Ilustrasi (Thomas Vanhaecht via Pexels)

Seorang pembeli tampak meminta pesanannya agar cepat diantar. GPL alias Gak Pake Lama. Tak lama, dengan nada bercanda, Farida menjawab, “Boleh, bikin sendiri yhaa…”

Ya bukan apa-apa, kondisi warung memang masih lumayan ramai, pesanan makanan masih ada yang belum terlayani. Tapi, kemudian, mbaknya menimpali, “Wokey, nanti ya mbak, kalau aku udah jatuh miskin, nggak sanggup beli makan lagi, tak kerja di sini wes.”

Farida hanya tertawa mendengarnya. Ia sudah hafal tabiat para pembeli yang datang ke warung kami. Tapi, saya justru merasa sebal dengan perkataan pembeli tadi yang bisa dibilang nggak sopan.

Peristiwa semacam itu sebetulnya bukan hanya sekali. Farida kerap mendapat cibiran dari para pembeli, yang rata-rata anak kuliahan di salah satu perguruan tinggi swasta besar di Semarang.

Mereka sebenarnya tidak paham apa yang dilakukan Farida. Bahwa Farida tidak semiskin itu. Ia memilih untuk bekerja di warung penyetan saya agar ia bisa membayar kuliah dengan uang sendiri.

“You even better than her, she still ask money from her parents, while you don’t, you do the opposite, you can go college, and still give your mother some money from your salary.”

Saya mencoba sedikit menenangkan hati Farida. Bukan apa-apa, perkataan pembeli tadi sudah melukai. Perkara saya memakai bahasa Inggris, memang sudah jadi kebiasaan kami, terutama saat menghendaki pembicaraan terbatas. Walau bahasa Inggris masih blepotan kayak sambal penyetan yang clemat-clemot di atas cobek, hahaha…

Baca juga: Panduan untuk Mahasiswa agar Tak Sekadar Jadi Buruh IPK

Farida memang bekerja di warung saya, tetapi ia juga kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta, murni atas biaya sendiri, juga beasiswa yang diterimanya dari salah satu yayasan. Ia mengambil kuliah reguler, sehingga kalau malam, bisa bekerja di warung.

Hal ini mungkin terdengar berat bagi sebagian anak-anak muda sekarang, yang lebih banyak tercukupi kebutuhannya dari uluran tangan orang tua.

Perjuangan Farida untuk bisa meneruskan sekolah dengan mengambil jenjang perguruan tinggi, tidaklah mudah. Ia dibesarkan di panti asuhan sebagai anak yatim, terpaksa jauh dari ibunya yang berada di Tulungagung.

Salute dengan kegigihannya untuk kuliah sambil bekerja, semangat yang sudah jarang ditemui anak-anak sekarang yang terbiasa dengan jargon “Kecil dimanja dibikinin media sosial, muda foya-foya viral, tua kaya-raya terkenal, mati masuk surga jadi meme”.

Sebetulnya apa yang dilakukan Farida juga dilakukan oleh banyak mahasiswa kita, tapi rata-rata yang kuliah di luar negeri. Mereka yang kuliah di negeri seberang biasanya bekerja paruh waktu atau part time.

Itu bukan hanya demi mendapat uang saku tambahan lho, tapi juga menambah pengalaman dan memperluas jaringan pertemanan baru di negeri orang. Jadi wajar saja, meski sebagian masyarakat kita menganggap itu keren.

Sementara di sini, justru sebaliknya. Jika ada mahasiswa yang bekerja sambilan, tak jarang bukan hanya olok-olok dan cemooh dari teman-temannya, tapi juga dikucilkan karena dianggap sebagai anak kere.

Masih banyak orang yang memiliki mindset bahwa bekerja sambilan seperti bekerja di warung-warung penyetan semacam punya saya sebagai pekerjaan rendahan yang nggak ada gengsinya.

Baca juga: Suara-suara Sarjana yang Bekerja Tak Sesuai Jurusannya

Hal serupa pernah dialami Darwati, gadis asal Blora, yang juga meraih predikat cum laude untuk tingkat pendidikan Strata 1 dari jurusan administrasi negara di salah satu kampus ternama di Semarang.

Darwati yang bekerja sebagai PRT alias pembantu rumah tangga di Grobogan, Purwodadi, acapkali mendapat ejekan serta cibiran dari teman-teman kampusnya hanya karena ia bekerja sebagai PRT untuk membiayai kuliahnya sendiri.

Padahal, perjuangan Darwati pun tak mudah. Bukan hanya masalah pekerjaan, namun jarak antara tempat kuliah dan tempatnya bekerja bukanlah jarak tempuh yang pendek. Saat mahasiswa lain sibuk memamerkan kendaraan pribadinya, ia justru tengah berhimpitan di dalam bus antar kota, menempuh perjalanan antara Grobogan-Semarang.

Darwati, sama halnya dengan Farida, melakoni segala sesuatu demi meraih pendidikan yang lebih tinggi, tanpa gengsi. Apa pantas mereka dicibir?

Gengsi memang menjadi masalah utama anak-anak muda zaman sekarang. Generasi sekarang yang terbiasa ’disuapi’ oleh segala kemudahan, cenderung malas dan lebih memikirkan gengsi ketimbang memikirkan bagaimana caranya bisa hidup mandiri.

Mereka sibuk mengejar gadget terapdet, baju keren, dan kendaraan yang bagus supaya dianggap nge-hype. Terlebih, hidup tak seindah feed Instagram, yang segala sesuatunya kudu bin mesti dipamerkan di Insta Story.

Belum lagi, kebiasaan nongkrong di kafe-kafe yang nge-hits. Mana mau beli makan di warung nasi pinggir jalan? Nggak instagramable banget ihh… Bisa runtuh status sosial yang sudah capek-capek dipanjat penuh gengsi selama ini.

Tapi sayangnya, seberapa greget mereka kuliah dengan fasilitas yang memanjakan?

Di sisi lain, menjamurnya perguruan tinggi saat ini justru tak imbang dengan lulusan yang dihasilkan. Itulah kenapa sampai ada anggapan bahwa perguruan tinggi sekarang hanya memproduksi sarjana, bukan menghasilkan sarjana yang berkualitas.

Artikel populer: Cerita-cerita Mahasiswa Papua yang Kuliah di Pulau Jawa

Saya sering ngobrol dengan mahasiswa yang makan di tempat saya atau yang ketemu di berbagai acara komunitas. Jarang dari mereka yang mengetahui isu-isu terkini seputar perkembangan dunia luar, baik lokal maupun global.

Tapi jangan tanya tentang grup musik atau lagu yang tengah hits, game onlen terbaru, tempat wisata yang instagramable, atau tempat nongkrong paling asyik yang nggak kalah nge-hits.

Ya kalau sekadar ngupi-ngupi tjantiek di gerai kopi yang sedang menjamur sih, ya sutralah. Kupi setjangkir barang doea poeloeh riboe roepiah itu sudah biyasa.

Itulah mengapa seorang jurnalis kenamaan ABC dari Australia, Flip Prior, berkicau di akun Twitter seperti ini:

”Dear politics/media people; today I did a bit of workshoping with two bunches of high school students; only one knew there was a new Aus PM, none of them used Facebook, and none ever watched any news on any platform. Safe to say we are not exactly hitting that audience.”

Ya diartikan sendiri aja ya…

Prior ini berulang kali datang ke Indonesia sebagai pembicara di berbagai forum, terutama forum-forum yang diadakan oleh Google Indonesia.

Yes, boleh dibilang antusiasme anak-anak generasi Y memang sangat tinggi terhadap internet. Namun, seringkali ‘konsumsi’ mereka terhadap informasi di internet tidak berimbang. Belum lagi kalau bicara tentang skill life.

Anak muda seperti Farida dan Darwati, yang mau bekerja keras demi menggapai mimpinya, memang masih ada. Namun, mereka seolah terlupakan tatkala sekolah pada akhirnya hanya sebagai ajang hura-hura, kesempatan hidup jauh dari orang tua.

Padahal, di luar negeri, anak-anak yang berusia lebih dari 18 tahun sudah mulai belajar hidup mandiri. Tak hanya terpisah dari keluarga, tapi juga bekerja berusaha menghidupi dirinya sendiri.

Jadi, gimana, sampai kapan mencibir mahasiswa yang kerja sambilan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini