Ilustrasi. (Photo by Daria Sannikova from Pexels)

Sekitar 60% orang dewasa, menurut penelitian Robert S. Feldman (2002) dari Universitas Massachusetts – seperti dikutip dari Tirto – umumnya melakukan satu kebohongan dalam durasi 10 menit percakapan. Konon, itu terjadi demi membuat lawan bicara merasa lebih nyaman.

Berdasarkan temuan ini, tokoh Choi Won-deok (diperankan oleh Kim Hae-sook) dan Han Ji-pyeong (diperankan oleh Kim Seon-ho) dalam drama Korea berjudul Start-Up rasanya melebihi perkiraan Feldman. Selama 15 tahun, mereka dikisahkan ‘menciptakan’ sahabat pena untuk tokoh Seo Dal-mi (diperankan oleh Bae Suzy) melalui surat-surat manis yang dikirim dengan nama palsu: Nam Do-san.

Secara sederhana, selama 15 tahun, mereka berbohong dan membiarkan Dal-mi percaya bahwa Nam Do-san dalam surat itu sungguhan ada.

Dalam perjalanan cerita, Dal-mi mencari-cari Do-san yang dulu selalu mengiriminya surat. Gadis ini sama sekali tidak tahu kalau si penulis surat adalah Ji-pyeong, atas permintaan si nenek – Won-deok – dengan alasan agar Dal-mi tidak merasa kesepian.

Untuk menutupi kebohongan selama 15 tahun itu, Ji-pyeong dan Won-deok bertekad menemukan orang bernama Nam Do-san untuk dimintai tolong menjadi sosok dalam surat masa kecil Dal-mi.

Baca juga: Jika Drakor Start-Up Diadaptasi Menjadi Sinetron Indonesia

Penonton drama Start-Up, seperti kebanyakan drama Korea lainnya, berebut menebak akhir cerita. Apakah tokoh utama perempuan bakal berakhir dengan tokoh utama laki-laki atau justru second lead laki-laki yang biasanya digambarkan lebih menjanjikan, tapi nasib percintaannya harus kandas secara tragis?

Lalu, terjadilah sesuatu yang tak bisa dielakkan lagi: Second lead syndrome (SLS).

Ada banyak alasan mengapa second lead lebih banyak dicintai daripada tokoh utama. Dalam drama Start-Up, misalnya, Ji-pyeong digambarkan sebagai laki-laki lebih dewasa dan kerap melindungi. Kalau mau yang lebih lawas, ingat-ingat saja drama Full House. Min-hyuk harus kalah mendapatkan hati Ji-eun yang akhirnya lebih memilih Young-jae. Atau, contoh lain yang lebih sederhana dari drama Taiwan: San Chai akhirnya jadian sama Dao Ming Si, bukan Hua Ze Lei. Ingat, kan, Meteor Garden?

Second lead syndrome membuat penonton drama menahan-nahan sakit sepanjang episode yang on going. Kadang-kadang, jalan cerita membuat mereka yakin bahwa second lead inilah yang akan bersanding dengan pemeran utama, tapi tak jarang mereka seolah ‘diingatkan’ lagi porsi jagoan mereka: bukan tokoh utama.

Baca juga: Drama Start-Up dan Perempuan yang Rentan terhadap Impostor Syndrome

Meski tidak selalu, kebanyakan drama Korea memiliki pola yang sama, yaitu tokoh utama pria akan bersanding dengan tokoh utama perempuan. Second lead akan tetap jadi second lead, entah bertemu dengan cinta yang lain atau memilih jalan hidupnya sendiri. Ujung-ujungnya, paling gontok-gontokan antara pendukung tokoh utama dan second lead. Demi tokoh favoritnya tidak berakhir menyedihkan, penonton berharap penulis skenarionya punya cukup hati agar second lead berhasil memenangkan hati tokoh utama perempuan.

Tapi – mungkin kita lupa – sesungguhnya ‘menang’ tidak selalu berarti berhasil menggaet hati gebetan.

Kemenangan tidak melulu soal cinta. Bahkan, seperti kata Kale dalam film NKCTHI, atau kata Dinda dalam film Story of Kale, kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab kita. Benar, bahwa melihat Seo Dal-mi bahagia juga turut menyenangkan hati Nam Do-san dan Han Ji-pyeong. Tapi, hidup tentu tidak semata-mata diukur dari ‘menjadi pasangan atau tidak’.

Second lead syndrome memang ada. Ji-pyeong, Min-hyuk, atau Hua Ze Lei bisa jauuuhhh terlihat lebih keren dibanding Do-san, Young-jae, atau Dao Ming Si. Hidup, kan, lebih luas daripada itu. Dengan pesona mereka masing-masing, kebahagiaan tidak selalu berupa Dal-mi, Ji-eun, atau San Chai.

Baca juga: Story of Kale dan Kunci untuk Keluar dari Hubungan Abusif

Hidup memang harus terus berjalan. Namun, sesaknya second lead syndrome nyatanya tidak ada apa-apanya dibanding kerugian yang sedang dialami JKT48, grup idol terbesar di Indonesia.

Melalui pengumuman GM Theater JKT48, Melody, kita semua jadi tahu bahwa pandemi Covid-19 berdampak cukup keras pada Shani dan kawan-kawan. Acara handshake jelas tak bisa dilakukan walau sejak awal mereka cukup taat pada penggunaan hand sanitizer, bahkan sebelum pandemi datang. Penampilan di theater juga tersendat karena kebijakan anti-kerumunan untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Jalan yang diambil cukup ekstrem: JKT48 akan melakukan reduksi jumlah member dan staf.

Bahkan, dalam dunia hiburan yang memberi kita energi positif melalui lagu Heavy Rotation hingga Rapsodi, PHK juga tak terhindarkan. Siapa member yang bakal diberhentikan dari grup atas kebijakan ini? Bagaimana dengan para pendukung yang sudah melihat si member berkembang sejak jadi trainee hingga debut dan masuk tim?

Seperti second lead syndrome, penggemar JKT48 juga tak ingin idolanya terpaksa berhenti dari naungan grup. Tapi, apa boleh buat, pandemi ini nyata dan efeknya sungguhan ada. Inilah jalan terbaik agar JKT48 tetap bertahan, alih-alih dibubarkan seluruhnya.

Artikel populer: Ujian Sesungguhnya Penggemar K-pop, Bukan Persoalan Cinta Searah

Hidup, sekali lagi, memang harus terus berjalan. Perasaan sesak karena second lead syndrome atau menghilangnya member idola, kelak, adalah konsekuensi dari seluruh waktu yang berlalu. Ada banyak hal yang tak bisa kita paksakan dan hanya bisa kita jalani.

Saya pun merasakan, sekitar empat bulan lalu: menikah di tengah pandemi tanpa kehadiran para sahabat. Tidak ada keragu-raguan mendukung penanggulangan wabah demi kehidupan kembali normal, meski harus dibayar dengan nyeri karena keinginan untuk bertemu tidak terwujud.

Namun, empat bulan kemudian, malah ada yang menggelar pesta pernikahan dengan 10.000 undangan sampai menutup jalan. Emosi yang memuncak ini bahkan tak bisa meletup. Hidup memang harus terus berjalan, walau kadang diselingi rasa iri yang dicampur kesal level seribu!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini