Seandainya Maya ‘Perempuan Tanah Jahanam’ Curhat tentang Rahasia Tergelap Keuangannya

Seandainya Maya ‘Perempuan Tanah Jahanam’ Curhat tentang Rahasia Tergelap Keuangannya

Perempuan Tanah Jahanam (Rapi Film/Base Entertainment)

Menjadi ibu hamil di film Joko Anwar tidaklah mudah. Di film Pengabdi Setan, hantu Ibu dulunya seorang istri yang bisa hamil setelah ikut sekte sesat. Sementara di film Gundala, para ibu hamil terancam melahirkan bayi amoral, karena serum yang disebarkan oleh anak buahnya Pengkor.

Film terbarunya yang berjudul Perempuan Tanah Jahanam (disingkat: Petjah) pun masih mengangkat tentang para ibu hamil yang tertimpa nasib mengenaskan. Kesimpulannya, ibu hamil di film Joko Anwar adalah ibu hamil yang tersakiti.

Konflik film Petjah terjadi karena desakan ekonomi tokoh utamanya yang bernama Maya. Sehingga, ia mau menantang nyawa demi mendapatkan warisan.

Seandainya Maya main Twitter atau Instagram, mungkin sudah curhat via direct message (DM) ke akun informasi keuangan, semisal Big Alpha. Lalu, kalau di-capture dan dibagikan oleh sang admin di media sosial agar menjadi pelajaran untuk para pengikutnya, kira-kira isi curhatan Maya bakalan begini kali yee…

Halo, Min. Nama gue Maya. Gue mau cerita tentang pengalaman pribadi sewaktu cari tahu warisan orangtua di sebuah desa pelosok.

Kisah ini bermula ketika gue dan sahabat gue bernama Dini di-PHK dari pekerjaan kami sebagai kasir gerbang tol. Posisi kami digantikan oleh karyawan berinisial GTO. Belakangan, gue tahu GTO itu kepanjangan dari Gerbang Tol Otomatis, bukan nama orang.

Baca juga: Apa Iya, Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?

Kemudian, kami memutuskan buka toko pakaian di pasar bermodalkan pencairan dana BPJS Ketenagakerjaan. Namun, bisnis kami terancam gulung tikar karena sepi pengunjung. Dibandingkan pembelinya, lebih banyak manekin.

Kepada Dini, gue utarakan niat pulang kampung. Konon, gue masih punya warisan rumah gedong di desa. Kalau dijual, bisa untuk tambahan modal usaha. Mencium bau duit, Dini minta ikut.

Kami naik bus malam menuju lokasi. Dalam bus, kondisi sangat mencekam. Gue pernah baca cerita horor tentang bus hantu. Nah, gue curiga kalau bus yang kami naiki termasuk bus hantu. Ditambah, muka penumpang belakang pucat semua.

Awalnya, gue masih berprasangka baik kalau mereka bukan hantu, cuma mabok darat. Namun, ketika turun, kondekturnya nggak minta ongkos. Fix, gue naik bus hantu. Lumayan bisa hemat uang transportasi.

Sesampainya di terminal, kami lanjut naik delman dan harus melewati hutan untuk sampai ke desa yang kami tuju. Sewaktu turun dari delman, gue berharap kusirnya juga hantu. Ternyata masih manusia. Soalnya masih terima duit.

Tiba di desa, gue minta izin kepada kepala desanya untuk survei aset keluarga. Kebetulan, kepala desanya seorang dalang. Namanya Ki Saptadi.

Baca juga: Semisal Warkop DKI Berkunjung ke Desa ‘Penari’ Midsommar

Ki Saptadi menawarkan kami untuk nonton pertunjukan wayangnya pada malam itu.

“Di sini gunung, di sana gunung, di tengah-tengahnya Pulau Jawa. Wayangnya bingung, dalangnya juga bingung, yang penting bisa ketawa.” Ki Saptadi membuka pertunjukan.

Sinden menimpali. “Yaaaaaa eeeee!”

Kemudian, para wayang orang saling pukul pakai styrofoam. Demi melihatnya, para penonton ngakak.

Di tengah acara, diselingi oleh iklan dari Ratih si penjual pecel. Dilanjutkan iklan jasa gali kubur. Keren juga acara seni kebudayaan dan hiburan masyarakat begini bisa disponsori usaha warga setempat. Neoliberal mana paham?

Namun, pada malam itu, warga desa digemparkan oleh sebuah peristiwa ganjil. Seorang dukun beranak mewartakan ke khalayak sebuah breaking news. Bahwa telah lahir bayi tanpa tulang.

Pertunjukan wayang pun bubar karena warga panik.

“Desa ini kena kutukan!” cetus Ki Saptadi. “Pasti dua tamu dari kota inilah yang penyebabnya. Karena mereka ke sini nggak bawa oleh-oleh, pasti yang mereka bawa adalah nasib buruk. Selama ini, desa kita aman-aman aja. Begitu kedatangan orang asing, kenapa terjadi malapetaka?”

Warga pun terprovokasi untuk mempersekusi kami. Gue langsung mengajak Dini untuk mengambil langkah seribu. Gue lari ke rumah gedong warisan orangtua. Dini belok ke hutan.

Baca juga: Cek Seberapa Dononya Abimana di Film Gundala

Di hutan, Dini dikepung oleh gerombolan warga. Salah satu warga memukul kepala Dini pakai balok kayu. Namun, warga justru kaget mendapati Dini masih sadarkan diri dan tampak segar bugar. Yang berbeda hanyalah bedak di wajahnya yang tampak retak.

Hal itu karena Dini pakai krim UV protection. Selain anti sinar ultraviolet, ternyata juga anti ultra-violence. Setelah itu, Dini lanjut kabur sembari membenahi make up-nya yang dirusak warga.

Pada waktu yang sama, gue gemetar ketakutan ketika sembunyi di bawah kolong meja dalam rumah bekas ortu. Gue nggak nyangka, usaha cari tahu warisan keluarga bisa membawa petaka.

Akhirnya, gue berhasil diringkus setelah salah satu warga tak sengaja menginjak kaki gue dan gue kelepasan latah, “Eh, ayam, ayam geprek!”

Kemudian, gue digantung dengan kaki di atas seperti daging kebab. Siap-siap dieksekusi di pelataran rumah kepala desa.

Untungnya, Dini datang tepat waktu. Dini membawa bayi yang lahir tanpa tulang.

“Woy, lepasin sahabat gue!” Dini menantang.

“Kalian harus bertanggung jawab karena sudah membawa sial ke desa kami,” ucap Ki Saptadi. “Kalian harus dikorbankan untuk melepaskan kutukan. Atau kalau masih sayang nyawa, kalian bayar denda.”

“Ya ampun, Pak. Saya bela-belain dari kota ke sini aja niatnya cari duit,” gue menimpali.

Artikel populer: Begini Jadinya jika Joker Mencari Nafkah sebagai Pelawak di Negeri Ini

“Dasar dalang kerusuhan! Provokator! Mata duitan! Lihat nih bayinya sehat. Bayi ini lahir tanpa tulang karena tulangnya ada di Medan,” jelas Dini. “Tulang itu nama lain dari paman menurut bahasa Batak. Pamannya bayi ini masih di Medan karena tabungannya belum cukup untuk beli tiket pesawat, jadi nggak bisa pulang sekarang.”

Warga desa pun paham dan membebaskan gue.

Kami pun kabur dari Desa Jahanam itu. Gue nggak bakalan balik ke sana. Soalnya, sewaktu sembunyi di rumah bekas ortu, gue sempat lihat plang di halamannya: “Rumah ini disita oleh bank”.

Nasib gue sungguh apes, Min. Nggak jadi dapat warisan keluarga, malah nyaris dapat amukan warga.

Ketimbang mengharapkan warisan yang nggak jelas, gue balik lagi ke usaha awal, dagang pakaian. Bedanya, sekarang gue jualan di Twitter. Triknya bikin thread. Setelah viral, gue reply pakai dagangan. Tak lupa membaca mantra:

Twitter, please do your magic! Mumpung rame, gue nitip dagangan gue dan sahabat gue di sini ya. Bantu viralkan, guys! Biar nggak jadi ahli waris, semoga aja dagangan gue laris manis.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.