Seberapa Bohongnya Orang di Aplikasi Kencan? Temukan Jawabannya

Seberapa Bohongnya Orang di Aplikasi Kencan? Temukan Jawabannya

Ilustrasi (Tirachard Kumtanom via Pexels)

David Markowitz, Assistant Professor of Social Media Data Analytics, University of Oregon

***

Hampir seperempat dari kelompok dewasa muda  mencari pacar melalui situs web atau aplikasi kencan.

Bentuk pendekatan yang relatif baru ini memberi akses terhadap calon-calon pasangan yang potensial. Namun, cara baru ini juga menghadirkan serangkaian tantangan yang unik.

Contohnya, Anda mungkin pernah mendengar – atau pernah mengalami sendiri – kencan yang direncanakan secara online tapi tidak berjalan dengan baik karena satu dari beberapa alasan ini: Dia lebih pendek daripada yang ditulis di profilnya, dia terlihat beda dari yang ada di foto, atau dia banyak bicara melalui pesan pendek tapi menjadi sangat pendiam saat bertemu.

Dengan kata lain, profil seseorang – dan pesan yang dikirimkan sebelum kencan – tidak menggambarkan siapa orang itu sesungguhnya.

Dalam riset baru-baru inisaya dan rekan saya Jeff Hancock menginvestigasi: Seberapa sering seseorang berbohong dalam menggunakan aplikasi kencan? Dalam hal apa mereka cenderung berbohong?

‘Ponsel saya mati di tempat olahraga’

Studi kami termasuk yang pertama menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, meskipun peneliti lain juga telah memeriksa penipuan dalam kencan online.

Baca juga: Seberapa Yakin Anda dengan Kencan ‘Online’?

Riset-riset sebelumnya sebagian besar fokus pada profil kencan. Studi-studi itu telah menemukan, misalnya, para laki-laki cenderung melebih-lebihkan tinggi badan mereka dan berbohong mengenai pekerjaan mereka, sedangkan para perempuan cenderung mengurangi berat badan mereka dan cenderung menggunakan foto yang kurang akurat.

Tapi profil hanyalah satu dari proses kencan. Hanya setelah saling berbalas pesan seseorang akan memutuskan jika ingin untuk bertemu dengan calon pasangan.

Untuk memahami seberapa sering orang berbohong kepada calon pasangan mereka dan apa yang mereka palsukan, kami mengevaluasi ratusan pesan teks yang dipertukarkan setelah adanya kecocokan, tapi sebelum mereka bertemu – sebuah periode yang kami sebut “fase penemuan”.

Kami merekrut 200 peserta sebagai sampel. Mereka memberi kami pesan-pesan dari percakapan-percakapan terbaru mereka dan memberi tahu mana yang merupakan kebohongan. Beberapa peserta menjelaskan mengapa pesan-pesan tersebut menipu.

Kami menemukan bahwa kebohongan dapat dikategorikan ke dalam dua tipe utama. Jenis pertama adalah kebohongan yang berkaitan dengan presentasi diri.

Baca juga: Jangan-jangan Kamu Tidak Sadar, Kamu Adalah Pelaku atau Korban Kekerasan dalam Pacaran

Jika peserta ingin menampilkan diri mereka sebagai lebih menarik, misalnya, mereka akan berbohong tentang seberapa sering mereka pergi ke ruang olahraga.

Atau, jika mengenai kecocokan mereka untuk tampak religius, mereka mungkin berbohong tentang seberapa sering mereka membaca Alkitab untuk membuat mereka seolah-olah memiliki minat yang sama.

Kebohongan kedua terkait dengan manajemen ketersediaan. Orang yang kencan menjelaskan mengapa mereka tidak dapat bertemu dengan teman kencan mereka, atau tidak melakukan komunikasi sedikitpun, seperti berbohong kehilangan sinyal telepon mereka.

Penipuan ini disebut butler lies” alias kebohongan sopan via alat elektronik karena mereka menganggap ini adalah cara yang relatif sopan untuk menghindari komunikasi tanpa benar-benar menutup diri dalam komunikasi.

Jika Anda pernah mengirim pesan, “Maaf, saya tidak bisa dihubungi, ponsel saya mati,” padahal Anda tidak ingin berbicara, Anda telah berbohong secara sopan via ponsel.

Artikel populer: Ayolah, Banyak yang Lebih Penting daripada Kebelet Kawin dan Ngurusin Orang Pacaran

Melakukan kebohongan sopan tidak membuat Anda menjadi orang jahat. Sebaliknya, mereka dapat membantu Anda menghindari kesan buruk dalam pendekatan kencan, seperti selalu memiliki waktu luang atau putus asa.

Kebohongan yang disengaja atau disebar

Sementara penipuan atas presentasi diri dan ketersediaan merupakan kebohongan, kami mengamati bahwa hanya 7% dari semua pesan yang dinilai salah dalam sampel kami.

Mengapa tingkat penipuan rendah seperti itu?

Temuan kuat di seluruh riset mengenai penipuan baru-baru ini menunjukkan bahwa mayoritas orang jujur dan hanya ada sedikit pembohong produktif di tengah-tengah kita.

Berbohong agar tampak seperti calon pasangan yang baik atau berbohong tentang keberadaan Anda dapat menjadi perilaku yang sepenuhnya rasional. Bahkan, kebanyakan orang yang online sadar akan hal itu.

Berbohong sedikit-sedikit ada manfaatnya juga: Itu dapat membuat kita menonjol di pasar kencan, sementara kita tetap menjadi diri sendiri.

Namun, kebohongan yang besar – misalnya Anda bilang suka kucing, padahal alergi – dapat merusak kepercayaan. Terlalu banyak melakukan kebohongan yang besar bisa menjadi masalah untuk menemukan “seseorang”.

Ada hasil lain yang menarik berbicara pada sifat kebohongan yang dilakukan selama fase penemuan. Dalam penelitian kami, jumlah kebohongan yang diceritakan oleh seorang peserta berhubungan positif dengan jumlah kebohongan yang mereka yakini dikatakan oleh pasangan mereka.

Jadi, jika Anda jujur dan mengatakan beberapa kebohongan, Anda berpikir bahwa orang lain juga jujur. Jika Anda mencari cinta tapi berbohong untuk mendapatkannya, ada kemungkinan besar Anda juga akan berpikir orang lain juga berbohong kepada Anda.

Oleh karena itu, mengatakan sedikit kebohongan untuk cinta adalah hal yang normal, dan kita melakukannya karena itu melayani tujuan – bukan hanya karena kita bisa.

Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca sumber artikel.

1 COMMENT

  1. Mending gak usah terlalu banyak cerita dulu di awal daripada pressured to impress tapi pake acara bohong segala. Butler lies or white lies or whatever lies are still lies.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.