Ilustrasi konferensi video (Photo by Ketut Subiyanto from Pexels)

Rekaman video ospek online sebuah kampus tersebar di media sosial. Di potongan video itu, jajaran mahasiswa senior membentak mahasiswa baru (maba) yang tidak pakai ikat pinggang. Aksi senioritas itu pun jadi perbincangan panas warganet. Seberapa perlunya panitia ospek membentak-bentak peserta ospek secara daring?

Imbasnya, dua senior yang tampak paling garang dijadikan bulan-bulanan netizen sebagai bahan meme. Seolah para maba dibelain warganet sejagat Indonesia. Sementara, panitia ospek yang sudah kadung viral karena marah-marah otomatis jadi antagonis.

Sebenarnya, ospek online menjadi privilese maba ‘angkatan corona’. Mereka tidak perlu datang ke lokasi ospek demi menghindari aktivitas berkerumun di tengah pandemi. Cukup nyalakan gawai dan sedia kuota internet, lalu ikut serta dalam konferensi video. Kalau sinyal lemah, panitia marah, suaranya jadi nggak jelas. Bukannya takut, malah jadi ajang tahan tawa.

Ditambah, aktivitas ospek diarsipkan dalam video. Orang di luar kampus bisa ikut nonton, termasuk orangtua dari para maba. Jika terjadi penyimpangan bisa ketahuan. Namun, bisa jadi melebar seperti kejadian tadi. Panitia ospek malah ‘diospek’ orang-orang di luar kampus. Bahkan, kontak pribadinya sampai diteror oleh netizen.

Baca juga: Privilese Belajar Daring dan Lulus Jalur ‘Give Away’

Panitia ospek yang galak selalu berdalih demi mendisiplinkan maba, melatih mental dan semacamnya. Kondisi pandemi tidak menyurutkan semangat mereka untuk meneruskan estafet senioritas yang diwariskan para pendahulunya. Nah, netizen yang melakukan cyber bullying kepada panitia ospek yang viral itu pun pakai alasan senada.

Dari sini, kita bisa melihat ada mata rantai yang mesti diputus. Jika public shaming bukan hal yang baik, tidak perlulah melakukan hal yang sama sebagai pembalasan. Kita bukan Avengers, mereka bukan Children of Thanos.

Senioritas ala ospek sebenarnya tidak selalu berhasil mendisiplinkan maba. Yang ada, maba jadi takut dimarahi dan malu ketika dibentak di depan umum. Alhasil, mereka terpaksa menghormati senior karena alasan tidak mau ribut, bukan karena kesadaran menghormati yang lebih tua dan yang dituakan.

Maba sendiri, tanpa diteriaki mahasiswa yang lebih tua pada hari pertama, seiring berjalannya waktu bakal tertempa juga mentalnya oleh beban dunia perkuliahan. Dari mulai tugas yang numpuk, tekanan pergaulan dan kesenjangan sosial sesama maba, mahalnya biaya pendidikan, sampai ancaman jadi korban pelecehan semacam kasus bungkus-membungkus tempo hari.

Baca juga: Cek, Modus-modus Mesum Mahasiswa Senior terhadap Maba Perempuan

Sekeras-kerasnya suara senior membentak maba, ujungnya setiap mahasiswa bakal takluk juga ketika menghadapi silent treatment dari dosen. Misalnya, menanyakan tugas dan jadwal bimbingan skripsi via chat, tetapi hanya dibaca. Bahkan, seorang teman mengaku sampai harus mengganti foto profilnya pakai foto beauty vlogger biar chat-nya dibalas dosen pembimbing.

Akhirnya, para kakak mahasiswa yang garang itu jadi seleb internet sehari. Terkenal lewat jalur prestasi melampiaskan emosi. Seandainya seleb internet diundang jadi panitia ospek online, mungkin suasananya bakal lebih cair. Misalnya, Anya Geraldine yang mungkin bisa bikin maba semangat bangun pagi untuk mengikuti sesi awal ospek online. Lalu, Awkarin yang tiba-tiba buka sesi giveaway hadiah ponsel yang diperlukan untuk mengikuti kuliah online nantinya.

Biar acaranya meriah, mesti dimoderatori oleh Atta Halilintar dan Reza Arap. Walaupun kedua host ospek online itu tidak pernah merasakan bangku kuliah, mereka tetap bisa sukses di dunia digital. Ini bisa menjadi motivasi bagi maba yang punya kesempatan untuk kuliah.

Baca juga: Nikah Usia 16 Tahun Dipamerin, ‘Influencer’ kok Gitu?

Jangan lupakan sesi hiburan, ada Lesti Kejora dan Rizky Billar yang akan berduet nyanyi dan ber-gimmick gemoy. Membuat suasana ospek online menjadi lebih uwuw. Membuat para maba jadi kangen pengen cinlok (cinta lokasi) seperti LesLar, tetapi mana bisa karena terpisah jarak.

Ketika istirahat, ada yang jualan jajanan via Zoom. “Odading Mang Oleh, rasanya seperti Anda menjadi Iron Man. Odading Mang Oleh, rasanya anjay banget.”

“Eh, nggak boleh ngomong kasar,” sela Lutfi Agizal yang jualan baju warna kuning viral.

Melihat jajanan yang dijajakan, Jerinx yang jadi panitia jadi tergoda untuk pesan, “Cek inbox-mu, Sat!”

Dokter Tirta harus diundang juga untuk memperingatkan tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan semasa pandemi. Dengan gaya ngegas, Dokter Tirta mengedukasi maba, “Di rumah aja! Rajin cuci tangan! Jaga jarak! Ingat, pakai masker! Pakai ikat pinggang nggak wajib, tapi pakai masker wajib kalau terpaksa keluar rumah!”

Artikel populer: Kerja Sesuai Passion, Jurusan, dan Gaji yang Diharapkan? Itu Halu, Kawan

Namun, harus dipastikan Dokter Tirta melakukan konferensi video dari rumah, bukan dari restoran yang sedang ramai. Biar maba nggak protes, kok yang mengedukasi malah jalan-jalan?

Supaya ada kejutan, di tengah acara tiba-tiba masuk suara Presiden Jokowi yang menyapa para maba. “Halo, para agen perubahan. Apa kabar?”

Dijamin, semua peserta ospek online langsung kaget. Apalagi kalau ada kuis berhadiah sepeda.

Tambah menggemaskan lagi, kalau ternyata yang dikira presiden itu aslinya Kristo Immanuel yang sedang menirukan suara Jokowi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini