Sebagai Penggemar Michael Jackson, Begini Rasanya Nonton ‘Leaving Neverland’ yang Kontroversial

Sebagai Penggemar Michael Jackson, Begini Rasanya Nonton ‘Leaving Neverland’ yang Kontroversial

Michael Jackson (Sanjeevi Rayan via Pixabay)

Belakangan publik dihebohkan oleh rilisnya film dokumenter berjudul Leaving Neverland. Film ini mengisahkan tentang pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh Michael Jackson (MJ) saat masih hidup.

Singkatnya, film dokumenter ini menyajikan wawancara dua korban dari tahun 80-an sampai 90-an. Pelecehan tersebut terjadi ketika mereka masih sangat muda, yaitu umur 7 tahun dan 10 tahun.

Korban-korban lain pun mengalami nasib yang sama, yaitu dilecehkan saat masih kecil. Salah satu korban yang diwawancarai adalah Wade Robson, seorang koreografer yang pernah menggarap tarian untuk Britney Spears.

Terlepas dari perspektif yang hanya diambil dari satu pihak saja, yaitu pihak korban dan tidak ada pernyataan dari pihak MJ dan kerabatnya secara personal, tak dapat dipungkiri bahwa keseluruhan konten film ini sangat mengusik perasaan dan hati nurani.

Kedua korban menceritakan secara rinci tentang hal-hal tak senonoh yang dialaminya. Berawal dari sentuhan fisik di bagian tubuh, seperti tangan dan bahu, akhirnya merambah ke selangkangan dan alat vital korban hingga hubungan seksual. Duh, anak-anak yang malang.

Baca juga: Kau Terpelajar, Cobalah Pahami Bagaimana Jadi Penyintas Kekerasan Seksual

Perilisan film Leaving Neverland ini ternyata berdampak besar bagi industri hiburan Hollywood. Setelah pemutarannya, banyak stasiun radio yang mengumumkan bahwa pihaknya tak akan lagi memutar lagu-lagu MJ. Tak hanya itu, harga properti milik MJ turun tajam pasca pemutaran Leaving Neverland di festival film dan salah satu channel kenamaan Amerika.

Reaksi yang berbeda ditunjukkan oleh para fan MJ. Mereka menolak mentah-mentah film dokumenter tersebut dan menyebut para korban berbohong mengenai pelecehan seksual yang mereka alami. Mereka bersikukuh bahwa MJ tidak bersalah, kemudian meramaikan media sosial dengan tagar #MJinnocent sebagai bentuk dukungan dan kepercayaan terhadap almarhum MJ.

Saya yang juga menggemari lagu-lagu MJ, jujur saja berat awalnya. Bahwa penyanyi legendaris dengan julukan King of Pop yang pernah membawakan lagu-lagu dan tarian ikonik tersebut dituding sebagai predator seksual.

Baca juga: Kuatnya Budaya “Victim Blaming” Hambat Gerakan #MeToo di Indonesia

Namun, setelah menyaksikan film Leaving Neverland, sempat terlintas bagaimana saya merasa masa kecil saya dikhianati. Rasanya saya juga tak sanggup lagi mendengarkan lagu-lagu MJ. Terlepas dari kontroversi yang ada, di mana film tersebut dianggap sebagai pembunuhan karakter seorang MJ dan Wade Robson dianggap terus mengganti kesaksiannya, film itu tampak meyakinkan.

Sama seperti penggemar pada umumnya, awalnya para korban sangat bahagia bisa bertemu langsung dengan sang idola yang selama ini hanya bisa disaksikan di layar kaca. Para korban dan keluarga yang hampir setiap hari melihat sang idola di TV merasa mengenal dan memiliki ikatan.

Ketika anak-anak tersebut diajak tidur bersama di kamarnya, para orangtua langsung menyanggupi tanpa khawatir terjadi sesuatu pada anak mereka. Hal itu bahkan terjadi ketika mereka baru bertatap muka untuk pertama kalinya.

Baca juga: #MeToo, karena Kita Harus Berhenti Terbiasa pada Penjahat Kelamin

Padahal, persona yang ditampilkan di layar kaca bisa jadi sangat berbeda dengan persona sesungguhnya ketika tidak berhadapan dengan kamera. Dengan kata lain, mereka sebenarnya bertemu orang yang pada dasarnya sama sekali asing dan tidak mereka kenal.

Hubungan antara fan dan idola ini sebenarnya lebih rumit daripada yang terlihat. Kemunculan para selebriti di layar kaca secara rutin, baik televisi maupun internet, memang seakan membuat individu yang menyaksikannya merasa mengenal, bahkan merasa memahami sang selebriti.

Hiperrealitas ini kemudian menumbuhkan ilusi bahwa para fan merasa mengetahui dan memahami idola mereka secara luar dalam. Hal inilah yang kemudian bisa dimanfaatkan oleh idola untuk melakukan perbuatan tak senonoh kepada penggemarnya.

Dalam konteks film Leaving Neverland, anak-anak seakan merasa perilaku idolanya tidak salah, karena idolanya tersebut tampak piawai memanipulasi agar anak-anak tidak menceritakan kejadian itu, termasuk pada orangtua masing-masing.

Artikel populer: Ini Alasannya Sosok Otis Lebih Dibutuhkan daripada Dilan

Nah, setelah menonton film tersebut, seketika saya juga tersadar bahwa edukasi seks bagi anak dan remaja memang harus diberikan. Anak-anak wajib diberi pemahaman mengenai bagian-bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh oleh orang lain.

Selain itu, anak-anak juga perlu diberi pemahaman tentang apa yang harus dilakukan ketika orang lain menyentuh bagian tubuh tersebut, dan yang mungkin paling rumit adalah memberi pemahaman bahwa orang yang baru saja ditemui tidak bisa dipercaya begitu saja. Jangan mudah terkesima, meski ia seleb beneran maupun selebtwit, selebgram, dan seleb-seleb medsos lainnya.

Sudah saatnya menghilangkan stigma tabu yang menempel pada pembicaraan mengenai seks pada anak-anak dan remaja, karena ini mungkin bisa menjadi salah satu cara menghindari predator seksual dan pedofilia.

Hmmm… Masih jadi penggemar Michael Jackson, jangan?

1 COMMENT

  1. Setuju !!! Karena masa depan anak-anak lebih berharga dibanding fanatisme pada idola. Banyak kasus selebriti yang terlihat perfect di layar kaca, ternyata aslinya lebih dari bejat. Contohnya budaya KPop yang sudah mencuci otak penggemar dengan kesempurnaan fisik para idol, tapi kasus-kasusnya sangat menyeramkan dan anehnya masih banyak fans yang seolah tidak terima idolanya ternyata punya aib. Ini bukti fanatisme penggemar sudah menggilas akal sehat dan empati pada korban.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.