Seandainya Dilan, Rangga, dan Fahri Berada dalam Satu Grup WhatsApp

Seandainya Dilan, Rangga, dan Fahri Berada dalam Satu Grup WhatsApp

(Falcon Pictures, Muvila, MD Pictures)

Dilan seolah-olah menjadi simpul cowok idaman cewek masa kini. Walaupun besar pada tahun 90-an, tampaknya Dilan cukup memikat hati cewek milenial: bad boy dan cuek, tapi sangat peduli dengan satu cewek yang disukai. Alhasil, Rangga AADC dan Fahri AAC harus rela tergantikan oleh Dilan dari daftar tokoh fiksi idaman.

Dilan yang nakal malah jadi lovable. Mungkin karena sebelumnya penonton terheran-heran dengan karakteristik Fahri yang hampir tanpa cacat bak malaikat. Sedangkan Dilan menjadi sosok yang lebih manusiawi dengan salah dan dosanya.

Dilan memang bandel, tapi menjadi sangat baik terhadap pujaan hatinya. Bukankah itu manis? Terlebih, dia juga jago nulis puisi kayak Rangga, tanpa perlu menjadi jutek terhadap perempuan.

Nah, seandainya para karakter cowok idaman dalam industri perfilman Indonesia itu punya grup WhatsApp, mungkin sekarang Dilan sudah di invite dan menjadi anggota baru.

Baca juga: Apakah Dilan 1991 Harus seperti Film Pemenang Oscar untuk Memenangkan Hati Semua Orang?

***

Rangga AADC invite Dilan.

Rangga: “Selamat datang, Dilan.”

Dilan: “Assalaamu’alaikum, Kak Rangga. Makasih udah di-invite.”

Fahri: “Wa’alaikumus salaam. Ahlan wa sahlan, Dilan. Saya away from keyboard dulu ya. Masih ada kelas. Afwan.”

Dilan: “Oh ya, Kak Rangga admin di sini ya?”

Rangga: “Iya, saya admin sejak Mas Boy, Ali Topan, Galih, Si Doel, dan Lupus left grup.”

Dilan: “Bisa invite teman-temanku yang lain, nggak?”

Rangga: “Siapa? Piyan sama Akew? Kalau Anhar, invite jangan?”

Dilan: “Bukan, Kak. Teman-temanku itu Kea, Adi, Eja, dan Tera.”

Rangga: “Siapa mereka?”

Dilan: “Googling aja, Kak.”

Rangga pun membuka browser ponselnya untuk mencari tahu. Setelah tahu siapa nama-nama yang disebut Dilan, Rangga mengambil tindakan cepat.

Rangga remove Dilan.

Rangga: “Apa yang saya lakukan itu salah. Salah invite orang. Yang barusan saya invite ternyata Dilan maskot Partai Keadilan Sejahtera.”

Rangga pun offline karena malu. Demi mengurangi rasa bersalah, Rangga lari ke pantai, kemudian teriak, “Milly informan tidak becus! Kasih nomor WA pacar adiknya saja salah!”

Baca juga: Nggak Langsung Balas Chatting, Kasar Nggak sih?

Malamnya, setelah Aisha tidur, Fahri baru sempat buka grup dan berkomentar melihat histori chat.

Fahri: “Astaghfirullah. Rangga, apa yang kamu lakukan itu jahat.”

Rangga: “Iya, saya tahu saya salah.”

Fahri: “Harusnya kamu tabayyun dulu sebelum invite orang ke grup. Tanya baik-baik apakah dia adalah Dilan betulan atau Dilan-dilanan. Kalau begini, jadinya ada pihak yang terluka. Dilan maskot PKS pasti merasa dicampakkan dan sakit hati. Padahal, sesama manusia, kita harus saling menyayangi, terlepas apa afiliasi partai politiknya.”

Rangga: “Ssst… Fahri, jangan berisik. Mau saya lempar pulpen?”

Fahri: “Jarak antara New York dan Edinburgh itu jauh. Pulpen kamu nggak akan sampai.”

Rangga: “…”

Fahri: “???”

Rangga: “Saya mau invite Dilan lagi. Kali ini pasti bener.”

Rangga invite Dilan.

Rangga: “Selamat datang, Dilan.”

Dilan: “Wah, segan rasanya aku bisa satu grup dengan kakak-kakak semua. Salam kenal. Mohon bimbingannya.”

Fahri: “Bimbing, bimbing. Memangnya manasik haji? Oh ya, bagaimana rasanya digandrungi banyak akhwat?”

Baca juga: Dilan 1991 Pecah Sejak dalam Trailer. Andai Dilan Pacaran dengan Milea pada 2019

Dilan: “Senang, tapi aku hanya akan memilih satu perempuan yang kumau, yaitu Milea. Kalau banyak yang mau sama aku, itu bukan urusanku. Urusanku cuma memastikan Lia bahagia di atas bumi.”

Rangga: “Dilan, apa yang kamu lalukan itu namanya ngeledek. Kamu menyindir Fahri yang beristri lebih dari satu? Baru gabung grup kok sudah bikin kesal!”

Fahri: “Sudah, tidak apa-apa, Rangga. Mungkin maksud Dilan bukan seperti itu. Khusnudzon saja.”

Dilan: “Memang itu maksudku, kok. Cinta itu untuk dinikmati berdua. Kalau bertiga namanya cerdas cermat.”

Rangga: “Cinta bukan untuk dinikmati.”

Dilan: “Bukan Cinta, tapi cinta. Bisa dibedakan, kan?”

Rangga: “Nyolot ya bocah ini! Baru bisa naik motor cowok dan ngisi TTS aja sudah berani kritik lulusan Al-Azhar.”

Fahri: “Sabar, Rangga.”

Dilan: “Nah, gitu dong, marah.”

Fahri: “Rangga, marah itu datangnya dari setan. Ambil wudhu dulu sana.”

Untuk meredam amarah, Rangga lari ke hutan, kemudian berteriak, “Memang sudah benar sebelumnya saya invite Dilan maskot PKS!”

Artikel populer: Jika Keluarga Cemara Disutradarai Ernest Prakasa, Joko Anwar, dan Sineas Lainnya

Sementara di grup, Fahri masih chatting dengan Dilan.

Fahri: “Dilan, kalau kamu dan Milea butuh sesuatu, kamu boleh ambil di minimarket saya cabang Bandung. Gratis. Kapan saja.”

Dilan: “Wah, baik sekali Kak Fahri. Terima kasih, jangan?”

Fahri: “Tidak wajib.”

Dilan: “Ya, karena yang wajib mah bayar zakat dan lapor pajak.”

Fahri: “Saya boleh kasih kamu saran?”

Dilan: “Boleh saja. Asal kalau tidak sesuai, aku nggak ikutin sarannya.”

Fahri: “Masa depan kamu dan Milea ditentukan saat ini. Kamu harus tegas dengan perasaanmu, jika benar-benar sayang dia. Jangan sampai melewatkan cinta sejatimu. Jaga dia dengan janji suci. Kamu mengerti?”

Dilan: “Ashiaap… Tapi, coba aku lihat. Dua pria yang ada di grup ini seperti gambaran masa depan percintaanku kelak. Dari sekarang aku masih bisa memilih ingin seperti apa 10 tahun ke depan. Jika aku tidak memberikan kepastian kepada Milea, aku akan menjadi seperti Kang Rangga: membuat Cinta merasa digantung selama belasan tahun. Jadi, aku harus mengikuti jejak Kak Fahri.”

Fahri: “Betul sekali. Pemahaman yang bagus. Intinya, kalau ketemu yang cocok, langsung nikahi. Kalau masih saja ketemu yang cocok berikutnya, nikah lagi.”

Sebelum Dilan balas, Rangga muncul kembali.

Dilan: “Tapi, aku bisa memilih masa depan berbeda dari kalian: menikahi Milea dan tetap monogami.”

Namun, chat terakhir Dilan tersebut tidak terkirim.

Rangga kick Dilan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.