Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Film Dua Garis Biru (Starvision Plus)

Film Dua Garis Biru adalah kisah asmara antara Bima dan Dara. Keduanya berasal dari status sosial berbeda dan nilai akademik yang tidak setara. Namun, mereka disatukan oleh cinta masa muda yang membara.

Suatu hari, Bima dan Dara memutuskan untuk melakukan hal terlarang. Sampai akhirnya, Dara berbadan dua. Sejak itu, mereka harus menghadapi problem yang tak seharusnya dialami oleh anak seusia mereka.

***

Nah, saya membayangkan, bagaimana seandainya Bima dan Dara adalah anak Twitter kekinian? Ceritanya akan berpusat pada kisah percintaan antara sobat misqueen dan avatar Korea.

Plot ceritanya mungkin bisa dituturkan oleh Dara melalui thread 18+.

Awalnya, gue penasaran ingin ngetes skill make up yang gue pelajari dari beauty vlogger. Maka, gue ngajak dia untuk datang ke rumah. Sebut saja dia Bima.

Gue jadikan Bima sebagai kelinci percobaan untuk dibedaki dan dipoles gincu. Selesai didandani, Bima protes, “Kok hasilnya begini? Warna pipiku jadi biru keunguan kayak memar-memar.”

Terus gue foto aja, lalu gue unggah di Twitter. Tweetnya: “Young Lex ‘digebukin’ fans K-Pop lagi nih.”

Bima merebut hape gue, berusaha menghapus fotonya. Namun, ketika rebutan, Bima berubah pikiran. Ada yang aneh dari rebutan hape berduaan di kamar.

Baca juga: Relasi Dilan dan Milea tentang Penaklukan, Beda dengan Rangga dan Cinta

Sebagai murid dengan nilai Biologi jeblok, Bima melakukan kesalahan. Ditambah gue cuma ahli teori, pas praktek malah ngeblank. Rontok semua hafalan bab reproduksi di kepala gue.

Gue nggak perlu jelasin ya detailnya gimana. Kalian bisa googling tentang proses pembuahan.

Beberapa hari kemudian, gue, Bima, dan temen akrab gue makan kerang di tenda seafood pinggir jalan. Tiba-tiba, gue muntah-muntah dong. Otomatis gue langsung inget dengan apa yang gue perbuat sama Bima.

Gara-gara itu, Bima pesen test pack via ojek online. Deg-degan tuh pas gue dan Bima mau nyoba alat itu.

Emang dasar humornya receh, Bima malah nyobain sendiri test packnya. Bima nangis-nangis ketika lihat hasilnya. Sambil termehek-mehek, Bima nunjukin ke gue. Di test pack itu ditulis sebuah kata pakai spidol: “Miskin”.

“Hasilnya, aku misqueen,” isak Bima. “Dasar aku!”

Ngakak akutu. Saat genting begini, masih sempat-sempatnya guyon.

“Yeee, dimana-mana yang nyobain test pack itu cewek, bukan cowoknya,” protes gue sambil merebut test pack itu untuk segera gue coba.

Hasilnya, positif. Gue hamil, guys. Bukan hamil online lho ya, tapi beneran hamil. Saat itu, gue bener-bener nggak tahu mau gimana. Mau remedial juga nggak bisa kan? Hasilnya bakal tetap sama.

Baca juga: Ini Alasannya Sosok Otis Lebih Dibutuhkan daripada Dilan

Gue mikirin masa depan gue. Ironis banget nggak sih? Guru gue bilang masa depan gue cerah karena gue dapat nilai ujian seratus. Kalau kejadiannya begini, gue jadi ragu sama masa depan gue. Apakah masih secerah yang disangkakan oleh guru gue?

Padahal, gue udah lama merencanakan kuliah di Korea Selatan dan menemui ‘suami-suami’ gue di sana.

Gue pun menyalahkan Bima. “Ini gara-gara kamu suka makan kerang. Kan sudah aku bilang, kerang itu berbahaya.”

“Karena kerang di Jakarta mengandung merkuri?” tebak Bima.

“Bukan. Kalau menurut mitos, seafood bisa membangkitkan libido dan kesuburan,” ucap gue membeberkan hasil googling. Kerang pun jadi kambing hitam.

Gue sempat memutuskan untuk melakukan aborsi. Namun, ketika di depan klinik aborsi, gue berubah pikiran.

Alasannya bakalan gue jelasin besok. Gue pamit ngecatin kuku adek gue dulu ya, guys!

#

Wah, rame banget nih? Nggak ada yang mau mutualan apa?

Oke, lanjut ya.

Gue nggak mau gugurin kandungan. Gue coba jalanin aja, nasi sudah jadi bubur, diaduk lagi (tim bubur diaduk). Kalau memang ada korban selebtwit yang sampai aborsi, ya itu pilihan mereka.

Gue berusaha untuk menutupi perut gue yang semakin hari semakin besar. Namun…

Baca juga: Kebelet Nikah Muda, Buat Apa?

#

Sorry, guys. Baru sempet buka Twitter. Tadi pagi gue sempet kelenger karena kegebok bola basket pas pelajaran penjaskes.

Singkat cerita, guru olahraga gue tahu kalau gue hamil. Nyokap bokap gue dan Bima pun dipanggil oleh pak kepsek ke sekolah. Ributlah kami di ruang UKS.

Setelah debat panjang antara dua keluarga, akhirnya kami dinikahkan. Kami adalah contoh perkawinan antara avatar Korea dan sobat misqueen.

Bukan tanpa alasan gue memanggil Bima sebagai sobat misqueen. Bima memang masih belum mapan. Sebagai seorang calon ayah, dia masih prematur. Ditambah Bima itu anak Twitter banget deh. Udah ngaku miskin, malah ngetwit mulu. Bukannya mikir?

Kalau kata SJW kiri nih, kami adalah borjuis dan proletar yang bersatu di bawah satu atap rumah tangga. Dengan segala hak istimewa yang dimiliki, borjuis bisa mendikte kaum proletar.

Itulah yang dilakukan nyokap dan bokap gue kepada Bima. Contohnya, mengenai masa depan jabang bayi gue. Tanpa minta persetujuan Bima, nyokap gue berencana, ketika si bayi lahir, akan diasuh dan dibesarkan oleh tante dan om gue.

Jadi, setelah itu, gue bisa pergi ke Korea menggenapi jalan ninja gue. Bima pun nggak perlu ngoyo jadi pekerja kelas menengah ibukota setelah lulus SMA demi menafkahi gue dan anak gue.

Artikel populer: Seks & Cinta Romantis: Sebetulnya Terpisah, tapi Pisahnya Nggak Jauh-jauh

Namun, sebagai proletar, Bima adalah pemberontak. Sebab dia masih punya harga diri. Bekal untuk sebuah perjuangan kelas.

Maka, Bima pun menolak rencana itu. Sebab, Bima ingin membesarkan bayinya. Tak selamanya proletar bisa ditindas dan diremehkan. Hanya ada satu kata, lawan!

Suami gue tuh!

Setelah bersalin, gue terbang ke Korea. Benar kata guru gue, masa depan gue cerah. Walaupun sempat ada drama hamidun, gue terselamatkan. Semua itu bukan hanya karena nilai pelajaran gue bagus, tapi karena orangtua gue tajir.

Mungkin ceritanya akan berbeda, jika gue yang berasal dari keluarga miskin, sedangkan Bima datang dari keluarga khayya. Ah, itu sih plot cerita film Love, Rosie.

Gue tetap menyarankan Bima untuk datang kepada om dan tante gue yang belum dikaruniai keturunan dan berniat mengadopsi anak gue. Bukan untuk memberikan bayi, tetapi memberikan kerang.

Karena kerang adalah kunci.

***

Pendidikan seks penting bagi anak muda. Pendidikan seks adalah kunci, bukan sesuatu yang tabu. Daripada percaya mitos?

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.