Girl from Nowhere (Netflix).

Girl from Nowhere menjadi trending setelah season keduanya rilis. Yang menjadi pusat ceritanya adalah siswi misterius bernama Nanno. Hobinya pindah-pindah sekolah untuk membongkar kebohongan serta kejahatan para murid dan staf sekolah.

Sebenarnya sudah sangat klise plot cerita yang diawali dengan kepindahan murid baru di sebuah sekolah. Sebutlah film Petualangan Sherina dan Dilan. Girl from Nowhere yang sudah memasuki season 2 mengulangi cerita Nanno sebagai murid baru sampai 21 kali (total 21 episode). Jadi, menonton serial yang disiarkan di Netflix ini berarti harus berkompromi dengan formula cerita yang repetitif.

Nanno yang diperankan oleh Chicha Amatayakul hampir terasa seperti takhayul. Sebab Nanno bisa bangkit dari kematian, membelah diri bagai amuba, dan mengubah rupa tanpa perlu operasi face-off ala Aisha di Ayat-Ayat Cinta. Bahkan, Nanno bisa dadakan membuat aplikasi kencan semacam Tinder tanpa perlu begadang menyusun kode sebelumnya. Entah pakai bantuan sihir Harry Potter atau minta tolong Nam Do-san dari drakor Start-Up.

Baca juga: Jika Belajar dari Rumah Jadi Latar Serial Bad Genius

Di season 1, Girl from Nowhere menawarkan 13 episode yang ternyata diadaptasi dari 13 kisah nyata di sekolah-sekolah Thailand. Sejak episode pertama, serial ini mengangkat kisah perempuan yang menjadi korban kekerasan di sekolah. Seolah ingin berkabar bahwa sekolah tak selalu menjadi tempat yang aman untuk para puan.

Setiap terjadi kezaliman, Nanno datang sebagai ‘malaikat penolong’ untuk membalikkan keadaan. Perempuan yang semula jadi korban, berbalik jadi pemenang. Setelah Nanno menjadi ‘neraka dunia’ untuk para pendosa.

Namun, Girl from Nowhere dengan peran utama Nanno yang sakti mandraguna justru menjadi ironi. Tanpa kehadiran Nanno, 13 kisah nyata itu adalah cerita sedih tentang para perempuan yang menjadi korban kekerasan dan tak bisa melawan. Apakah harus punya kekuatan ajaib seperti Nanno dulu supaya bisa dapat keadilan?

Baca juga: BPJS Kesehatan dan Sosok Misterius di Drakor Hospital Playlist

Jawabannya mungkin bisa didapatkan dengan mengantarkan Nanno untuk melakukan studi kasus di negeri ini. Semisal Nanno pindah dari Thailand ke Indonesia, lalu bersekolah di sini sebagai murid baru.

Di sekolah pertama, Nanno mendengar kabar bahwa salah satu siswi di kelasnya menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh 12 siswi senior. Lantas, Nanno langsung membeberkan kisah kelam itu melalui utas di Twitter sampai trending.

Dengan kekuatan Nanno di dunia siber, kisah itu menjadi isu nasional. Kasusnya pun diusut sampai tuntas. Para tersangka diperiksa oleh pihak berwajib. Korban pun didukung oleh warganet seantero negeri. Nanno telah membantu korban untuk mendapatkan keadilan. Tapi, ini juga sekaligus ironi. Apakah harus viral dulu supaya bisa dapat keadilan?

Baca juga: Mengapa Perempuan Sering Bikin ‘Thread’ tentang Pengalaman Kekerasan Seksual

Usai menjalankan misi di sekolah pertama, Nanno pun pindah sekolah ke daerah lain. Di sana, ia menjadi saksi bahwa sejumlah siswi menjadi korban kekerasan seksual di sekolah. Pelakunya adalah seorang ‘bintang sekolah’. Modusnya, pelaku mengajak korbannya untuk kolaborasi bikin video YouTube. Namun, di tengah proses kreatif, pelaku melancarkan serangan yang manipulatif. Dari situlah, dia menjerat korban.

Liciknya, pelaku merekam semua aktivitas ketika dia melecehkan korban-korbannya. Kumpulan video itu dijadikan senjata supaya para korban tidak berani buka mulut dan mengadukan kejahatan itu ke pihak berwenang. Jika berani lapor, pelaku mengancam akan menyebarkan video tersebut hingga ke keluarga korban.

Sebelumnya, Nanno pernah berhadapan dengan penjahat kelamin dengan modus serupa. Nanno kemudian memutuskan untuk mendekati pelaku. Tak lama, pelaku melancarkan serangan. Nanno pun menjadi korban.

Artikel populer: Cowok Baik-baik dalam Rape Culture

Alih-alih takut, Nanno yang bukan manusia biasa ini justru mengambil file videonya sebagai barang bukti. Lalu, ia meneruskannya ke pihak berwajib. Alhasil, pelaku bisa segera ditangkap untuk menerima konsekuensi dari perbuatannya. Di akhir, Nanno merayakan kemenangannya karena berhasil mengalahkan predator seks.

Namun, apakah keberhasilan itu diperoleh dengan begitu mudah? Tentu saja tidak.

Dalam konteks ini, masih banyak orang yang malah menyalahkan korban. Misalnya, Nanno yang pakai rok pendek dianggap mengundang syahwat. Padahal, korban lain yang busananya dinilai sopan tetap saja dilecehkan.

Apalagi, kalau sampai video para korban tersebar di internet, bukannya berempati dengan tidak turut menyebarkannya, warganet malah berani-beraninya minta link video versi durasi panjang. Ujung-ujungnya, korban malah menjadi target perundungan online, bahkan bisa dijerat dengan UU Pornografi. Sementara, pelaku kejahatan seksual itu sendiri dilupakan dalam sepekan.

Negeri ini, memang penuh ironi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini