Ilustrasi perempuan (Image by prettysleepy1 from Pixabay)

Suatu hari, ketika saya dan dua sepupu perempuan berjalan kaki di dalam terminal, seorang tukang ojek dengan percaya diri mengeluarkan kata-kata yang melecehkan. Tanpa pikir panjang, saya langsung menghampiri dan melabraknya.

Dia sempat syok dan terdiam. Mungkin karena dia terbiasa melakukan pelecehan semacam itu dan tidak pernah mendapatkan perlawanan dari korban-korbannya. Orang-orang di sekitar hanya menonton, termasuk dua orang temannya.

Seolah-olah merasa diselamatkan oleh sikap diamnya publik, pelaku bukannya meminta maaf, tapi justru mulai berani mencari pembenaran atas tindakan pelecehan yang dilakukannya.

“Cuma begitu, tidak bisakah?” ujar pelaku.

“Tidak bisa! Anda tidak punya hak melecehkan saya!” jawab saya tegas, yang langsung membuatnya terdiam.

Fenomena kekerasan seksual, mulai dari pelecehan hingga perkosaan, berkembang menjadi suatu kebiasaan dan tak jarang dianggap normal oleh masyarakat yang misoginis-patriarkis. Masyarakat seakan-akan terbiasa mengobjektifikasi tubuh (perempuan) sebagai pemuas berahi, sehingga masih saja ada justifikasi klise yang menyalahkan tubuh dan segala instrumen pendukung penampilan – seperti pakaian, tingkah laku, dan sebagainya.

Selain saya, banyak korban dan penyintas pelecehan seksual lain yang juga melaporkan, bagaimana ekspresi diam orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian masih mendominasi dibandingkan dengan respons aktif untuk menolong korban atau membuat jera si pelaku.

Sekitar seminggu sebelumnya, empat remaja laki-laki usia SMP melakukan catcalling ketika saya melewati mereka menuju kios. Setelah membeli beberapa barang kebutuhan, saya menghampiri sekumpulan anak-anak itu, kemudian bertanya siapa yang melakukan suitan dan meminta anak tersebut untuk meminta maaf sekaligus berjanji tidak lagi melakukan hal serupa pada siapapun.

Baca juga: Panca Azimat Penangkal Pelecehan di Jalan

Jadi, ketika masyarakat lebih banyak diam terkait persoalan ini, kita tak boleh diam. Kita perlu jelaskan bahwa apa yang dilakukan mereka adalah bentuk pelecehan. Tindakan itu mengganggu, bikin orang menjadi tidak nyaman, bahkan bisa menghancurkan kepercayaan diri korbannya.

Fenomena pelecehan seksual ini teregenerasi dan terus direproduksi sebagai bentuk ekspresi maskulinitas. Hampir setiap anak laki-laki dalam masyarakat patriarkis, terus saja mendapat ‘didikan’ secara kultural dari orang dewasa di sekitar mereka untuk melecehkan perempuan atau kelompok rentan dan minoritas lainnya tanpa perasaan bersalah.

Lalu, jutaan anak-anak yang ‘belajar’ menjadi pelaku itu akan kembali mengajarkan hal serupa kepada teman-temannya yang lain atau generasi setelah mereka. Bisa dibayangkan, normalisasi dan legitimasi ekspresi ‘kejantanan’ oleh publik semacam itu menjadi kian mengancam perempuan. Bahkan, itu dilakukan oleh beberapa aktivis mahasiswa yang katanya terdidik.

Belum lama ini, ada sebuah unggahan di media sosial oleh seorang aktivis di Ternate yang bikin geram. Dalam postingan foto tersebut, ia bersama kelima kawan laki-lakinya tengah duduk melingkari sebuah meja di kantin kampus dan tampak sedang berdiskusi. Sebetulnya tak ada yang istimewa dari gambar tersebut, tapi keterangannya benar-benar bikin jijik.

Si pemosting memberikan perbandingan kejahatan antara kasus perkosaan dengan aktivitas gerakan politik yang dipandangnya dapat mengancam disintegrasi negara-bangsa. Menurutnya, perkosaan masih lebih baik dibanding dengan upaya memecah-belah NKRI.

Ketika beberapa teman perempuan memprotes unggahan tersebut dalam kolom komentar, si pemosting tidak berupaya meminta maaf, tapi malah balik menyerang dan memberikan alasan-alasan irasional di balik unggahannya tersebut.

Baca juga: Alerta, Alerta! Para Aktivis Cabul di Sekeliling Kita

Malam sebelumnya, saat menghadiri sebuah diskusi tematik seputar gerakan perempuan, seorang penanya juga memberikan komentar bernada misoginis atas fenomena kekerasan seksual, yang menurutnya sering kali terjadi akibat pakaian yang dikenakan korban.

Dengan menggunakan justifikasi kausalitas sebagaimana yang sudah diasumsikan oleh para pendahulu misoginis lainnya, si penanya merasa benar ketika menyampaikan argumentasi victim blaming-nya itu.

Sayangnya, seorang pembicara menanggapi komentar itu dengan pernyataan yang tak kalah klise dan menggelikan. Menurutnya, kekerasan seksual juga bisa dipicu oleh parfum yang digunakan perempuan.

Sementara itu, semisal di Maluku Utara, hanya dalam tiga bulan (Agustus-Oktober), terdapat 21 kasus kekerasan seksual. Data itu yang terekspos, kemungkinan jumlahnya lebih dari itu, karena tidak terlaporkan atau tidak diliput oleh media.

Kekerasan seksual merupakan fenomena yang paling banyak menyerang tubuh perempuan. Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan tidak segan membunuh korban. Sejauh ini, proses peradilan tidak kemudian mengurangi jumlah tindak kejahatan. Sebab, banyak kasus yang lantas diselesaikan secara ‘kekeluargaan’ dengan mengabaikan beban psikologis korban. Salah satu yang paling irasional adalah menikahkan korban dengan pelaku.

Di tengah langkah afirmasi mendorong pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual hingga hari ini, gerakan melawan kekerasan seksual melalui jalur litigasi senantiasa berbenturan dengan produk hukum kolonial (formil maupun materiil) yang mengabaikan fakta bahwa kekerasan seksual adalah bentuk kejahatan struktural, yang melibatkan pandangan politis terhadap tubuh dan seksualitas (perempuan).

Dalam beberapa kasus, penyidik bahkan menanyakan pakaian yang dikenakan korban. Tentu saja pertanyaan semacam itu dimaksudkan untuk menyerang psikologis korban yang akhirnya merasa bersalah karena dipandang berperan memicu pelaku melakukan aksinya.

Baca juga: Benang Merah Kematian Goo Hara, Sulli, dan Perempuan di Negeri Ini

Paradigma masyarakat dalam budaya patriarki menganggap hasrat seksual (perempuan) sebagai kejahatan, sesuatu yang tabu, dan tidak layak diperbincangkan, karenanya harus dikekang oleh berbagai norma. Seks dan cinta diinstitusikan, sehingga ekspresi kasih sayang dan seksual atas dasar konsen yang dilakukan di luar lembaga perkawinan dianggap sebagai kejahatan, amoral, abnormal, dan dengan cara apapun harus diberangus.

Sementara, perkosaan dalam perkawinan dinegasikan, dianggap tidak pernah ada. Sekalipun ada beberapa perempuan yang harus meregang nyawa setelah disetubuhi secara paksa oleh suaminya. Indoktrinasi spiritual bahwa perempuan harus selalu siap sedia melayani libido sang suami telah mengabaikan otoritas perempuan atas tubuhnya. Hal ini berangkat dari pandangan misoginis bahwa tubuh perempuan merupakan media atau alat untuk memuaskan berahi laki-laki.

Pada umumnya, justifikasi terhadap paradigma semacam ini dengan menggunakan dalil yang bersumber dari nilai-nilai budaya yang tumbuh subur di dalam peradaban masyarakat patriarkis-misoginis.

Dengan alasan mengurangi tindak kejahatan seksual terhadap perempuan, pengaturan atas tubuh perempuan justru yang dikedepankan. Perempuan dipaksa untuk membungkus tubuhnya agar terhindar dari perlakuan bejat pelaku. Anggapan semacam ini justru memicu kebencian terhadap tubuh perempuan oleh masyarakat maupun perempuan itu sendiri.

Selain itu, anggapan ini juga memberi penegasan yang keliru bahwa laki-laki, semua laki-laki, tidak bisa mengendalikan hasrat dan naluri bejatnya. Padahal, tidak semua laki-laki adalah pelaku kekerasan.

Perempuan diperintah menutup seluruh tubuhnya, tapi laki-laki tidak diajarkan untuk bertindak atas dasar konsensus. Perempuan dihakimi setelah diperkosa, sementara tindakan pelaku dianggap sebagai sesuatu yang bebas nilai.

Perempuan ‘dididik’ untuk menjadi pasif dan pasrah sejak kecil, namun anak laki-laki tidak diajarkan untuk tidak memperkosa. Laki-laki diistilahkan sebagai kucing yang tak bisa mengendalikan berahi ketika berhadapan dengan ikan (baca: perempuan). Perempuan tak boleh membicarakan tentang seksualitasnya, tapi laki-laki dapat melecehkan perempuan untuk membuktikan kejantanannya.

Artikel populer: Ngomong Penis dan Vagina Dianggap Tabu, Pendidikan Seks Dipikirnya Urusan Ranjang Melulu

Kekerasan seksual yang ditimpakan akar sebabnya pada perempuan bersumber dari budaya seksisme-misoginisme-patriarkis yang memandang harga diri dan martabat perempuan tidak secara utuh, melainkan hanya melalui potongan-potongan daging yang menempel pada tubuhnya.

Kenyataannya, kekerasan seksual dapat terjadi pada siapa saja, oleh siapa saja, dan di mana saja. Mulai dari bayi usia sembilan bulan hingga nenek 80 tahun; korban dengan pakaian mini sampai yang berhijab; dilakukan oleh orang asing hingga orang terdekat; di ruang publik atau bahkan rumah sendiri.

Semua fakta itu membuktikan bahwa kekerasan seksual terjadi akibat adanya pengungkungan terhadap hasrat seksual dan pengobjektifikasian terhadap tubuh perempuan.

Pengabaian dan sikap apatis publik terhadap fenomena kekerasan seksual semakin menguatkan narasi besar seputar tubuh perempuan yang dipandang sebagai pemicu tindak kekerasan seksual yang dialaminya. Perempuan sebagai korban harus mendapatkan kekerasan berlapis setelah kekerasan seksual yang menimpanya, mulai dari lingkungan sosial, media, hingga lembaga peradilan.

Pembiaran dan normalisasi rape culture seperti ini menjadi ancaman yang tidak bisa dianggap sepele. Selain akal, manusia juga memiliki emosi, afeksi, dan empati untuk bisa menjadi peka terhadap korban dan marah pada kejahatan pelaku.

Perasaan-perasaan semacam itu haruslah dihidupkan kembali. Kita harus berani marah pada kekerasan seksual yang terjadi pada kita atau di sekitar kita. Kita harus belajar mengekspresikan kemarahan itu agar tidak semakin banyak melahirkan pelaku dan korban kekerasan seksual. Kekerasan seksual, termasuk pelecehan, bukanlah sebuah tindakan yang bisa ditoleransi. Kekerasan seksual berdampak traumatik seumur hidup bagi korban.

Dan untuk para pelaku, kalian tak perlu membuktikan apa yang ada di dalam celana kalian dengan menjahati orang lain. Bumi sudah cukup kotor, so pliss jangan lagi menumpuk diri jadi sampah.

3 KOMENTAR

  1. Dan untuk para pelaku, kalian tak perlu membuktikan apa yang ada di dalam celana kalian dengan menjahati orang lain. Bumi sudah cukup kotor, so pliss jangan lagi menumpuk diri jadi sampah.

    (Paling suka paragraf terakhir. Buat saya mereka bukan jantan atau jagoan, tapi pengecut berotak isi sampah, norak kayak gak pernah lihat perempuan!)

  2. Apakah.para pria tsb lahir dr ibu yang perempuan dan di susui oleh ibu nya serta di besarkan oleh ibu.nya? Dan apakah mereka punya saudara.prempuan? Bgmn perasaan mereka kl ibu dan saudara prempuan nya di lecehkan atau di perkosa?

  3. sedikit cerita sya hampir mirip dengan artikel diatas hanya berbeda tempat saja.
    branch manager sy melakukan sexual harrasment kpd saya udh bberapa kali tangannya ringan banget mau sentuh2 bagian perempuan entah itu paha, leher, lengan atas yang mendekati dgn payudara. sampai suatu ketika sy bnr2 sdh tidak tahan dan sy memilih menceritakan kejadian yg sy alami kepada seorang tmn kantor (laki) yang sy percayai karena bbrp kali sy bercerita soal ini kpd tmn kantor yg sesama perempuan, mereka spt tdk peduli dan menganggap bahwa atasan sy ini udh biasa seprti itu.
    akhirnya sy mendapatkan dukungan dari teman kantor (laki2) untuk melaporkan ke regional manager atas perilaku yang dilakukan oleh branch manager saya.
    setelah sy melapor dan mungkin dia sdh mendapatkan teguran maka dia berusaha utk membela dirinya dengan cara menceritakan teguran yang dia terima dari regional manager ke teman2 kantor yang perempuan, alih2 ingin mendapatkan pembelaan dan dukungan dari orang banyak, atas kejadian yg sy alami, banyak bahkan yang sesama perempuan (teman kantor) hanya diam dan tak mau ambil pusing, tidak memberikan sy dukungan malah sy mendapatkan dukungan dari lawan jenis untuk melaporkan hal ini.
    setelah beberapa hari sy melaporkan, semua laki2 yang merasa sering ganjen kpd saya semuanya mendiami saya dan memusuhi saya bahkan ada yang sampe 2 bulan mendiami saya. disitu sy merasa drop, sy pikir sesama perempuan akan mendukung, dan laki2 yang melecehkan akan minta maaf tapi tidak sama skali. saya malah di diami dan dimusuhi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini