Ilustrasi 'No Homophobia' (Photo by Ece AK from Pexels)

Nama Reynhard Sinaga memenuhi headline berbagai media massa di Inggris maupun Indonesia. Begitu juga di media sosial, bahkan sampai masuk ke menu obrolan warung kopi kita. Bukan sesuatu yang sedap, melainkan bikin kita merinding.

Apa coba yang bisa bikin bulu kuduk kita berdiri seperti itu, kalau bukan monster atau setan?

Daily Mail, salah satu media di Inggris, menyebutkan bahwa Reynhard telah melakukan 159 serangan seksual, termasuk di dalamnya 136 perkosaan, 8 percobaan perkosaan, dan 15 pencabulan terhadap 48 laki-laki di Manchester, Inggris.

Bahkan, kepolisian setempat memperkirakan jumlah korban Reynhard bisa mencapai 200-an orang, lebih banyak dari yang dilaporkan. Sementara, pengadilan di Inggris menjatuhi hukuman minimum (catat, minimum!) 30 tahun penjara. Inggris adalah negara yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban dunia, tempat lahirnya tokoh-tokoh penting.

Di negara itu pula, Reynhard yang seorang mahasiswa berusia 36 tahun asal Indonesia dicap sebagai pelaku pemerkosaan terbesar dalam sejarah Inggris. Namanya bersanding dengan penjahat legendaris dunia semacam Jack the Ripper atau Luis Garavito.

Seorang detektif di Manchester mengatakan bahwa tak ada raut penyesalan di wajah Reynhard sesaat setelah pembacaan vonis pengadilan. Reynhard adalah sosiopat yang dingin.

Perihal ini, ada sebuah ungkapan yang begitu menohok: “Masyarakat menginginkan dia masuk penjara seumur hidupnya, tetapi para napi tak menginginkannya”. Begitulah nasib predator, tak ada satupun tempat yang menerimanya, bahkan penjara sekalipun.

Baca juga: Saya Melabrak Pelaku Pelecehan di Jalan dan Masyarakat Lebih Banyak Diam

Sayangnya, media massa di Indonesia cenderung menyitir persoalan ini menjauh dari substansi yang semestinya jadi perhatian utama, yakni tindakan kekerasannya. Di media sosial pun begitu. Tindak kejahatan ini malah dikait-kaitkan dengan orientasi seksual yang kebetulan dimiliki Reynhard.

Banyak yang bilang bahwa Reynhard melakukan tindakan keji itu karena ia seorang gay. Padahal, orientasi seksual dan identitas yang melekat pada seseorang, tak bisa menjadi representasi dari tindakannya. Reynhard memang gay, tapi kenyataan itu tak bisa menjadi dasar asumsi bahwa semua gay adalah monster seperti Reynhard.

Gampangnya begini…

“Ustaz itu mencabuli santrinya. Apakah semua ustaz akan mencabuli santrinya?

“Seorang gay itu melakukan pemerkosaan. Apakah semua gay akan melakukan pemerkosaan?

Jika kita memiliki logika yang adil, tak akan ada generalisasi. Katanya kamu adil sejak dalam pikiran? Generalisasi itu bisa dibilang ‘penyakit pikiran’, ia menguatkan stereotip tertentu. Dan, stereotip hanya akan menghasilkan diskriminasi dan berbagai macam bentuk kekerasan.

Baca juga: Bagaimana Melepaskan Diri dari Relasi Kuasa Hubungan Seksual

Berdasarkan naskah akademik RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS), tindak kekerasan seksual adalah setiap tindakan yang merendahkan, menghina, dan tindakan lain yang berkaitan dengan hasrat seksual tanpa adanya persetujuan dari yang bersangkutan.

Lengkapnya…

“Setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang dan/atau tindakan lainnya, terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, dan/atau tindakan lain yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa, relasi gender dan/atau sebab lain, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan terhadap secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik.”

Tak ada satupun dari definisi tersebut yang berbicara mengenai orientasi seksual. Sebab, orientasi seksual berada pada dimensi yang sama sekali berbeda. Menurut Modul Pendidikan Dasar SOGIESC Arus Pelangi, orientasi seksual adalah sikap ketertarikan terhadap manusia lain yang beradasarkan pada romantisme, emosi, atau seksualitas.

Sampai kiamat pun, dua variabel tadi tak mungkin tersambung satu sama lain. Jika kamu berusaha mengaitkannya, itu namanya cacat logika. Boro-boro mau adil, yang ada malah diskriminasi sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.

Jika identitas seseorang, termasuk orientasi seksual, sangat berkaitan dengan tindak kejahatannya, lalu mengapa media-media dan penegak hukum di Inggris tak menuding Indonesia sebagai penyebab dari tindakan Reynhard? Gara-gara Reynhard orang Indonesia nih, maka ia melakukan tindakan keji itu. Sekalian aja deh tuh, nanggung. Tapi, apakah memang demikian? Kan, tidak. Sebab logika semacam itu sama cacatnya.

Baca juga: LGBTQ+ Sama dengan Kita, ‘Ambyar Generation’ juga jika Ditinggal Pas Lagi Sayang-sayangnya

Reynhard telah dihukum seumur hidup. Dan, yang tak kalah pentingnya, pemerintah Inggris memfasilitasi penuh pendampingan dan pemulihan kesehatan mental serta rehabilitasi para korban.

Ah.., saya tak bisa membayangkan bila kasus ini terjadi di Indonesia. Reynhard kemungkinan sulit dijerat. Kalaupun dijerat, paling-paling hukumannya jauh lebih ringan dari pengadilan Inggris. Belum lagi, nasib para korban yang akan mendapat stigma buruk tiada henti dari masyarakat.

Apalagi, saat kekerasan seksual itu terjadi, korban sedang berada di bawah pengaruh alkohol. Pastinya banyak orang yang komen, “Suruh siapa mabok?” dan pernyataan-pernyataan sejenis yang malah menyalahkan korban. Ngeselin, kan?

Dalam hukum Indonesia, hanya ada dua pasal yang berbicara mengenai tindak kekerasan seksual. Pertama, KUHP Pasal 285 yang berbunyi, “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.”

Kedua, KUHP Pasal 289-296 yang mengatur perbuatan cabul.

Melihat KUHP tersebut, jelas sekali bahwa pasal pertama tak akan bisa menjerat Reynhard. Lihat saja teksnya: “…memaksa perempuan yang bukan istrinya…” Itu berarti hanya tindak pemerkosaan hetero yang diatur. Dengan begitu, para pria yang menjadi korban Reynhard – seandainya terjadi di Indonesia – tak akan mendapatkan keadilan.

Artikel populer: Suka Ngomong Keadilan, tapi Pelaku Kekerasan Seksual Dibela Habis-habisan

Lalu, pasal kedua memang dapat menjerat. Karena apa yang disebut ‘perbuatan cabul’ dalam pasal tersebut memiliki definisi: seks anal paksa dan penetrasi seks non-hetero. Sayangnya, pasal pencabulan ini hanya dapat menghukum Reynhard selama 5-7 tahun saja.

Bayangkan saja, seorang pelaku tindakan kekerasan seksual terbesar sepanjang sejarah Inggris, jika diadili di Indonesia, hanya akan dihukum selama 5-7 tahun saja!

Di sisi lain, korban pemerkosaan baik hetero maupun bukan, tak akan mendapatkan pendampingan rehabilitasi dalam bentuk apapun di sini. Karena tak ada satupun dari sekian tebalnya kitab hukum pidana kita yang mengatur mengenai pemulihan korban. Tidak ada!

Artinya, korban Reynhard akan menghadapi sendiri kejamnya stigma yang ditembak-liarkan oleh masyarakat kita. Bukannya sinis, realitas semacam itu sudah jadi pemandangan dalam keseharian penanganan tindak kekerasan seksual di negeri ini.

Pemerintah Inggris telah memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana institusi negara semestinya berperspektif korban dalam penanganan kasus kekerasan seksual.

Perjuangan RUU P-KS yang selama ini terjal dan nyaris buntu, selayaknya dihidupkan lagi. Korban-korban terus berjatuhan saat wakil-wakil kita di parlemen menunda-nunda pengesahan undang-undang yang maha penting itu. Ayo, sebelum jatuh korban lainnya. Sebelum kasus Reynhard terjadi juga di negeri ini. Na’udzubillah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini