Ilustrasi. (Image by StockSnap from Pixabay)

Belum lama ini saya diwawancara oleh TV swasta soal keputusan untuk menunda menikah. Keputusan itu sebetulnya lumrah saja, bahkan ada rekan kerja yang menikah di atas usia 35 tahun. Tante di kampung juga menikah di atas usia 30.

Lalu, apa sih alasan utama dari keputusan tersebut? Terlebih jika tinggal di Jakarta, mungkin saja jodoh sudah di depan mata. Baiklah, saya akan beberkan alasan sesungguhnya, biar besok-besok bisa lebih menghargai hidup orang lain. Sebab menunda menikah atau bahkan tidak menikah itu normal, sebagaimana mereka yang menikah.

Baca juga: Tidak Menikah Itu Normal, Sebagaimana Mereka yang Menikah

Alasan pertama, menunda pernikahan karena ingin mengembangkan diri. Melihat sejauh mana bisa menjadi orang yang berguna. Saya adalah dokter gigi, apakah bisa mengembangkan diri di luar itu? Ternyata bisa. Menjadi penulis buku, penari, kreator konten, copywriter, hingga manajer media sosial. Sudah cukup? Belum. Masih ada hal-hal lainnya.

Alasan kedua karena ingin mempersiapkan diri agar kelak jika menikah dan punya anak, sudah siap secara fisik, mental, dan keuangan. Secara fisik, seseorang butuh makanan bernutrisi supaya tetap sehat, dan itu semua butuh kestabilan finansial. Kemudian, belajar parenting agar bisa menjadi contoh yang baik bagi anak nantinya. Kesannya narsis, tapi bukankah anak kerap mencontoh orangtuanya?

Baca juga: Tantangan Perempuan Kelas Menengah saat Menjadi Orangtua

Lantas, apakah itu semua tak bisa dilakukan saat menikah?

Menurut saya tidak. Bagaimana berkembang tanpa ada halangan dan tekanan, tanpa harus mempertimbangkan orang lain ketika mengambil keputusan besar dalam hidup. Misalnya soal pilihan untuk bekerja di luar rumah. Perempuan sering kali dipaksa untuk mempertimbangkan apa kata suaminya, jika ia melakukan perubahan karier. Namun, tidak dengan laki-laki.

Lelaki cenderung bebas melakukan perubahan karier tanpa perlu berkonsultasi dengan pasangannya. Walaupun dengan pasangan yang setara, tetap saja perempuan sering kali merasa harus mempertimbangkan apa kata pasangan. Padahal itu karier, karier dia.

Kan, kepingin juga berada di posisi dimana karier sudah stabil sebelum akhirnya menikah, sehingga tidak ada intervensi dari siapapun.

Pertanyaan lainnya, apakah ada trauma dalam menjalin hubungan dengan lelaki, sehingga mempengaruhi cara pandang soal pernikahan? Begini, jika hubungan kandas, semestinya jangan dilihat sebagai trauma, melainkan pembelajaran.

Baca juga: Pacaran Lama-lama Terus Putus, Rugi Nggak sih?

Setiap hubungan mengajarkan banyak hal tentang diri sendiri maupun orang lain. Relasi intim mengajarkan apa yang kita butuhkan dan apa yang kita suka. Proses menjalin hubungan juga memberikan ruang untuk membangun cinta dan tumbuh bersama.

Kalau ditanya trauma atau tidak? Tentu tidak. Sebagai perempuan cis hetero pasti sangat suka lelaki, tapi mencintai diri sendiri juga layak menjadi prioritas hidup. Setelah itu baru mencintainya.

Jadi, sebetulnya apa sih yang dicari perempuan sampai-sampai harus menunda menikah?

Kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan. Kebahagiaan tak perlu dan tak selalu didefinisikan dengan menikah, bukan? Kebahagiaan bisa dengan meraih cita-cita, memulihkan diri, serta merasa aman dan nyaman. Sayangnya, masyarakat masih merasa aneh jika melihat perempuan yang tak melihat pernikahan sebagai sumber kebahagiaan.

Artikel populer: Memangnya Bisa Ya Jatuh Cinta Tanpa Alasan?

Pernikahan bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi sejumlah orang atau menjadi sumber kesekian, namun kebahagiaan hanya bisa datang dari diri sendiri. Kebahagiaan dikonstruk dari kondisi yang kita bentuk. Jika kita menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, maka apa yang akan terjadi jika salah satu pasangan membawa kesengsaraan?

Begitu pula dengan kesehatan. Kita jarang membahas kesehatan sebagai sebuah integral dan fondasi dalam menjalankan kehidupan. Jika secara fisik dan psikis tidak sehat, apakah bisa beraktivitas dengan produktif, berekreasi, dan bersosialisasi? Kalau tidak sehat, kapan mau cari pasangan untuk menikah dong? Yuk, jadikan kesehatan sebagai kunci utama dalam hidup.

Lalu, soal kesejahteraan. Menunda pernikahan untuk memastikan kesejahteraan diri sendiri juga penting dan sah-sah saja, sebelum nantinya membawa manusia baru untuk hidup bersama di dunia ini.

Sederhananya, tak ada yang salah mencari kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan. Yang salah kaprah adalah memandang bahwa pernikahan dapat memberikan semua itu secara cuma-cuma.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini