Ilustrasi (Image by Prawny from Pixabay)

Perihal ‘Gilang bungkus’ yang ramai dibahas di media massa dan media sosial, kita dibuat gemas dan tak jarang yang membatin atau mencuit, “Kok korban patuh betul ya? Kenapa mau-mau aja disuruh begitu?

Jawabannya tentu bisa beragam. Ada yang bilang, budaya Timur membuat kita jadi nggak enakan untuk menolak, sulit untuk bilang tidak. Apalagi tak jarang dari kita yang dididik untuk menjadi patuh, bahkan begitu brojol ke dunia ini langsung didoakan oleh kakek, nenek, om, dan tante: semoga jadi anak yang patuh pada orangtua.

Sebagian besar dari kita mengalami hal ini, saat di rumah harus patuh pada orangtua, di sekolah harus patuh kepada guru, di langgar harus patuh pada ustaz dan ustazah, di jalanan harus patuh pada polisi. Kemudian, ketidakpatuhan direkatkan dengan berbagai label: pelanggar aturan, durhaka, egois, tidak guyub, hanya memikirkan diri sendiri, kurang setia kawan, tidak punya kepedulian, dan lain-lain yang biasanya negatif.

Baca juga: Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Keterbiasaan untuk patuh dan label buruk pada ketidakpatuhan yang sudah dipatri sejak masih orok bisa jadi salah satu penyebab para korban jadi merasa nggak enak untuk menolak dibungkus.

Ada dua eksperimen terkenal yang mempengaruhi bagaimana psikologi modern membaca kepatuhan. Pertama, Eksperimen Milgram yang ingin melihat tingkat kepatuhan subjek penelitian terhadap otoritas yang jahat.

Hasil penelitian Milgram ini menunjukkan bahwa subjek penelitian menurut saja ketika diminta oleh seseorang yang dianggap memiliki kuasa, untuk menyiksa seseorang. Hasil riset ini sangat mengejutkan bagi Milgram, karena dia kira manusia telah diajarkan nilai-nilai mendasar untuk tidak menyakiti sesama.

Kedua, Eksperimen Penjara Stanford (Stanford Prison Experiment) yang diketuai oleh Philip Zimbardo. Zimbardo menemukan bahwa subjek penelitian yang berpura-pura menjadi penjaga penjara (pemilik kuasa) menjadi semakin agresif, dan subjek yang berpura-pura menjadi tahanan (dikenai kuasa) menjadi semakin submisif dan patuh.

Baca juga: Bagaimana Melepaskan Diri dari Relasi Kuasa Hubungan Seksual

Kedua eksperimen ini kemudian direplikasi oleh banyak peneliti lain, dan mereka menemukan bahwa para subjek menemukan tingkat kepatuhan yang cukup tinggi terlepas dari gender dan kultur.

Menurut Milgram, subjek penelitian menjadi patuh karena mereka melihat dirinya sebagai instrumen yang digunakan untuk memenuhi keinginan orang lain yang memberi perintah. Sebab itulah, meski 90% subjek merasa tidak nyaman dan tidak ingin melakukan hal yang diperintah, alih-alih mempertanyakan dan mengungkapkan keinginan atau ketidakinginan, para subjek malah menurut saja.

Terdengar familiar, kan?

Hal itu dibangun secara tidak sadar oleh sebagian masyarakat kita. Misalnya, saat saya dihukum guru SMA karena mengambil mangga di halaman sekolah, guru saya menolak untuk melakukan dialog. Pada saat itu, saya betul-betul tidak paham mengapa harus dihukum? Toh, mangga ada di lingkungan sekolah dan saya bersekolah di situ. Bukankah mangga itu berarti menjadi milik saya juga? Kenapa saya dituduh mencuri?

Baca juga: Tanda-tanda Relasi yang Sehat, Berkaca dari The King: Eternal Monarch yang Uwu-uwu

Namun, ketika saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, hukuman malah ditambah. Tak ada ruang dialog, dan kita hanya diminta patuh tanpa diajak berpikir maupun memahami.

Sekolah ingin murid yang patuh, masyarakat ingin warga yang patuh, dan negara ingin rakyat yang patuh. Padahal, kepatuhan sosial juga sering terbukti tidak baik.

Kasus bungkus-membungkus tadi hanya contoh saja. Kepatuhan (dan berbagai dimensi sosial ekonomi lain) juga bisa jadi salah satu faktor yang menyebabkan korban kekerasan dalam rumah tangga diam saja dan melindungi pelaku yang biasanya dianggap memiliki otoritas di rumah tangga.

Dalam versi besar bermasyarakat dan bernegara, kepatuhan membantu Pol Pot menghabisi dua juta warga Kamboja. Di Indonesia, kepatuhan menyebabkan pembunuhan besar-besaran yang diperkirakan hingga satu juta orang selama 1965-1966. Kepatuhan juga yang membantu Nazi membunuh sekitar lima-enam juta orang Yahudi.

Artikel populer: Bunuh Diri Bukan Cuma Perkara Iman, sebab Ada yang Bunuh Diri Atas Nama Iman

Kita sering kali memuja negara seperti Jepang yang masyarakatnya sangat patuh dan taat pada peraturan, juga pada nilai-nilai sosial. Tidak terlalu peduli jika tekanan untuk patuh pada norma sosial itu juga menjadi salah satu penyebab Jepang menjadi salah satu negara dengan jumlah angka bunuh diri tertinggi.

Mengutip Kumi Naidoo, kepatuhan adalah norma yang usang. Pada saat ini, masyarakat lebih membutuhkan ketidakpatuhan sosial, alih-alih kepatuhan sosial, agar dapat menyelamatkan umat manusia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini