Sebab Humor Adalah Cara Agar Kita Tak Lupa Berpikir

Sebab Humor Adalah Cara Agar Kita Tak Lupa Berpikir

Ilustrasi (Alexandra via Pixabay)

“Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Sebuah pernyataan yang masih terngiang di telinga sampai saat ini. Pernyataan tersebut dipopulerkan oleh Warkop DKI melalui filmnya yang bergenre komedi.

Tapi, ketika film Warkop DKI sedang puncak-puncaknya, saya belum terlalu ngeh dengan pernyataan itu. Belakangan diketahui bahwa pernyataan itu diselipkan sebagai bentuk sindiran terhadap pemerintahan Orde Baru.

Saat itu, Orde Baru memegang kendali penuh atas semua hal yang ada di negeri ini. Sampai urusan tertawa warga negaranya saja diurusi. Warkop DKI tidak bisa manggung begitu saja, perlu izin tertentu. Padahal, niat mereka baik untuk menghibur dan membuat masyarakat tertawa.

Ketika masuk Era Demokrasi, terutama menjelang pemilihan presiden 2019, kita melihat fenomena-fenomena yang memungkinkan pernyataan Warkop DKI itu menjadi nyata untuk kesekian kalinya. Namun, bukan muncul dari pemerintahan, tapi dari kelompok tertentu.

Kabar yang sempat memanas di dunia hiburan melibatkan dua punggawa Majelis Lucu Indonesia (MLI), Tretan Muslim dan Coki Pardede. Mereka adalah pembuat tawa bagi generasi milenial yang hadir lewat lawakan di channel YouTube.

Namun, mereka telah menyatakan mundur dari dunia hiburan, menyusul kegaduhan dan ancaman yang diterimanya. Mereka dianggap menistakan agama gara-gara memasak daging babi dengan kurma. Pasalnya, kurma dianggap spesial oleh umat Islam, sementara daging babi haram.

Tapi, apa iya, kita semudah itu menilai? Atau kita sudah terlalu fanatik, sehingga enggan berpikir logis? Lantas, bagaimana dengan kasus korupsi dana haji dan korupsi pengadaan Al-Quran?

Apa karena yang melakukannya adalah pejabat dan politikus yang tak perlu diragukan lagi akal pemikirannya, sementara Tretan Muslim dan Coki Pardede hanya komedian yang bisanya cuma ngakak?

Baca juga: Menjadi ‘YouTubers’ yang Dihujat Netizen, tapi Dikagumi Presiden

Padahal, para komedian juga pemikir. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah berujar, “Agama itu akal, bukan dengkul. Nah, humor itu produksi dari orang yang berakal. Humor juga menginspirasi orang untuk tafakur, produktif. Sedangkan kekerasan merusak.”

Sekarang, mari kita lihat lagi apa sebenarnya humor? Humor, menurut Martin Eshleman, adalah hal-hal yang dipakai secara luas untuk menunjuk pada setiap hal yang merangsang kecenderungan orang pada tertawa yang lucu.

Para pakar estetika mengembangkan sebuah teori humor yang berlandaskan apa yang sebenarnya sedang kita tertawakan. Teori humor digolongkan menjadi tiga macam,yakni teori keunggulan, teori ketaksesuaian, dan teori pembebasan.

Pertama, teori keunggulan. Teori ini menekankan pada rasa lebih unggul atau lebih baik daripada orang lain dalam menghadapi satu kondisi.

Contohnya, ketika melihat seseorang terjatuh, ditimpuk dengan tepung, atau perilaku lain yang menunjukkan ketololan. Humor seperti ini banyak kita temukan di media televisi dan rating-nya masih tinggi hingga kini.

Baca juga: Berguyon tentang Tubuh Perempuan Adalah Kegagalan dalam Melucu

Kedua, teori ketaksesuaian. Humor yang timbul dari situasi yang tidak terduga ataupun sesuatu yang tak diharapkan.

Humor seperti ini dapat dilihat dalam film-film Charlie Chaplin ataupun Mr Bean. Chaplin dan Bean menunjukkan pada kita bahwa pada situasi yang tak pernah kita pilih, kita tetap harus bertindak dan melaluinya, apapun yang terjadi.

Ketiga, teori pembebasan. Teori ini menekankan pada inti humor yang berasal dari pelepasan atau pembebasan terhadap kekangan yang didapat pada diri seseorang. Kekangan ini bisa hadir dari masyarakat ataupun dari dorongan batin alamiah. Kekangan itu bisa dilepaskan atau dikendorkan melalui lelucon berupa sindirian jenaka atau ucapan nonsense sekalipun.

Sementara, menurut Sigmund Freud, lelucon memiliki kemiripan dengan impian, karena pada dasarnya merupakan saran untuk mengatasi kekangan atau sensor yang datang dari luar atau dari dalam diri seseorang.

Dalam impian, ide-ide terlarang yang muncul dapat diselebungi, sedangkan dalam kelakar orang bisa menyelipkan kecaman, cacian, atau pelepasan diri dari apa saja secara tidak frontal dan langsung.

Artikel populer: Menjadikan Patrick Sebagai Panutan Hidup. Ya, Patrick Star!

Beberapa tokoh pemikir memaparkan makna lebih dalam dari humor. Humor bukan sekadar pelepasan emosi dan kesenangan semata. Bahwa pada masa tertentu, disinyalir sebagai salah satu cara untuk menghilangkan kontrol diri dan mematahkan peraturan sosial.

Bisa jadi humor yang dibuat oleh Tretan Muslim dan Coki Pardede adalah hasil setelah melihat kondisi masyarakat saat ini. Bahwa cerminan dari sebagian orang yang tidak bisa membedakan mana haram, halal, dan penegakan peraturan yang dirasa tebang pilih, terutama ketika memasuki momen politik.

Kierkegaard, seorang filsuf dan teolog asal Denmark, pernah menyatakan bahwa humor adalah kesenangan yang dapat mengatasi dunia. Ini sama halnya dengan apa yang dikatakan Gus Dur bahwa humor adalah salah satu cara untuk membuat orang tafakur.

Humor menjadi salah satu cara untuk terus berpikir atas kondisi yang terjadi sekarang atau di kemudian hari. Jika kalian tidak bisa menerima humor, mungkin saja kalian sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya berpikir.

1 COMMENT

  1. bener banget apa yang dikatakan oleh penulis. humor lebih kepada apa kita mampu membahas suatu hal tanpa menyakiti hati siapapun, so….anda adalah #golongankami hiya hiya hiya.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.