perempuan sejati dengan keluarnya darah dari vagina. Kali ini, apa lagi yang salah? Ya menstruasimu itu, sebab darah yang keluar dipandang sebagai sesuatu yang kotor. Bahkan, untuk mengucapkan istilah menstruasi saja, harus pakai istilah lain, semisal halangan. Memangnya acara Benteng Takeshi pake halangan dan rintangan segala?!

Keempat! saat mau menikah (belum menghitung entah berapa kali kerabat dan tetangga bisik-bisik soal ‘perawan tua’). Apalagi, kalau calon suami adalah perangkat negara, wahhh…. lagi-lagi, vaginamu bakal menjadi sasaran. Sebelum boleh menjadi istri, vaginamu harus diperiksa terlebih dahulu melalui ‘tes keperawanan’.

Baca juga: Kenapa Harus Malu ketika Sedang Menstruasi?

Tentu saja, alasannya demi menjaga nama baik negara, walaupun Human Rights Watch pernah menginstruksikan kepada Presiden Jokowi untuk menghentikan ‘tes dua jari’ itu karena tentu saja sangat diskriminatif dan melanggar Hak Asasi Vagina, eh maksud saya Manusia. Hehe, kita yang memiliki vagina ini masih dianggap manusia, nggak sih??

Ehhhh, jangan lelah dulu Hayatiii…. semua ini belumlah berakhir!!!11!!11!!!

Apakah setelah menjadi seorang istri, maka keperempuananmu bisa bebas?

Jangan senang dulu, jeng, karena negara sepertinya masih belum puas merecoki hidup perempuan. Sebuah karya maha agung baru saja diusulkan oleh para wakil rakyat. Wakil rakyat??? Mereka menyebutnya RUU Ketahanan Keluarga.

Baca juga: RUU Ketahanan Keluarga buat Siapa? Lo Aja Kali sama Keluarga-keluarga Lo!

Pada pasal 25 dijabarkan bahwa istri punya tugas utama, yaitu mengurus rumah tangga, menjaga keutuhan keluarga, dan memenuhi hak suami dan anak. Ya betul, hanya istri saja di peraturan itu yang diwajibkan mengurus rumah tangga.

Lantas, buat apa pasal-pasal pemanis seperti cuti hamil dan melahirkan bagi pekerja perempuan? Lha wong, tugas utamanya saja di rumah kok!

Apa sih sebenarnya yang membuat masyarakat berpikir bahwa perempuan itu memang lebih baik di rumah saja mengurus rumah tangga? Apakah perempuan terlalu lemah untuk bekerja seperti laki-laki? Apa pekerjaan rumah tangga adalah sebuah pekerjaan sederhana?

Saya kembali teringat dialog dalam film Kim Ji-young, saat suaminya mengamini sang ibu yang menganggap Ji-young gila karena memutuskan bekerja, dan meminta Ji-young di rumah saja dengan berkata, “Ya sudah kamu istirahat saja di rumah.”

Sontak, perkataan itu langsung dipotong oleh Ji-young dengan melontarkan sebuah pertanyaan, “Apakah mengurus rumah adalah sebuah istirahat?”

Artikel populer: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

Bahkan, sebuah pemberitaan mengabarkan, katanya moral perempuan yang dianggap bobrok karena memberontak akan berevolusi jadi dedemit. Sebut saja kuntilanak, kuyang, wewegombel, sundel bolong! Perempuan semua, bukan?!

Aduuhhh… lahir salah, hidup salah, bahkan sampai mati pun salah. Rasanya pengen jadi orang-orangan sawah aja!

Eh tapi, sawah sekarang sudah jadi sawit ya? Orang-orangan sawah pun sudah diganti dengan orang beneran bawa bedil. Hiiiiiii… lebih seram dari orang-orangan sawah, beb!

5 KOMENTAR

    • Dimana sih ada kata-kata “merasa salah dilahirkan” kebiasaan deh Artikel nya apa komentar nya apa ga nyambung banget. Seenak banget nyuruh orang ganti kelamin. Emang ya kalo pikiran nya cuman dada sama selangkangan doang. Solusi nya emang gak jauh-jauh dari dua hal itu. Heran saya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini