Fast & Furious 9. (Universal Pictures)

Waralaba Fast & Furious sudah memasuki jilid ke-9. Namun, untuk sebuah waralaba film Hollywood, jumlah sekuel Fast & Furious masih terbilang wajar. Harry Potter saja dibuat dalam 8 jilid. Bahkan Star Wars lebih dulu merilis episode IX.

Kali ini, petualangan Dom dkk tidak hanya balapan mobil di jalanan. Di film sebelumnya saja sudah diperlihatkan mobil-mobil berjatuhan dari pesawat dan terjun bebas di langit, lalu kebut-kebutan di atas es. Ditambah kemunculan kapal selam yang menembakkan torpedo ke arah para jagoan.

Nah, di film terbaru, demi menyelamatkan dunia, para jagoan melesat ke luar angkasa untuk menghancurkan satelit. Sedikit lagi bisa ketemu Luke Skywalker di Star Wars.

Dari sekian banyak rintangan dan marabahaya, mereka semua bisa selamat tanpa luka, sehingga sekuelnya terus berlanjut.

Bahkan tokoh Han yang diceritakan mati di film sebelumnya, eh, bisa hidup lagi dan mejeng di poster film terbaru. Karakter utama di film ini bisa dibilang immortal alias antimati. Seabadi waralabanya.

Baca juga: Mortal Kombat dan Moral Kombat di Antara Kita

Yang semula genre film ini adalah aksi kriminal, semakin ke sini semakin merambah genre fiksi ilmiah. Kalau nanti dibuat Fast & Furious 10, jangan kaget kalau mobilnya berubah menjadi robot Transformers.

Atau, kendaraannya bisa melintasi waktu. Seperti halnya mobil DeLorean di film trilogi Back to the Future yang bisa pergi ke masa lalu dan masa depan. Terus Dom cs jadi buronan Time Variance Authority. Iya, sekalian crossover ke serial Loki di semesta Marvel.

Di film Fast & Furious, kita terbiasa melihat adegan aksi kejar-kejaran mobil di jalan raya. Tak jarang disambi dengan tembak-tembakan. Dibumbui tabrakan dan ledakan yang terasa nyata dan memukau penonton.

Menonton film Hollywood yang melibatkan baku tembak dan baku tabrak, tak ubahnya menonton gim Free Fire di kehidupan nyata. Booyah!

Beda cerita kalau digarap oleh rumah produksi asal Indonesia yang terbiasa kejar tayang.

Untuk urusan aksi, adegan balapannya pakai efek komputer. Sebab mau syuting di mana? Jalanan di Ibu Kota masih macet. Kalau memaksa syuting di daerah pelosok yang sepi kendaraan bisa berbahaya bagi para pemain. Sebab jalanannya masih jelek dan berlubang di sana-sini. Baru diperbaiki kalau ada kunjungan presiden.

Baca juga: Ketika Negara Menjadi “A Quiet Place” Tanpa Wujud Monster seperti di Film

Di satu episode, bisa saja tokoh utamanya tampak menunggang motor dengan latar belakang layar hijau. Tanda belum sempat diedit, tapi apa daya sudah harus tayang.

Sebab kalau sinetronnya telat tayang, bakalan diprotes penggemar. Sebelumnya ada sekelompok penggemar yang sempat demo ke PLN karena memutuskan listrik saat jam penayangan sinetron favorit mereka.

Saking militannya, penggemar juga berharap para tokoh yang berpasangan di sinetron betul-betul pacaran di kehidupan nyata. Mendoakan fantasi liar itu terwujud di kolom komentar Instagram sang artis. Melupakan fakta bahwa salah satu pemerannya sudah punya istri.

Belum lagi kalau ketemu pemeran antagonis di luar lokasi syuting, para penggemar bisa terbawa cerita sinetron. Saking gemasnya, mereka bisa tega menjambak sang artis yang tak berdosa.

Untung saja, mayoritas pemeran Fast & Furious berkepala botak. Jadi, nggak ada kemungkinan dijambak oleh fans. Paling banter dijitak sama Kak Ros karena dikira Upin & Ipin ikut balap liar.

Baca juga: Membayangkan Sinetron Azab Hingga AADC Berlatar Pandemi Corona

Fast & Furious yang menjual aksi balap liar, bisa jadi masalah jika ditayangkan sebagai sinetron di Indonesia. Dikarenakan mengajarkan balapan dan taruhan, sudah pasti dianggap tak mendidik. Padahal yang jelas-jelas mendidik itu kursus mengemudi. Mending nonton orang belajar mobil.

Tambah heboh kalau pemeran utamanya masih di bawah umur. Bisa dibikin petisi oleh warganet untuk dihentikan penayangan sinetronnya. Alasannya jelas, pemerannya belum cukup umur dan belum boleh punya SIM, tapi kenapa sudah memerankan tokoh dewasa yang adegannya kebut-kebutan pakai mobil? Mengendarai mobil di jalan raya saja sudah melanggar hukum, ini sampai balapan, loh.

Bisa ditebak, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pihak televisi untuk mengganti pemerannya.

Alhasil, penulis skenarionya putar otak bagaimana caranya mengganti pemeran di tengah cerita. Akhirnya, dimasukkanlah adegan tokoh utamanya mengalami kecelakaan mobil. Tentu saja gambar mobil jatuh ke jurang dibuat pakai animasi yang terasa kurang nyata. Kobaran apinya pun seperti pakai efek dari TikTok.

Untuk pemulihan akibat kecelakaan, tokoh utamanya menjalani operasi face off di rumah sakit. Dari situlah wajah pemerannya berganti.

Artikel populer: Kejadian di Depan Mata Kita yang Lebih Seram dari The Conjuring

Seandainya saga Fast & Furious adalah sinetron Indonesia, mungkin jumlah episodenya bisa sampai 2.000-an. Sebab ditayangkan setiap hari. Otomatis mencatatkan rekor MURI. Dengan pendapatan yang fantastis, para artis dan krunya bisa naik haji. Atau, sekadar beli klub sepakbola.

Jika episode sinetronnya capai ribuan dan masih kejar tayang, ceritanya bakalan bertele-tele. Tokoh utamanya bisa saja dibuat pensiun dari dunia balap dan beralih profesi sebagai driver taksi online. Dengan gaya khasnya, sebelum berangkat, ia biasa menggenggam tangan penumpangnya dan mengajak berdoa bersama.

Lalu tokoh utamanya kepikiran menabung untuk beli hunian setelah disindir oleh financial planner yang jadi penumpangnya, “Ya kali nggak punya rumah di umur 40-an.”

Saking kehabisan cerita, yang dilombakan bukan lagi mobil balap, melainkan pencapaian hidup.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini