Sebut Saja Menstruasi, Kenapa Merasa Risih?

Sebut Saja Menstruasi, Kenapa Merasa Risih?

Ilustrasi (Photo by Muhammad Ruqiyaddin on Unsplash)

“Kamu lagi halangan ya?”

“Halangan itu apa?”

“Lagi dapet.”

“Dapet apa? Rezeki?”

“Lagi berdarah-darah.” (emoji ketawa ngakak)

“Nggak jatuh tuh, jadi nggak berdarah.”

Dialog singkat itu lazim terjadi dalam masyarakat kita. Sebab, masih banyak orang yang merasa sungkan atau risih menyebut istilah menstruasi secara gamblang. Mereka lebih memilih istilah lain, seperti ‘halangan’, ‘lagi dapet’, ‘datang bulan’, ‘tamu bulanan’, dan haid.

Istilah ‘datang bulan’ digunakan karena menstruasi biasanya datang secara rutin setiap bulan. Istilah haid diambil dari bahasa Arab yang secara kebahasaan berarti mengalirnya sesuatu – bisa air, bisa pula getah dari pohon. Sedangkan menstruasi berasal dari bahasa Latin pada akhir abad ke-16, yaitu mensis atau bulan – keterangan waktu.

Sementara, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah ‘datang bulan’ dan haid memang dimaknai sama dengan menstruasi. Namun, dalam masyarakat kita, penggunaan tiga istilah tersebut nyatanya tak lagi setara. Sebagian orang sungkan atau risih menggunakan istilah menstruasi, karena dianggap kurang sopan atau bersifat terlalu privat.

Baca juga: Kenapa Takut dengan Vagina?

Sebuah penelitian yang fokus pada kesehatan seksual dan reproduksi perempuan menemukan bahwa penyebutan secara spesifik untuk istilah menstruasi masih tabu di banyak negara. Penelitian tahun 2016 yang melibatkan 90.000 orang dari 190 negara mengungkapkan bahwa perempuan menggunakan 5.000 istilah berbeda untuk menghindari pembicaraan dengan teman atau saudara laki-laki.

Jadi ini adalah fakta global, tak hanya di negara ber-flower seperti Indonesia. Dalam percakapan sehari-hari, saya nyaris tak mendengar sama sekali istilah menstruasi. Padahal, itu adalah proses biologis.

Mengapa?

Ada berbagai kemungkinan di balik itu. Pertama, menstruasi terjadi pada bagian tubuh yang dianggap sangat privat – yang juga sering dimanipulasi keberadaannya: vagina. Nasib keduanya memang mirip. Ada semacam anggapan bahwa sebaiknya vagina juga dicari istilah pengganti. Padahal, anggapan itu sudah usang. Lha, memangnya salah kalau kita menyebut vagina?

Kedua, menstruasi sebagai fase biologis dianggap jorok dan kotor, sehingga membahasnya secara jujur dan gamblang, terlebih itu dengan lawan jenis, seolah-olah bisa mempermalukan perempuan.

Baca juga: Salah Paham soal Selaput Dara

Mau bagaimanapun, menstruasi adalah sebuah fase yang merupakan bagian dari siklus hidup seorang manusia. Pada fase menstruasi, dinding rahim luruh dan dikeluarkan dari tubuh melalui vagina. Itu terjadi akibat berkurangnya kadar hormon seks. Karena itu, penyebutan istilah menstruasi seharusnya biasa aja, keleus…

Selama ini, penciptaan bentuk denotatif istilah menstruasi tampak seperti usaha untuk menyelubungi fenomena biologis manusia. Terasa sekali ada lapisan yang sengaja digubah supaya manusia tidak bersentuhan langsung dengannya. Nah, ketika menstruasi dipandang sebagai pengalaman yang tabu untuk dibahas, itu menjadi masalah.

Seorang teman pertama kali menstruasi ketika kelas 5 SD. Ia bahkan sampai tak mau mengakui fakta itu. Waktu semua murid salat bersama di musala, dia bersembunyi supaya tidak diolok-olok karena merasa sedang menanggung suatu fenomena yang ‘kotor dan memalukan’. Itulah mengapa penggunaan istilah menstruasi dan pembahasannya yang terbuka harus dibiasakan sejak dini.

Baca juga: Kita Harus Berani Bicara soal Seks

Di sini, kita sebetulnya tak hanya bicara soal perempuan. Semua jenis kelamin layak dan berhak memperbincangkan tubuhnya secara jujur dan terbuka. Ini adalah bentuk penghargaan terhadap tubuh dan seluruh proses biologis yang terjadi pada manusia. Kalau sudah begitu, muncul keyakinan bahwa pengungkapan diri manusia berbeda dengan benda-benda yang bisa diobjektivikasi.

Sementara, kalau kita bicara tentang penghargaan terhadap tubuh perempuan – dalam konteks menstruasi – tak jarang masyarakat membatasinya pada tindakan memahami kondisi ketika seseorang mengalami sakit saat premenstrual syndrome (PMS) saja. Padahal, ada yang jauh lebih mendasar daripada itu.

Poin yang harus diyakini adalah cara keseluruhan tubuh itu berada. Sebab, ketika manusia – dalam hal ini perempuan – hadir secara utuh dan menyeluruh, sebagaimana sabda epifani wajah dari Opa Levinas: ia menentang setiap bentuk totalitas dan menuntut individu di luar dirinya untuk bertanggungjawab kepadanya.

Artikel populer: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Membicarakan menstruasi, vagina, maupun penis – tak hanya sebagai istilah, melainkan sebuah isu – dengan jujur adalah penerimaan terhadap ketelanjangan wajah. Ketika transendensi dalam wajah, tubuh, serta keseluruhan diri individu tertangkap, relasi yang terbentuk kelak adalah relasi asimetris. Aku secara primordial dituntut untuk mengutamakan Yang Lain, yang memiliki hak untuk menuntut.

Dengan demikian, membicarakan menstruasi tanpa selubung adalah batu lompatan yang tepat untuk kemudian membahas tentang poin-poin praktis dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, penerapan cuti menstruasi yang oleh banyak perusahaan belum disosialisasikan, diterapkan, dan tidak diberikan kepada yang berhak.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.