Sebut Saja Namanya, Bukan Nama Suami atau Lainnya

Sebut Saja Namanya, Bukan Nama Suami atau Lainnya

Ilustrasi (Image by Efes Kitap from Pixabay)

Belum lama kawan saya mengirim undangan pernikahan, kebetulan ia juga kawan suami saya. Tentu, kami turut berbahagia. Tapi, mengapa undangan itu tidak menyertakan nama saya? Kok hanya ditulis “nama suami saya & keluarga”?

Mungkin, orang akan ngomong, “Halah… gitu doang baper.” Atau, “Ya udah sih, namanya juga udah kawin, biar praktis aja.” Oh tidak, harusnya nama istri juga ditulis dengan benar. Baper? Biarin…

Tapi, kalau mau berpikiran positif, bisa jadi karena nama saya susah dieja atau lupa atau memang nggak diundang, hee…

Ini sebetulnya dialami banyak perempuan yang sudah menikah. Menikah seolah menghilangkan nama perempuan dan menggantinya dengan “keluarga” atau nama suami.

Semisal, namanya Tika. Kalau lagi kondangan kemungkinan besar dipanggil “Bu Bambang”. Atau, Stella yang seketika bisa berubah jadi “Bu Steven”. Ada juga sih yang namanya bertahan, tapi tetap ada embel-embel nama suami: Bu Iriana Jokowi!

Baca juga: Kelakuan Orang-orang di Negara +62 terhadap Profesi Ibu Rumah Tangga

Beberapa orang bilang bahwa itu sebagai bentuk ‘penghormatan’ dalam budaya timur. Penghormatan untuk lelaki? eh, suami? Tunggu duluu.. Dalam beberapa tradisi timur, semisal tradisi Islam, mengganti nama perempuan dengan nama suaminya tidak diizinkan, lho.

Yup, kamu harus menyebut nama seorang perempuan secara jelas. Ini demi menghindari tertukarnya nasab dan garis keturunan seseorang. Tertuang pula di Al-Quran, bahwa siapapun itu baik lelaki atau perempuan lebih berhak dipanggil dengan nama orang tuanya atau bahkan nama anaknya, bukan nama suami.

Di barat, semisal di beberapa negara bagian di Amrik, mengganti nama seorang perempuan dengan nama suaminya menjadi hukum tetap. Ketika seorang perempuan menikah dan mengambil nama keluarga pasangan, maka nama itu menggantikan nama pemberian orangtuanya yang tercatat sejak awal di akta kelahiran.

Dalam kasus tersebut, nama lama perempuan itu disebut nama gadis. Nama gadis sendiri bersifat sangat feminin yang kelak akan diganti dengan nama yang bersifat maskulin atau nama keluarga pasangannya.

Baca juga: Yang Kebarat-baratan dan Ketimur-timuran dalam Nama Kita

Ada banyak sekali tokoh-tokoh perempuan yang pernah berusaha mempertahankan namanya dan melawan aturan. Salah satunya, Lucy Stone. Pemikir feminisme masyhur itu pernah mengangkat isu nasional tentang hak perempuan yang sudah menikah untuk mempertahankan nama keluarganya sebagai bagian dari hak-hak perempuan di Amerika.

Setelah kejadian itu, setiap perempuan yang memilih untuk tidak menggunakan nama keluarga suami dipanggil “Lucy Stoners”. Apa kamu juga seorang “Lucy Stoners”?

Lucy bukan orang terakhir yang kritis terhadap aturan tersebut. Jane Grant, pendiri The New Yorker, pernah menulis sebuah karya pada 1943 tentang upaya mempertahankan namanya setelah menikah, serta pengalaman perempuan lain yang berusaha mempertahankan nama gadis mereka saat dinas militer, pengurusan paspor, hingga pemilihan umum.

Coba kita lihat, ketika negara mewajibkan pergantian nama seorang perempuan dengan nama laki-laki, mereka malah melawan. Di negara kita, bagaimana? Meski tidak menjadi hukum tetap, masih ada lho yang merasa baik-baik saja, bahkan bangga kalau dipanggil pakai nama yang bukan dirinya. Bu Bambang… Bu Bambang…

Baca juga: Menikah, tapi Nggak Mau Punya Anak, Boleh kan?

Sementara itu, di Skotlandia, sah bagi seorang perempuan untuk mempertahankan nama gadisnya setelah menikah. Bahkan, jika keluarga perempuan lebih ‘berpengaruh’ dari keluarga laki-laki, dia terkadang mengambil nama keluarga perempuan.

Jadi, jelas, persoalan nama istri nggak disebut dalam undangan pernikahan atau panggilan sehari-hari, bukan karena baperan. Ketika dunia bergerak, sebagian orang malah melestarikannya sebagai bentuk ‘penghormatan’ dalam budaya timur.

Tentu sangat disesalkan, ketika isi celana dalam menentukan keistimewaan seseorang. Laki-laki diizinkan mempertahankan identitasnya sampai mati, sedangkan sebagian perempuan masih serupa dengan barang kepemilikan.

Sebetulnya masih banyak kok yang mengatur nama seseorang berdasarkan garis ibu di Indonesia. Suku Minangkabau, misalnya. Lalu, ada Suku Sakai, Suku Enggano, Suku Aneuk Jamee, Suku Petalangan, dan lain-lain.

Setidaknya baik dari nasab ayah atau ibu, pernikahan seharusnya tidak menghilangkan identitas seseorang. Menjadi seorang istri bukan berarti bersedia membuang identitas asalnya, lalu mengganti atau diganti dengan identitas suami.

Artikel populer: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Catat ya, mas kawin bukan alat tukar atas identitas maupun kebebasanmu. Jangan mau menikah kalau perkawinan justru membunuh jati dirimu, menghilangkan identitasmu, seperti yang terjadi dalam masyarakat patriarkis.

Penghilangan nama istri, yang kemudian diganti atau diembel-embeli dengan nama suami atau cukup disebut “…dan keluarga” itu sama saja menempatkan perempuan sebagai subordinat dalam kehidupan sosial. Perempuan cuma dianggap numpang hidup. Sosok yang bergantung dan terkatung-katung kalau tidak dinikahi laki-laki.

Jadi, besok-besok, kalau mau ngundang kawinan, misalnya, atau menyapa teman perempuan yang telah menikah, panggil aja nama aslinya ya guys

Btw, kamu udah bikin undangan, belum?

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.