Sosok Dian di Film Tilik (Ravacana Films)

Memang tidak banyak referensi film pendek berbahasa daerah, tapi menurut selera saya, film berjudul KTP masihlah menjadi karya terbaik. Dalam film pendek KTP, isu yang diangkat serta gagasan yang disampaikan jelas. Berbeda dengan film pendek yang viral belakangan ini, Tilik, film yang disponsori oleh Dana Keistimewaan (Danais) DIY.

Meskipun dalam wawancaranya, sang sutradara mengaku kepingin meluruskan stigma perempuan lajang yang sering jadi sasaran empuk pergunjingan dalam kehidupan bertetangga, film ini justru menguatkan stereotip terhadap perempuan lajang nan molek, alih-alih meluruskan.

Sebagai pemirsa, sejujurnya saya terpukau dan terhibur oleh kreativitas film ini sampai-sampai nggak terlalu peduli bahwa ada yang problematik dalam penokohannya.

Jangankan menganggap film ini sebagai upaya pelurusan stigma perempuan, yang ada malah nggak ngerti isu apa yang sebenarnya diangkat, kritik apa yang ingin dibangun, dan pesan apa yang disampaikan. Apakah soal krisis literasi digital di kalangan perempuan? Kejulidan ibu-ibu pedesaan terhadap sesama perempuan? Kehidupan bertetangga masyarakat desa? Stereotip perempuan desa yang lajang, cantik, dan tidak berjilbab? Atau, cuma soal tradisi menjenguk pakai truk? Itu semua hampir ada di sepanjang film, tapi tanpa intensi tertentu.

Baca juga: Teori Sigmund Freud dalam Sosok Bu Tejo, Sindiran Telak Film Tilik

Awalnya, film ini terlihat ingin mengangkat isu krisis literasi digital di kalangan perempuan pedesaan dengan mengambil setting kebiasaan yang paling sering dilakukan oleh ibu-ibu pedesaan, yakni tilik’an. Tilik’an adalah sebutan untuk aktitivitas menjenguk orang sakit, agenda yang selalu ada di masyarakat desa. Tilik’an biasanya dilakukan oleh ibu-ibu, mulai dari minta iuran warga hingga sewa transportasi dan menjenguk ke rumah sakit.

Seperti forum-forum lain di desa, rewang atau arisan, tilik’an memang potensial menjadi forum gosip antar ibu-ibu. Perkembangan internet yang menjangkau pedesaan pun membuat pergibahan antar mereka – yang kini juga beranggotakan usia milenial – menyatut aktivitas bermedia sosial seseorang sebagai rujukan materi.

Sebagai orang desa dan lajang, saya pernah menyaksikan perbincangan seperti itu nyata adanya di kalangan ibu-ibu dan mbak-mbak desa. Setting film yang akrab dengan realitas tersebut juga yang bikin saya menikmati film Tilik.

Baca juga: Mereka yang Menikah dan Ditinggal Nikah oleh Mantan

Hingga pertengahan durasi film, sempat terpikir bahwa Tilik bisa menjadi tontonan bagus untuk mengedukasi ibu-ibu desa perihal literasi digital. Biar ibu-ibu dan mamah-mamah muda di desa nggak lagi gampang terprovokasi posting-an tetangga di media sosial. Lebih jauh lagi, mungkin film ini bisa membuat ambyar pandangan negatif ibu-ibu desa tentang perempuan lajang, cantik, molek, dan tidak berjilbab.

Tapi nyatanya, alur interpretasi tersebut malah ambyar oleh plot twist menakjubkan di akhir film.

Diketahui, sosok Dian si perempuan desa yang lajang, cantik, tidak berjilbab, mapan secara materi – setidaknya itu yang digambarkan oleh Bu Tejo – ternyata menjalin hubungan cinta serius dengan Pak Lurah yang sudah cerai dengan Bu Lurah. Sedangkan Bu Lurah yang menjanda setelah cerai dengan Pak Lurah dikabarkan menderita, sakit-sakitan, nggak terawat, dan punya anak lelaki satu saja umbas-umbis alias ingusan – setidaknya itu pula yang digambarkan melalui dialog-dialog dalam sesi pergibahan ibu-ibu.

Baca juga: Kita Rentan Terjangkit Infodemi, Pahami sebelum Terjebak dalam Ilusi

Ini tentu mengingatkan penonton pada dialog antara Bu Tejo dan Bu Tri.

“Kalau saya ngasih informasi mengenai Dian, apa saya keliru?” tanya Bu Tejo ke forum.

“Ya tidak dong, Bu Tejo. Menurut saya, informasi tentang Dian itu berfaedah. Sekarang gini, kalau Dian itu hidupnya berantakan, ya itu masalah dia sendiri. Yang penting, tidak merusak keluarga kita,” sahut Bu Tri sebagai pendukung loyalnya.

Plot twist yang digambarkan melalui adegan Dian dan Pak Lurah di dalam mobil seolah-olah mendukung citra perempuan lajang, cantik, molek, yang kerap disebut-sebut sebagai ‘pelakor’. Stigma mengenai sosok Dian yang jadi cemoohan dan bahan pergunjingan tidak memperoleh porsi pelurusan stigma di adegan manapun.

Jadinya, film ini bahkan nge-twist sejak dalam gagasan.

Sekalipun ada kritik perihal isu literasi digital, itu tentang bagaimana pemanfaatan media sosial sebagai rujukan fakta dan informasi. Meskipun kebenaran dari media sosial belum tervalidasi, tapi informasi itu seakan halal sebagai landasan bergibah. Sedangkan dalam hal niatan baik seperti tilik’an, kabar yang belum pasti nggak boleh jadi landasan kegiatan.

Artikel populer: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

“Jadi, menyebarkan informasi yang belum tentu benar itu termasuk fitnah atau bukan?” tanya Bu Tejo dengan kepuasan dan kenyinyiran di akhir sesi pergibahan, lalu disambut dengan cekikikan ibu-ibu.

Sementara, informasi mengenai sosok Dian yang disampaikan Bu Tejo, meskipun tak diketahui juntrungannya, justru tidak memperoleh sanggahan selain dari dialog tokoh Yu Ning yang itupun dikisahkan sebagai orang terdekat korban pergibahan.

Bagian itu juga sebuah plot twist yang mengejutkan. Jadi, selain the power of emak-emak, film ini pun menggunakan the power of plot twist. Mengesankan. Lupakan tentang pesan-pesan. Plot twist dan emak-emak adalah koentji.

Kalau ada karya seni yang menjadi medium penyampaian gagasan sebagaimana kolom opini, film ini mungkin bukan karya kategori itu. Menganggap film ini terlalu serius sebagai upaya pelurusan stigma negatif terhadap perempuan lajang, ketimpangan literasi digital, atau hal-hal serius lainnya malah bikin spaneng.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini