Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Ilustrasi (maya_7966 via Pixabay)

Memasuki usia 25 ke atas, orang-orang di sekitar saya mulai sering memilih topik curhat soal pasangan atau gebetan masing-masing (bagi yang punya) atau kelajangannya, selain masalah kerjaan dan pendidikan.

Bagi kebanyakan anak muda yang hidup di generasi saya, dimana pemahamannya seringkali dibentuk oleh saluran kampus dan belakangan juga oleh media sosial, perihal jodoh memang menjadi topik yang menarik. Terlebih, kajian pra-nikah dan sejumlah akun medsos hijrah-hijrahan begitu marak.

Tapi, nggak lantas perkara jodoh hanya ramai di kalangan jamaah maskam juga sih. Mau bagaimanapun corak komunitas doi, usia milenial generasi saya cukup rewel soal asmara, entah terhadap dirinya sendiri atau teman sebaya.

Sebagaimanapun seseorang telah mampu berkontribusi cukup berarti di ruang publik, tetap saja, separuh agamanya dianggap belum sempurna jika belum nikah. Bahkan, sekalipun doi sudah mapan di jenjang kariernya.

Nah, apalagi kita yang masih buruh miskin dengan standar UMK? Belum lagi, jika kita perempuan. Tahu sendiri, bagaimana usia menjadi faktor pendevaluasi nilai perempuan. Jomblo, kelas pekerja, dan tua. Betapa berat lapis penindasan yang dialaminya. Oh, dan tambah lagi jika paras kita tak seideal iklan sabun muka.

Betapa insecure hidup di tengah masyarakat yang memandang idealitas harus serupa. Padahal, dunia tak dibentuk oleh satu warna.

Pada mereka yang memilih jalan single cukup lama, orang-orang di sekitarnya sering merasa iba dengan nasib mereka, lantas bertanya, “Sebenarnya kamu nyari yang kayak apa sih?”

Mungkin dalam benak orang-orang ini, perkara pasangan itu semata-mata soal indrawi dan nalar, sehingga tebakan yang keluar adalah seputar ciri-ciri fisik, kecerdasan atau latar belakang, dan identitas sosial seperti keturunan, latar belakang studi, serta hobi dan profesi.

Berbicara seputar pasangan dengan mereka tak akan menemui titik temu. Mereka tak tahu, jika ada beberapa orang yang begitu sulit menemukan kenyamanan pada orang lain. Sebab, terlalu banyak orang yang ditemui mirip seperti mereka, yang mengukur sebentuk pribadi melalui atribut sosialnya.

Seperti karier yang dikejar penuh ambisi dan dibuat standar-standar terperinci, jodoh pun dikiranya demikian.

Orang-orang tipe begitu biasanya memilih pasangan dengan menyesuaikan kapasitas gengsi yang telah diraihnya. Evolusi idealitasnya kira-kira begini: sewaktu mahasiswa level S1, idealitas pasangan bagi orang sejenis ini adalah cakep dan gaul atau cakep lagi kalem. Supaya kalau dikenalin ke teman-teman, diajak jalan dan selfie, bikin orang lain ngiri.

Lulus S1 dan menginjak tahap kemapanan awal, mulailah menggeser selera idaman, bahwa ternyata cakep aja nggak cukup. Kan, lebih bangga lagi kalau bisa jalan sama yang cakep dan berasal dari keluarga konglo.

Lanjut, ketika karir dan gelar akademiknya setingkat lebih maju, ketika lingkungan sosialnya makin glamor dan gengsi, idealitas pun naik standar lebih tinggi. Cakep, borju, alumni luar negeri, memiliki level pendidikan tinggi di jurusan bergengsi, dan lain-lain.

Ragam idealitas memang banyak, namun bentuknya satu, yaitu semu. Apa namanya kalau bukan dikonstruksi oleh nafsu?

Agar disambut gembira oleh keluarga, terangkat martabat di mata kerabat juga tetangga, merasa lebih pede kalau digandeng ke mana-mana. Ada prestise yang bisa dibanggakan di tengah masyarakat yang menganggap urusan kawin perkara mobilitas sosial ketimbang perkara kenyamanan lahir batin dengan seseorang.

Ya wajarlah, jika tahap ritual perayaan pun menjadi sebatas agenda simbolik gengsi sosial berikutnya, seberapa orang mampu mengundang kerabat dan semewah apa susunan konsep pernikahan.

Jadi, bagi golongan ini, sebenarnya menikah itu upaya menyempurnakan separuh agamanya atau gengsi sosial?

Imaji idealitasnya mengikuti norma kemapanan masyarakat. Tapi, munafiknya, pragmatisme itu pun dilapisi selubung-selubung cinta, teks picisan hingga keimanan agar terkesan sakral nan transendental. Semakin banyak recehan puisi soal jodoh semakin mencerminkan dusta yang ditutupinya.

Kesal dengan watak kebanyakan orang yang demikian, teman karib perempuan saya yang berlatar belakang pendidikan dokter, spesialis forensik, selalu memperkenalkan dirinya sebagai kelas pekerja biasa.

Ia juga mengaku sebagai mahasiswi yang sedang menempuh program studi pendidikan guru TK ketika bergaul dengan lingkungan baru.

Sebagai seorang yang memiliki latar pendidikan cukup bergengsi, sebagaimana anggapan masyarakat pada umumnya, ia justru memilih menyembunyikan hal yang mampu menaikkan citra dirinya, memilih berpenampilan standar proletar dan berkendara motor butut ke mana-mana.

Teman perempuan saya yang lain, seorang keturunan ningrat, berlatar belakang keluarga yang orang tua dan keluarganya memiliki jabatan-jabatan penting di daerah. Memiliki akses terhadap masa depan yang mulus sebagai pejabat pemerintah, tapi justru memilih jalan hidup asketis melalui kelompok-kelompok pembelajar tarekat.

Dengan paras yang cukup menarik, profesi bergengsi atau latar belakang keturunan yang berada di puncak piramida kelas masyarakat, seharusnya mereka bisa-bisa saja memilih pasangan dengan kelas sosial serupa.

Namun, mereka belum pernah menjalin komitmen dengan siapapun hingga usia ke-26. Bagi mereka, begitu sulit menemukan seseorang yang tak melihat pribadi dari ukuran predikat-predikat sosialnya.

Pada mereka, pelajaran mengenai menjadi diri yang apa adanya dan mengukur pribadi bukan dari dimensi kelas sosial berwujud nyata, bukan sekadar petuah.

Teman-teman saya tersebut merupakan potret dari sedikitnya orang-orang yang tak lapar akan pengakuan publik, penghargaan, dan kekaguman dari orang-orang di sekitarnya. Apa yang dicarinya berupa ketulusan, apalagi perihal pasangan.

Seorang teman yang lain, misalnya, ilmuwan sosial jebolan kampus Amerika, memiliki karier cemerlang di wilayah akademik, dan berkecukupan materi. Tapi ia justru menaruh hatinya pada seorang gadis berkulit gelap dengan paras dan tubuh tak seideal iklan cemilan.

Ia menemukan kenyamanan dalam bergurau mengenai pemikiran dan merasa dimanusiakan, sebab si gadis sedari mula tak mengenalnya dalam konteks kemapanan dan ketampanan.

Berbeda dengan mereka yang melihat individu dari lensa kelas sosial, teman-teman tersebut mampu memahami mengapa ada orang yang menjalin hubungan kian lama, padahal berbeda pandangan, keyakinan, kegemaran, bahkan agama.

Mereka juga nggak heran menyaksikan drama Novita-Purnomo, sebab tahu bagaimana kenyamanan mengalahkan gengsi sosial.

Tapi, menjadi jujur pada siapa kita sebenarnya merasa nyaman dan tulus mencintai menjadi rumit, tatkala harus dibenturkan dengan persoalan sosial.

Akhirnya, pada mereka yang demikian, kutipan dari mbah Sujiwo Tejo ini begitu relevan: mencintai itu takdir, sementara menikah itu nasib. Dan senasib-nasibnya, pastilah tak timpang dengan cerminan diri sendiri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.